Oleh Harmen Batubra
Di bawah langit khatulistiwa, kita sering mendengar
pidato yang membuat dada membusung bangga. Sang Presiden, dengan nada bicara
yang penuh keyakinan, berkali-kali menyerukan sebuah mantra sakti: Kemandirian Bangsa. Beliau memanggil kita untuk percaya
pada keringat sendiri, pada kecerdasan anak negeri, dan pada mesin-mesin yang
dirakit di tanah air. Suara itu adalah harapan, sebuah janji bahwa Indonesia
tidak akan lagi menjadi sekadar pasar bagi bangsa lain.
Namun, harapan itu mendadak luruh ketika kenyataan
berbicara sebaliknya. Di tengah gegap gempita program "Koperasi Merah Putih" yang seharusnya
menjadi motor penggerak ekonomi rakyat, sebuah keputusan besar justru diambil:
mengimpor 105.000 unit mobil pick-up dari India.
Sebuah angka yang fantastis, sekaligus sebuah ironi yang menyayat hati.
Logika yang
Terputus
Ada dua nalar yang sulit diterima oleh akal sehat
dalam kebijakan ini.
Pertama, tentang urgensi dan spesifikasi. Keputusan untuk menyeragamkan kendaraan koperasi menggunakan sistem
penggerak empat roda atau 4x4 (double gardan)
terasa sangat berlebihan. Data menunjukkan bahwa sekitar 75% medan jalan desa
di Indonesia sudah cukup mumpuni untuk dilewati oleh kendaraan gardan biasa.
Memaksakan spesifikasi 4x4 bukan hanya pemborosan biaya pengadaan, tapi juga
beban biaya perawatan bagi koperasi-koperasi kecil di daerah. Ini adalah solusi
yang terlihat gagah di atas kertas, namun "diluar nalar" jika
dibenturkan dengan realita geografis kita.
Kedua, tentang pengabaian potensi diri. Bangsa ini bukan tidak mampu. Kita memiliki infrastruktur industri
otomotif yang sudah teruji. Produk-produk rakitan lokal telah membuktikan
kualitasnya, bahkan seringkali melampaui standar produk impor dari negara
tetangga. Kita punya mimpi besar tentang "Maung",
kendaraan tangguh yang kebanggaannya sudah mulai dirasakan oleh kalangan
militer.
Mengapa saat peluang emas itu muncul—peluang untuk
memperkuat rantai pasok dalam negeri dan menciptakan ribuan lapangan kerja baru
melalui pesanan 105.000 unit—kita justru menoleh ke negara lain?
Antara Pidato
dan Implementasi
Hati siapa yang tidak bergetar mendengar seruan
mencintai produk dalam negeri? Namun, getaran itu kini berubah menjadi
kekecewaan ketika instruksi sang pemimpin seolah menguap saat sampai di meja
menteri. Ada jurang yang lebar antara visi besar kemandirian dan kebijakan
praktis di lapangan.
Membeli produk luar negeri di saat industri dalam
negeri sedang berjuang untuk bangkit adalah sebuah paradoks. Kita seolah sedang
membangun rumah sendiri, namun memesan batubata dari tetangga jauh, sementara
pengrajin bata di samping rumah kita hanya bisa menonton dengan tangan hampa.
Semangat "Merah Putih" seharusnya bukan
sekadar label pada nama program, melainkan jiwa yang tertuang dalam setiap unit
kendaraan yang meluncur di jalan-jalan desa. Jika kita sendiri tidak percaya
pada kemampuan bangsa, lantas siapa lagi yang akan melakukannya?
Saatnya kita berhenti sekadar berpidato tentang
kemandirian, dan mulai membuktikannya melalui keberanian untuk memilih produk
karya anak bangsa sendiri.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar