Sabtu, 28 Februari 2026

Semangatnya Menumbuhkan Industri Dalam Negeri, Tapi Malah Impor Lagi

 


Oleh Harmen Batubra

Di bawah langit khatulistiwa, kita sering mendengar pidato yang membuat dada membusung bangga. Sang Presiden, dengan nada bicara yang penuh keyakinan, berkali-kali menyerukan sebuah mantra sakti: Kemandirian Bangsa. Beliau memanggil kita untuk percaya pada keringat sendiri, pada kecerdasan anak negeri, dan pada mesin-mesin yang dirakit di tanah air. Suara itu adalah harapan, sebuah janji bahwa Indonesia tidak akan lagi menjadi sekadar pasar bagi bangsa lain.

Namun, harapan itu mendadak luruh ketika kenyataan berbicara sebaliknya. Di tengah gegap gempita program "Koperasi Merah Putih" yang seharusnya menjadi motor penggerak ekonomi rakyat, sebuah keputusan besar justru diambil: mengimpor 105.000 unit mobil pick-up dari India. Sebuah angka yang fantastis, sekaligus sebuah ironi yang menyayat hati.


Logika yang Terputus

Ada dua nalar yang sulit diterima oleh akal sehat dalam kebijakan ini.

Pertama, tentang urgensi dan spesifikasi. Keputusan untuk menyeragamkan kendaraan koperasi menggunakan sistem penggerak empat roda atau 4x4 (double gardan) terasa sangat berlebihan. Data menunjukkan bahwa sekitar 75% medan jalan desa di Indonesia sudah cukup mumpuni untuk dilewati oleh kendaraan gardan biasa. Memaksakan spesifikasi 4x4 bukan hanya pemborosan biaya pengadaan, tapi juga beban biaya perawatan bagi koperasi-koperasi kecil di daerah. Ini adalah solusi yang terlihat gagah di atas kertas, namun "diluar nalar" jika dibenturkan dengan realita geografis kita.

Kedua, tentang pengabaian potensi diri. Bangsa ini bukan tidak mampu. Kita memiliki infrastruktur industri otomotif yang sudah teruji. Produk-produk rakitan lokal telah membuktikan kualitasnya, bahkan seringkali melampaui standar produk impor dari negara tetangga. Kita punya mimpi besar tentang "Maung", kendaraan tangguh yang kebanggaannya sudah mulai dirasakan oleh kalangan militer.

Mengapa saat peluang emas itu muncul—peluang untuk memperkuat rantai pasok dalam negeri dan menciptakan ribuan lapangan kerja baru melalui pesanan 105.000 unit—kita justru menoleh ke negara lain?

lihat Videonya 

Antara Pidato dan Implementasi

Hati siapa yang tidak bergetar mendengar seruan mencintai produk dalam negeri? Namun, getaran itu kini berubah menjadi kekecewaan ketika instruksi sang pemimpin seolah menguap saat sampai di meja menteri. Ada jurang yang lebar antara visi besar kemandirian dan kebijakan praktis di lapangan.

Membeli produk luar negeri di saat industri dalam negeri sedang berjuang untuk bangkit adalah sebuah paradoks. Kita seolah sedang membangun rumah sendiri, namun memesan batubata dari tetangga jauh, sementara pengrajin bata di samping rumah kita hanya bisa menonton dengan tangan hampa.

Semangat "Merah Putih" seharusnya bukan sekadar label pada nama program, melainkan jiwa yang tertuang dalam setiap unit kendaraan yang meluncur di jalan-jalan desa. Jika kita sendiri tidak percaya pada kemampuan bangsa, lantas siapa lagi yang akan melakukannya?

Saatnya kita berhenti sekadar berpidato tentang kemandirian, dan mulai membuktikannya melalui keberanian untuk memilih produk karya anak bangsa sendiri.




Selasa, 10 Februari 2026

Perundingan Amerika VS Iran - Berbuah Simalakama

 


Oleh  Harmen Batubara 

Panggung diplomasi di Oman baru-baru ini bukanlah meja perundingan biasa yang dipenuhi jabat tangan hangat. Sebaliknya, ini adalah "diplomasi di bawah todongan senjata." Amerika Serikat hadir dengan gestur yang sangat intimidatif: membawa Panglima CENTCOM Brad Cooper ke garis depan diplomasi, memperkuat armada perang di Timur Tengah, dan secara simultan menjatuhkan sanksi ekonomi baru.

Namun, strategi "tekanan maksimum" ini menemui tembok tebal. Iran menunjukkan daya tahan psikologis dan strategis yang mengejutkan, membuat gertakan tersebut seolah kehilangan taringnya.

1. Kebuntuan Substansi: Nuklir vs Pengaruh Regional

Amerika Serikat berupaya memaksakan paket kesepakatan komprehensif yang mencakup pembatasan drone, rudal balistik, dan dukungan terhadap proksi. Sebaliknya, Teheran secara tegas mengunci pembicaraan hanya pada isu nuklir.

Logika Iran: Melepaskan isu rudal dan proksi berarti melucuti "asuransi keamanan" mereka sebelum adanya jaminan keamanan yang nyata.

Logika AS: Perjanjian nuklir saja dianggap tidak cukup untuk menenangkan sekutu regional (Israel dan negara Teluk) jika ancaman drone dan rudal tetap eksis.

2. Belajar dari Perang Juni 2025: Paradoks Teknologi

Efektivitas tekanan militer AS kini dihantui oleh memori Perang 12 Hari Juni 2025. Secara logis, Iran telah membuktikan adanya ketimpangan ekonomi dalam peperangan modern:

Asimetri Biaya: Iran menggunakan drone dan rudal dengan biaya produksi rendah namun dalam jumlah massal (swarming).

Kelelahan Logistik: Sistem pertahanan mahal seperti Iron Dome dan Patriot terpaksa menguras amunisi yang harganya jauh melampaui harga target yang dijatuhkan. Hal ini menciptakan dilema ekonomi militer bagi AS dan Israel di tengah kondisi domestik mereka yang juga sedang sulit.


3. Simalakama: Menang Perang, Kalah Kawasan

Secara fisik dan teknologi, AS memang memiliki kapasitas untuk melumpuhkan infrastruktur Iran atau mengganti rezim Mullah. Namun, secara riel, tindakan tersebut berisiko memicu efek domino yang tak terkendali:

Radikalisasi Total: Penghancuran struktur sipil-politik kemungkinan besar akan mengalihkan kendali penuh ke tangan Garda Revolusi (IRGC) yang lebih militan.

Perang Semesta Proksi: Timur Tengah bisa berubah menjadi medan perang terbuka di mana pangkalan-pangkalan AS dan jalur energi global di Selat Hormuz menjadi target sah. Ini bukan lagi perang antar negara, melainkan kekacauan kawasan yang akan memukul balik ekonomi dunia.

 

Kesimpulan: Realitas yang Pahit

Kenyataan pahit yang dihadapi ketiga aktor (AS, Israel, dan Iran) adalah bahwa mereka semua sedang merundingkan posisi dari titik lemah. Ekonomi ketiganya sedang berada dalam kondisi yang tidak ideal.

AS tidak mampu membiayai perang besar baru yang berkepanjangan; Israel menghadapi tekanan internal dan keamanan yang konstan; sementara Iran menderita di bawah beban sanksi. Namun, gengsi geopolitik membuat mereka terjebak dalam permainan "siapa yang berkedip duluan" (game of chicken).

Pencerahan Logis: Perundingan di Oman saat ini bukan mencari "siapa yang menang," melainkan bagaimana cara agar semua pihak bisa "mundur selangkah" tanpa terlihat kalah di mata rakyatnya sendiri. Tekanan berat AS mungkin terlihat gagah secara visual, namun tanpa konsesi yang masuk akal, itu hanya akan memicu kebuntuan yang berbahaya.