Oleh Harmen Batubara
Di tengah gemuruh ombak Laut
Karimata, di antara dua negara yang saling mengintip seperti sahabat karib,
Batam bangkit sebagai surga belanja yang tak tertandingi. Sebagai seorang
pengamat kehidupan di perbatasan, saya sering melihat bagaimana desain kota ini—yang
dibuat khusus untuk menarik warga Singapura dan Malaysia—menjadikan setiap hari
seperti festival perdagangan abadi.
Free Trade Zone-nya bukan sekadar zona ekonomi, tapi pintu gerbang kemewahan yang memancarkan diskon gila-gilaan pada elektronik mutakhir, busana trendi, kosmetik premium, bahkan paket wisata eksotis bagi para "sultan" dari negeri tetangga. Uang mereka, dengan mata uang kuatnya, sungguh menjadi raja di tanah air kita, menciptakan aliran dolar yang mengalir deras menuju pasar lokal.
Namun, di balik kilauan promo
itu, ada nilai-nilai manusiawi yang lebih dalam. Di Batam, apapun barang atau
layanan yang ditawarkan, selalu disertai senyuman ikhlas dan layanan prima yang
membuat tamu merasa seperti keluarga. Sensasi persahabatan ini merebak di
setiap sudut—dari pedagang yang ramah menyapa pembeli asing hingga komunitas
lokal yang saling mendukung.
Saya ingat suatu pagi di pusat perbelanjaan, di mana seorang ibu muda dari Singapura tersenyum lebar saat anaknya memilih mainan murah, sementara penjual Batam menjelaskan detail dengan sabar, menciptakan ikatan tulus yang melebihi transaksi semata. Ini adalah peluang besar bagi kita semua: membangun hubungan lintas batas yang harmonis, di mana bisnis bertemu kedekatan emosional.
Pemda Perlu Memelihara Keseimbangan
Tentu saja, tantangan datang
juga. Kenaikan harga akibat lonjakan kunjungan wisatawan bisa mengganggu warga
lokal, tapi saya yakin pemerintah daerah telah mengantisipasi hal itu dengan
kebijakan adil yang menjaga keseimbangan. Mereka tidak ingin Batam hanya
menjadi tempat untung cepat, melainkan rumah yang inklusif bagi semua.
Harapan kami pun mulai terwujud: bukan hanya mal-mal megah yang menjulang tinggi, tapi juga trotoar nyaman untuk berjalan-jalan santai, serta transportasi terintegrasi yang menghubungkan pulau-pulau dengan mudah. Digitalisasi pelayanan kini mempercepat segala proses, dari birokrasi administratif hingga transaksi online, sehingga wisatawan—seperti duta-duta Indonesia—membawa nama baik bangsa ke panggung dunia.
Pada akhirnya, Batam bukan
sekadar wilayah perbatasan; ia adalah wajah kita yang modern dan bersahabat.
Mari kita jadikan simbol peradaban baru, di mana peluang belanja bertemu
persahabatan autentik, menciptakan masa depan yang produktif dan damai. Seperti
kata bijak tentang nasib dan kesempatan, "Takdirmu, Wujudkan
Peluangmu"—di Batam, peluang itu sedang digenggam erat oleh tangan-tangan
yang saling percaya.





