Oleh Harmen Batubara
Bayangkan
sebuah bidak catur yang jika digerakkan secara gegabah, akan meruntuhkan
seluruh papan permainannya. Itulah gambaran serangan langsung Amerika Serikat
ke Iran. Fokus utama narasi ini adalah "Nuclear Breakout"—ambang
batas di mana Iran benar-benar memiliki hulu ledak nuklir, yang bagi Israel dan
AS adalah garis merah yang tidak boleh dilewati.
1. Perang Tanpa Garis Depan (Drone & Rudal)
Jika serangan
terjadi, kita tidak akan melihat invasi darat ala Perang Irak 2003. Iran telah
belajar. Mereka memiliki "A2/AD"
(Anti-Access/Area Denial) yang tangguh.
Hujan Presisi: Pangkalan militer AS di Qatar, Bahrain, dan UEA
berada dalam jangkauan rudal balistik dan drone bunuh diri Iran (seperti
Shahed).
Perang
Asimetris: Iran tidak perlu
menenggelamkan kapal induk AS; mereka cukup melumpuhkan sistem radar dan
logistik dengan ribuan drone murah namun mematikan.
2. Efek Domino: Proksi dan "Arab Spring" Baru
Kekuatan Iran bukan hanya
pada militernya, tapi pada loyalitas jaringan proksinya (Hezbollah, Hamas,
Houthi).
Multi-Front
War: Israel akan menghadapi tekanan dari Lebanon, Gaza,
dan Suriah secara bersamaan.
Ketidakstabilan
Domestik: Serangan AS dapat memicu
sentimen anti-Barat yang masif di negara-negara kerajaan Arab sekutu Amerika.
Rakyat mungkin melihat pemimpin mereka membiarkan wilayahnya jadi basis
serangan terhadap sesama negara Muslim, yang berpotensi memicu gelombang
tuntutan perubahan dinasti atau "Arab Spring 2.0".
3. Kiamat Ekonomi: Selat Hormuz
Inilah "tombol
nuklir" ekonomi Iran. Jika Selat Hormuz ditutup, pasokan minyak dunia akan
tercekik seketika.
Harga energi global akan
melonjak ke angka yang tak terbayangkan.
Resesi global akan
menyusul, memicu krisis politik bahkan di negara-negara yang tidak terlibat
konflik secara langsung.
Pencerahan Menuju Solusi: Jalan Keluar dari Lingkaran Setan
Menyerang
Iran mungkin bisa menunda program nuklir mereka selama beberapa tahun, tetapi
tidak bisa menghapus pengetahuan (know-how) mereka.
Solusi militer hanyalah solusi sementara dengan dampak permanen yang merusak.
Berikut adalah pencerahan menuju solusi jangka panjang:
A. Arsitektur Keamanan Regional (Bukan Eksklusif)
Selama ini,
keamanan Timur Tengah dibangun atas dasar "mengucilkan Iran". Solusi
masa depan harus melibatkan Iran dalam sebuah Pakta Keamanan Regional.
Arab Saudi dan Iran sudah mulai melakukan normalisasi (dimediasi Tiongkok);
tren ini harus diperkuat agar persaingan beralih dari senjata ke ekonomi.
B. "Nuclear For Peace" yang Terverifikasi Ketat
Dunia perlu kembali ke meja
perundingan dengan kesepakatan yang lebih komprehensif dari JCPOA (perjanjian
nuklir lama). Iran membutuhkan jaminan keamanan dan pencabutan sanksi ekonomi,
sementara dunia membutuhkan akses inspeksi tanpa batas. Tanpa jaminan keamanan
bagi Iran, mereka akan selalu merasa nuklir adalah satu-satunya asuransi
keberlangsungan rezim mereka.
C. Diversifikasi Kekuatan dan Diplomasi Multipolar
Ketergantungan pada satu
kekuatan (AS) sebagai polisi wilayah terbukti menciptakan ketegangan.
Melibatkan kekuatan dunia lain seperti Uni Eropa, Tiongkok, dan Rusia untuk
menjadi penjamin netral dapat menyeimbangkan ego geopolitik yang ada.
Intinya: Perang melawan Iran adalah perang di mana
"pemenang" akan tetap menderita kerugian yang hampir sama besarnya
dengan yang kalah. Solusi sejati bukan terletak pada seberapa banyak rudal yang
bisa dihancurkan, melainkan pada seberapa besar rasa aman yang bisa diciptakan
di kawasan tersebut tanpa perlu saling mengancam secara eksistensial.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar