Oleh Harmen Batubara
Panggung diplomasi di Oman baru-baru ini bukanlah
meja perundingan biasa yang dipenuhi jabat tangan hangat. Sebaliknya, ini
adalah "diplomasi di bawah todongan senjata."
Amerika Serikat hadir dengan gestur yang sangat intimidatif: membawa Panglima
CENTCOM Brad Cooper ke garis depan diplomasi, memperkuat armada perang di Timur
Tengah, dan secara simultan menjatuhkan sanksi ekonomi baru.
Namun, strategi "tekanan maksimum" ini
menemui tembok tebal. Iran menunjukkan daya tahan psikologis dan strategis yang
mengejutkan, membuat gertakan tersebut seolah kehilangan taringnya.
1. Kebuntuan
Substansi: Nuklir vs Pengaruh Regional
Amerika Serikat berupaya memaksakan paket
kesepakatan komprehensif yang mencakup pembatasan drone, rudal balistik, dan
dukungan terhadap proksi. Sebaliknya, Teheran secara tegas mengunci pembicaraan
hanya pada isu nuklir.
Logika Iran: Melepaskan
isu rudal dan proksi berarti melucuti "asuransi keamanan" mereka
sebelum adanya jaminan keamanan yang nyata.
Logika AS: Perjanjian
nuklir saja dianggap tidak cukup untuk menenangkan sekutu regional (Israel dan
negara Teluk) jika ancaman drone dan rudal tetap eksis.
2. Belajar
dari Perang Juni 2025: Paradoks Teknologi
Efektivitas tekanan militer AS kini dihantui oleh
memori Perang 12 Hari Juni 2025. Secara logis, Iran telah
membuktikan adanya ketimpangan ekonomi dalam peperangan modern:
Asimetri Biaya: Iran
menggunakan drone dan rudal dengan biaya produksi rendah namun dalam jumlah
massal (swarming).
Kelelahan Logistik: Sistem pertahanan mahal seperti Iron Dome dan Patriot terpaksa menguras amunisi yang harganya jauh
melampaui harga target yang dijatuhkan. Hal ini menciptakan dilema ekonomi
militer bagi AS dan Israel di tengah kondisi domestik mereka yang juga sedang
sulit.
3.
Simalakama: Menang Perang, Kalah Kawasan
Secara fisik dan teknologi, AS memang memiliki
kapasitas untuk melumpuhkan infrastruktur Iran atau mengganti rezim Mullah.
Namun, secara riel, tindakan tersebut berisiko memicu efek domino yang tak
terkendali:
Radikalisasi Total: Penghancuran struktur sipil-politik kemungkinan besar akan mengalihkan
kendali penuh ke tangan Garda Revolusi (IRGC)
yang lebih militan.
Perang Semesta Proksi: Timur Tengah bisa berubah menjadi medan perang terbuka di mana
pangkalan-pangkalan AS dan jalur energi global di Selat Hormuz menjadi
target sah. Ini bukan lagi perang antar negara, melainkan kekacauan kawasan
yang akan memukul balik ekonomi dunia.
Kesimpulan:
Realitas yang Pahit
Kenyataan pahit yang dihadapi ketiga aktor (AS,
Israel, dan Iran) adalah bahwa mereka semua sedang merundingkan posisi dari titik lemah. Ekonomi ketiganya sedang berada dalam
kondisi yang tidak ideal.
AS tidak mampu membiayai perang besar baru yang
berkepanjangan; Israel menghadapi tekanan internal dan keamanan yang konstan;
sementara Iran menderita di bawah beban sanksi. Namun, gengsi geopolitik
membuat mereka terjebak dalam permainan "siapa yang berkedip duluan"
(game of chicken).
Pencerahan Logis: Perundingan
di Oman saat ini bukan mencari "siapa yang menang," melainkan
bagaimana cara agar semua pihak bisa "mundur selangkah" tanpa
terlihat kalah di mata rakyatnya sendiri. Tekanan berat AS mungkin terlihat
gagah secara visual, namun tanpa konsesi yang masuk akal, itu hanya akan memicu
kebuntuan yang berbahaya.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar