Minggu, 25 Januari 2026

Apa Jadinya Jika Amerika Menyerang Iran?

 


Oleh Harmen Batubara

Bayangkan sebuah bidak catur yang jika digerakkan secara gegabah, akan meruntuhkan seluruh papan permainannya. Itulah gambaran serangan langsung Amerika Serikat ke Iran. Fokus utama narasi ini adalah "Nuclear Breakout"—ambang batas di mana Iran benar-benar memiliki hulu ledak nuklir, yang bagi Israel dan AS adalah garis merah yang tidak boleh dilewati.


1. Perang Tanpa Garis Depan (Drone & Rudal)

Jika serangan terjadi, kita tidak akan melihat invasi darat ala Perang Irak 2003. Iran telah belajar. Mereka memiliki "A2/AD" (Anti-Access/Area Denial) yang tangguh.

Hujan Presisi: Pangkalan militer AS di Qatar, Bahrain, dan UEA berada dalam jangkauan rudal balistik dan drone bunuh diri Iran (seperti Shahed).

Perang Asimetris: Iran tidak perlu menenggelamkan kapal induk AS; mereka cukup melumpuhkan sistem radar dan logistik dengan ribuan drone murah namun mematikan.


2. Efek Domino: Proksi dan "Arab Spring" Baru

Kekuatan Iran bukan hanya pada militernya, tapi pada loyalitas jaringan proksinya (Hezbollah, Hamas, Houthi).

Multi-Front War: Israel akan menghadapi tekanan dari Lebanon, Gaza, dan Suriah secara bersamaan.

Ketidakstabilan Domestik: Serangan AS dapat memicu sentimen anti-Barat yang masif di negara-negara kerajaan Arab sekutu Amerika. Rakyat mungkin melihat pemimpin mereka membiarkan wilayahnya jadi basis serangan terhadap sesama negara Muslim, yang berpotensi memicu gelombang tuntutan perubahan dinasti atau "Arab Spring 2.0".

3. Kiamat Ekonomi: Selat Hormuz

Inilah "tombol nuklir" ekonomi Iran. Jika Selat Hormuz ditutup, pasokan minyak dunia akan tercekik seketika.

Harga energi global akan melonjak ke angka yang tak terbayangkan.

Resesi global akan menyusul, memicu krisis politik bahkan di negara-negara yang tidak terlibat konflik secara langsung.

Pencerahan Menuju Solusi: Jalan Keluar dari Lingkaran Setan

Menyerang Iran mungkin bisa menunda program nuklir mereka selama beberapa tahun, tetapi tidak bisa menghapus pengetahuan (know-how) mereka. Solusi militer hanyalah solusi sementara dengan dampak permanen yang merusak. Berikut adalah pencerahan menuju solusi jangka panjang:

A. Arsitektur Keamanan Regional (Bukan Eksklusif)

Selama ini, keamanan Timur Tengah dibangun atas dasar "mengucilkan Iran". Solusi masa depan harus melibatkan Iran dalam sebuah Pakta Keamanan Regional. Arab Saudi dan Iran sudah mulai melakukan normalisasi (dimediasi Tiongkok); tren ini harus diperkuat agar persaingan beralih dari senjata ke ekonomi.

B. "Nuclear For Peace" yang Terverifikasi Ketat

Dunia perlu kembali ke meja perundingan dengan kesepakatan yang lebih komprehensif dari JCPOA (perjanjian nuklir lama). Iran membutuhkan jaminan keamanan dan pencabutan sanksi ekonomi, sementara dunia membutuhkan akses inspeksi tanpa batas. Tanpa jaminan keamanan bagi Iran, mereka akan selalu merasa nuklir adalah satu-satunya asuransi keberlangsungan rezim mereka.

C. Diversifikasi Kekuatan dan Diplomasi Multipolar

Ketergantungan pada satu kekuatan (AS) sebagai polisi wilayah terbukti menciptakan ketegangan. Melibatkan kekuatan dunia lain seperti Uni Eropa, Tiongkok, dan Rusia untuk menjadi penjamin netral dapat menyeimbangkan ego geopolitik yang ada.

Intinya: Perang melawan Iran adalah perang di mana "pemenang" akan tetap menderita kerugian yang hampir sama besarnya dengan yang kalah. Solusi sejati bukan terletak pada seberapa banyak rudal yang bisa dihancurkan, melainkan pada seberapa besar rasa aman yang bisa diciptakan di kawasan tersebut tanpa perlu saling mengancam secara eksistensial.



 

 


Tidak ada komentar: