Oleh Harmen Batubara
Selama ini dunia menutup mata. Kita semua menikmati
kelancaran arus perdagangan global lewat selat-selat alami, tanpa pernah mau
tahu seberapa besar energi dan biaya yang dikeluarkan oleh negara-negara di
sekitarnya demi menjaga keamanan jalur tersebut. Ketidakadilan global inilah
yang kini membayangi Selat Hormuz dan Selat Malaka.
1. Ilusi
Perang dan Penguasaan Geopolitik
Di atas kertas, perang antara Amerika Serikat dan
Iran kerap dibungkus dengan narasi "Denuklirisasi". Namun, dunia
melihat tabir yang sebenarnya: ini adalah perang demi penguasaan jalur minyak
dan eksistensi sistem Petro-Dollar. Sesuai dengan
Konstitusi AS sendiri, agresi militer sepihak seperti ini sebenarnya adalah
perang yang ilegal.
Ketika Amerika dan Israel memutuskan menyerang puluhan
ribu titik strategis di Iran hingga membunuh pimpinan tertingginya, Iran tidak
tinggal diam. Perlawanan sengit dan serangan balik dari Iran terbukti mampu
melumpuhkan kekuatan militer AS dan sekutunya di kawasan Teluk.
2. Realitas Baru: Selat Hormuz di Tangan Iran
Lumpuhnya kekuatan sekutu memaksa lahirnya
negosiasi baru. Amerika akhirnya bersedia mencairkan dana Iran yang dibekukan,
menegosiasikan ganti rugi perang, dan mengakui otoritas penuh Iran atas Selat
Hormuz.
Bagi Iran, otoritas ini membawa konsekuensi logis: pemberlakuan biaya tol (tarif lintas). Dana yang masuk
dari tarif ini akan digunakan sebagai sumber penghasilan mutlak untuk membangun
kembali infrastruktur negara yang hancur lebur akibat perang.
3. Benturan
Aturan Internasional (UNCLOS '82)
Secara hukum internasional, UNCLOS 1982 memang
melarang pengenaan tarif tol di selat yang digunakan untuk pelayaran
internasional. Namun, narasi ini memicu pertanyaan kritis:
Siapa yang mau bertanggung jawab atas biaya
keamanan jika selat itu dibiarkan tanpa pengelolaan yang adil?
Terlebih lagi, Amerika Serikat sendiri secara historis
tidak pernah meratifikasi UNCLOS 1982, dan dalam
realitas pasca-perang ini, mereka telah setuju Iran yang mengelola penuh Selat
Hormuz.
Poin Penting
yang Perlu Diperhatikan Dunia
"Dunia menikmati hasil secara gratis,
sementara negara pesisir memikul beban keamanan sendirian."
Kondisi di Selat Hormuz adalah cerminan dari apa
yang terjadi di Selat Malaka. Selama ini, keamanan
Selat Malaka dijaga oleh Indonesia, Malaysia, dan Singapura tanpa memungut
biaya sepeser pun dari kapal-kapal asing yang lewat.
Namun, mari kita lihat distribusinya secara logis:
Malaysia dan Singapura mendapatkan keuntungan ekonomi yang sangat besar karena sukses menjadi hub bisnis, pelabuhan, dan sistem logistik yang
didukung Amerika serta Inggris.
Indonesia? Kita hampir
tidak mendapatkan apa-apa secara langsung dari lintasan kapal tersebut. Kita
justru terkesan hanya menjadi "petugas pengaman gratisan" yang
menanggung risiko pencemaran laut dan ancaman keamanan di wilayah sendiri.
Kita Ingin
Mengatakan
Langkah Iran di Selat Hormuz adalah sebuah titik
balik. Iran kini menunjukkan kepada dunia bahwa pengelolaan, penertiban, dan
pembiayaan jalur laut strategis sudah saatnya dirombak. Dunia tidak bisa lagi
menuntut "keamanan gratis" di atas kedaulatan dan pengorbanan
negara-negara pesisir.


