Oleh Harmen Batubara
Bayangkan Amerika Serikat sebagai sebuah perusahaan
raksasa yang selama puluhan tahun merasa terlalu banyak "beramal" dan
"menjaga lingkungan tetangga," sementara kondisi dapurnya sendiri
berantakan. Donald Trump datang bukan sebagai politisi tradisional, melainkan
sebagai seorang "Debt Collector" atau
penagih utang sekaligus CEO yang sedang melakukan pemangkasan biaya besar-besaran
(cost-cutting).
Narasi
Sederhana-Logika Seorang Saudagar
Bagi orang awam, melihat Trump mungkin terasa
membingungkan karena tindakannya yang meledak-ledak. Namun, jika kita
menggunakan kacamata "Kepentingan Transaksional,"
semuanya jadi masuk akal:
Imigrasi: Baginya,
imigran adalah "beban biaya" yang merusak upah buruh lokal.
Perang Tarif: Ini adalah
cara dia menggertak negara lain (seperti Tiongkok dan Uni Eropa) agar mau
membeli lebih banyak produk Amerika.
Shutdown & Bencana: Dia menggunakan anggaran sebagai alat negosiasi. Jika kemauannya tidak
dituruti, dia lebih memilih menghentikan operasional "perusahaan"
(negara) daripada berkompromi.
Pencerahan:
Apa yang Terjadi di Balik Fakta?
Di balik setiap cuitan dan kebijakan
kontroversialnya, ada pergeseran ideologi yang sangat dalam dari Internasionalisme (Amerika sebagai polisi dunia) menuju
Nativisme/Realisme Brutal (Amerika untuk orang Amerika
saja).
1. Ekonomi:
Menghancurkan Meja untuk Membuat Aturan Baru
Trump tidak percaya pada perdagangan bebas yang
"adil" menurut buku teks. Melalui Perang Tarif, dia
sebenarnya sedang melakukan Diplomasi Koersif.
Dia sengaja menciptakan kekacauan ekonomi global agar negara lain merasa tidak
nyaman, sehingga mereka terpaksa datang ke Washington untuk meminta damai
dengan syarat yang menguntungkan Amerika.
2. Politik
Luar Negeri: Dari "Aliansi" ke "Langganan"
Keterlibatannya di titik panas seperti Ukraina,
Gaza, hingga ketegangan dengan Iran dan Venezuela, menunjukkan satu pola: Trump tidak suka komitmen jangka panjang yang mahal. *
Di Ukraina, dia mempertanyakan mengapa AS harus membayar keamanan
Eropa.
Di Gaza dan Iran, dia
cenderung menggunakan kekuatan untuk menekan lawan agar tunduk pada kesepakatan
baru yang bersifat bisnis (deal-making), bukan
atas dasar nilai-nilai demokrasi semata.
3. Institusi
Internasional- Mengabaikan Norma demi Kedaulatan
Trump melihat PBB, NATO, atau Perjanjian Iklim
sebagai "tali" yang mengikat tangan Amerika. Dengan mengabaikan norma
konvensional, dia ingin membuktikan bahwa Amerika terlalu kuat untuk diatur
oleh aturan buatan bersama. Ia ingin mengubah dunia dari sistem multilateral
(banyak negara setara) menjadi sistem unilateral (Amerika
sebagai pusat gravitasi tunggal).
Bagaimana
Dunia Menghadapi Semua Ini?
Dunia saat ini sedang berada dalam mode "Survival & Adaptation." Para pemimpin
dunia tidak lagi hanya mengandalkan diplomasi di atas kertas, melainkan
melakukan beberapa strategi:
Flattery Diplomacy (Diplomasi Pujian): Banyak pemimpin dunia kini berusaha mendekati Trump secara personal,
memberikan "panggung" dan pujian agar kepentingannya tidak diganggu.
Self-Help (Mandiri): Negara-negara Eropa dan Asia mulai memperkuat militer dan ekonomi
mereka sendiri karena mereka sadar Amerika di bawah Trump tidak lagi bisa
dianggap sebagai "kakak pembela" yang selalu ada.
Hedging (Mencari Alternatif): Dunia mulai melirik kutub kekuatan lain seperti Tiongkok atau penguatan
blok regional agar tidak terlalu bergantung pada dollar dan kebijakan AS yang
tidak terduga.
Intinya: Trump ingin
mengembalikan Amerika ke era di mana kekuatan murni (ekonomi dan militer)
berbicara lebih keras daripada etika internasional. Ia ingin dunia tahu bahwa
Amerika tidak lagi memberikan "makan siang gratis."



Tidak ada komentar:
Posting Komentar