Sabtu, 10 Januari 2026

Iran Kini Kembali Mencari Jalannya Sendiri

 


Oleh   Harmen Batubara 

Setiap bangsa memiliki hak untuk bermimpi, untuk merumuskan masa depannya di atas fondasi identitas dan nilai-nilai yang mereka yakini. Namun, sejarah panjang peradaban manusia telah mengajarkan satu pelajaran pahit namun penting: sebuah ideologi atau sistem budaya, betapapun agungnya dalam retorika, haruslah bersifat realistik agar mampu membawa kemakmuran nyata. Tanpa berpijak pada realitas global, sebuah visi besar berisiko menjadi isolasi yang menyesakkan.

Ilusi Perubahan: Dari Shah menuju Revolusi

Perjalanan ini bermula pada tahun 1979. Ketika itu, dunia menyaksikan keruntuhan kekuasaan Shah Mohammad Reza Pahlavi. Rakyat Iran, yang mendambakan perubahan dan keadilan sosial, menaruh harapan besar pada pundak Ayatollah Khomeini. Revolusi Islam Iran menjanjikan kesejahteraan yang berakar pada kedaulatan moral dan agama.


Namun, sejarah mencatat bahwa transisi tersebut tidak serta-merta menghadirkan madu kemakmuran. Visi tentang "Iran Islam yang murni" justru membawa konsekuensi berat bagi masyarakatnya. Sebagian besar rakyat harus menghadapi:

Penurunan kebebasan pribadi yang drastis.

Pembatasan sosial yang ketat dalam ruang publik.

Represi politik yang dilakukan demi menjaga kemurnian visi revolusi.

Alih-alih menjadi model pemerintahan rakyat yang inklusif, sistem ini cenderung menutup diri, mengutamakan ideologi di atas hak-hak individu.

Kebuntuan yang Berlanjut

Estafet kepemimpinan kemudian beralih ke tangan Ayatollah Khamenei, namun arah kompas tetap tak berubah. Iran di bawah kepemimpinan ini tetap bersikeras memproklamirkan peradaban sesuai mimpinya sendiri—sebuah peradaban yang berdiri kontras, bahkan sering kali frontal, terhadap tatanan dunia internasional.

Akibatnya, benturan pun tak terelakkan. Iran seolah menarik diri dari arus besar peradaban dunia. Sikap konfrontatif ini memicu reaksi keras dari komunitas internasional, yang berujung pada sanksi ekonomi berlapis. Sanksi ini bukanlah sekadar angka di atas kertas; ia adalah beban hidup bagi rakyat jelata, menyebabkan inflasi yang melambung, kelangkaan akses teknologi, dan isolasi finansial yang melumpuhkan sendi-sendi ekonomi negara.

Realitas Peradaban, Tidak Bisa Berjalan Sendiri

Pelajaran dari Iran menunjukkan bahwa di era modern ini, mustahil membawa peradaban baru yang menghasilkan kesejahteraan jika dilakukan secara frontal dan terisolasi. Dunia saat ini adalah jejaring yang saling terhubung. Kesejahteraan suatu bangsa tidak lagi hanya ditentukan oleh apa yang ada di dalam batas negaranya, tetapi oleh sejauh mana bangsa tersebut mampu bekerja sama dalam harmoni peradaban global.

Mengejar mimpi tanpa mempertimbangkan kerja sama internasional yang benar hanyalah akan menghasilkan ketegangan yang abadi. Ideologi yang kaku sering kali menjadi tembok penghalang bagi inovasi dan kemajuan yang seharusnya menjadi hak rakyat.

Jalan Keluar - Menuju Realisme Baru

Agar Iran dapat kembali menemukan jalannya dan membawa kemakmuran yang sesungguhnya bagi rakyatnya, diperlukan sebuah pergeseran paradigma:

Rekonsiliasi dengan Realitas Global: Iran perlu menyadari bahwa menjadi bagian dari peradaban dunia tidak berarti kehilangan identitas. Kerja sama ekonomi dan diplomasi yang terbuka adalah kunci untuk mengangkat sanksi yang selama ini mencekik.

Keseimbangan antara Nilai dan Kebutuhan: Pemerintah harus mulai memprioritaskan kebutuhan pragmatis rakyat—seperti lapangan kerja, kebebasan berekspresi, dan stabilitas ekonomi—di atas ambisi ideologis yang kaku.

Modernisasi yang Inklusif: Membuka ruang bagi partisipasi publik dan memberikan perlindungan terhadap hak-hak sipil akan menciptakan stabilitas internal yang jauh lebih kuat daripada represi.

Iran adalah bangsa dengan sejarah intelektual dan kebudayaan yang luar biasa besar. Untuk kembali bersinar, Iran tidak perlu menanggalkan jati dirinya, namun ia harus berani berjalan berdampingan dengan dunia. Hanya dengan kerja sama yang benar dan sikap yang realistik, sebuah bangsa dapat mengubah mimpi menjadi kemakmuran yang dapat dirasakan oleh setiap warganya.



 

 


Tidak ada komentar: