Rabu, 01 Juli 2026

Perang Amerika VS Iran dan Biaya Tol Selat Hormuz

 


Oleh Harmen Batubara 

Selama ini dunia menutup mata. Kita semua menikmati kelancaran arus perdagangan global lewat selat-selat alami, tanpa pernah mau tahu seberapa besar energi dan biaya yang dikeluarkan oleh negara-negara di sekitarnya demi menjaga keamanan jalur tersebut. Ketidakadilan global inilah yang kini membayangi Selat Hormuz dan Selat Malaka.

1. Ilusi Perang dan Penguasaan Geopolitik

Di atas kertas, perang antara Amerika Serikat dan Iran kerap dibungkus dengan narasi "Denuklirisasi". Namun, dunia melihat tabir yang sebenarnya: ini adalah perang demi penguasaan jalur minyak dan eksistensi sistem Petro-Dollar. Sesuai dengan Konstitusi AS sendiri, agresi militer sepihak seperti ini sebenarnya adalah perang yang ilegal.

Ketika Amerika dan Israel memutuskan menyerang puluhan ribu titik strategis di Iran hingga membunuh pimpinan tertingginya, Iran tidak tinggal diam. Perlawanan sengit dan serangan balik dari Iran terbukti mampu melumpuhkan kekuatan militer AS dan sekutunya di kawasan Teluk.


2. Realitas Baru: Selat Hormuz di Tangan Iran

Lumpuhnya kekuatan sekutu memaksa lahirnya negosiasi baru. Amerika akhirnya bersedia mencairkan dana Iran yang dibekukan, menegosiasikan ganti rugi perang, dan mengakui otoritas penuh Iran atas Selat Hormuz.

Bagi Iran, otoritas ini membawa konsekuensi logis: pemberlakuan biaya tol (tarif lintas). Dana yang masuk dari tarif ini akan digunakan sebagai sumber penghasilan mutlak untuk membangun kembali infrastruktur negara yang hancur lebur akibat perang.

3. Benturan Aturan Internasional (UNCLOS '82)

Secara hukum internasional, UNCLOS 1982 memang melarang pengenaan tarif tol di selat yang digunakan untuk pelayaran internasional. Namun, narasi ini memicu pertanyaan kritis:

Siapa yang mau bertanggung jawab atas biaya keamanan jika selat itu dibiarkan tanpa pengelolaan yang adil?

Terlebih lagi, Amerika Serikat sendiri secara historis tidak pernah meratifikasi UNCLOS 1982, dan dalam realitas pasca-perang ini, mereka telah setuju Iran yang mengelola penuh Selat Hormuz.

Poin Penting yang Perlu Diperhatikan Dunia

"Dunia menikmati hasil secara gratis, sementara negara pesisir memikul beban keamanan sendirian."

Kondisi di Selat Hormuz adalah cerminan dari apa yang terjadi di Selat Malaka. Selama ini, keamanan Selat Malaka dijaga oleh Indonesia, Malaysia, dan Singapura tanpa memungut biaya sepeser pun dari kapal-kapal asing yang lewat.

Namun, mari kita lihat distribusinya secara logis:

Malaysia dan Singapura mendapatkan keuntungan ekonomi yang sangat besar karena sukses menjadi hub bisnis, pelabuhan, dan sistem logistik yang didukung Amerika serta Inggris.

Indonesia? Kita hampir tidak mendapatkan apa-apa secara langsung dari lintasan kapal tersebut. Kita justru terkesan hanya menjadi "petugas pengaman gratisan" yang menanggung risiko pencemaran laut dan ancaman keamanan di wilayah sendiri.

Kita Ingin Mengatakan

Langkah Iran di Selat Hormuz adalah sebuah titik balik. Iran kini menunjukkan kepada dunia bahwa pengelolaan, penertiban, dan pembiayaan jalur laut strategis sudah saatnya dirombak. Dunia tidak bisa lagi menuntut "keamanan gratis" di atas kedaulatan dan pengorbanan negara-negara pesisir.