Rabu, 04 Februari 2026

Membaca Sepak Terjang Amerika: Kepemimpinan Ala Debt Collector Trump?

 


Oleh Harmen Batubara

Bayangkan Amerika Serikat sebagai sebuah perusahaan raksasa yang selama puluhan tahun merasa terlalu banyak "beramal" dan "menjaga lingkungan tetangga," sementara kondisi dapurnya sendiri berantakan. Donald Trump datang bukan sebagai politisi tradisional, melainkan sebagai seorang "Debt Collector" atau penagih utang sekaligus CEO yang sedang melakukan pemangkasan biaya besar-besaran (cost-cutting).

Narasi Sederhana-Logika Seorang Saudagar

Bagi orang awam, melihat Trump mungkin terasa membingungkan karena tindakannya yang meledak-ledak. Namun, jika kita menggunakan kacamata "Kepentingan Transaksional," semuanya jadi masuk akal:

Imigrasi: Baginya, imigran adalah "beban biaya" yang merusak upah buruh lokal.

Perang Tarif: Ini adalah cara dia menggertak negara lain (seperti Tiongkok dan Uni Eropa) agar mau membeli lebih banyak produk Amerika.

Shutdown & Bencana: Dia menggunakan anggaran sebagai alat negosiasi. Jika kemauannya tidak dituruti, dia lebih memilih menghentikan operasional "perusahaan" (negara) daripada berkompromi.

 


Pencerahan: Apa yang Terjadi di Balik Fakta?

Di balik setiap cuitan dan kebijakan kontroversialnya, ada pergeseran ideologi yang sangat dalam dari Internasionalisme (Amerika sebagai polisi dunia) menuju Nativisme/Realisme Brutal (Amerika untuk orang Amerika saja).

1. Ekonomi: Menghancurkan Meja untuk Membuat Aturan Baru

Trump tidak percaya pada perdagangan bebas yang "adil" menurut buku teks. Melalui Perang Tarif, dia sebenarnya sedang melakukan Diplomasi Koersif. Dia sengaja menciptakan kekacauan ekonomi global agar negara lain merasa tidak nyaman, sehingga mereka terpaksa datang ke Washington untuk meminta damai dengan syarat yang menguntungkan Amerika.

2. Politik Luar Negeri: Dari "Aliansi" ke "Langganan"

Keterlibatannya di titik panas seperti Ukraina, Gaza, hingga ketegangan dengan Iran dan Venezuela, menunjukkan satu pola: Trump tidak suka komitmen jangka panjang yang mahal. * Di Ukraina, dia mempertanyakan mengapa AS harus membayar keamanan Eropa.

Di Gaza dan Iran, dia cenderung menggunakan kekuatan untuk menekan lawan agar tunduk pada kesepakatan baru yang bersifat bisnis (deal-making), bukan atas dasar nilai-nilai demokrasi semata.

3. Institusi Internasional- Mengabaikan Norma demi Kedaulatan

Trump melihat PBB, NATO, atau Perjanjian Iklim sebagai "tali" yang mengikat tangan Amerika. Dengan mengabaikan norma konvensional, dia ingin membuktikan bahwa Amerika terlalu kuat untuk diatur oleh aturan buatan bersama. Ia ingin mengubah dunia dari sistem multilateral (banyak negara setara) menjadi sistem unilateral (Amerika sebagai pusat gravitasi tunggal).

Bagaimana Dunia Menghadapi Semua Ini?

Dunia saat ini sedang berada dalam mode "Survival & Adaptation." Para pemimpin dunia tidak lagi hanya mengandalkan diplomasi di atas kertas, melainkan melakukan beberapa strategi:

Flattery Diplomacy (Diplomasi Pujian): Banyak pemimpin dunia kini berusaha mendekati Trump secara personal, memberikan "panggung" dan pujian agar kepentingannya tidak diganggu.

Self-Help (Mandiri): Negara-negara Eropa dan Asia mulai memperkuat militer dan ekonomi mereka sendiri karena mereka sadar Amerika di bawah Trump tidak lagi bisa dianggap sebagai "kakak pembela" yang selalu ada.

Hedging (Mencari Alternatif): Dunia mulai melirik kutub kekuatan lain seperti Tiongkok atau penguatan blok regional agar tidak terlalu bergantung pada dollar dan kebijakan AS yang tidak terduga.

Intinya: Trump ingin mengembalikan Amerika ke era di mana kekuatan murni (ekonomi dan militer) berbicara lebih keras daripada etika internasional. Ia ingin dunia tahu bahwa Amerika tidak lagi memberikan "makan siang gratis."



 


Tidak ada komentar: