Oleh Harmen Batubara
Setiap bangsa memiliki hak untuk bermimpi, untuk
merumuskan masa depannya di atas fondasi identitas dan nilai-nilai yang mereka
yakini. Namun, sejarah panjang peradaban manusia telah mengajarkan satu
pelajaran pahit namun penting: sebuah ideologi atau sistem
budaya, betapapun agungnya dalam retorika, haruslah bersifat realistik agar
mampu membawa kemakmuran nyata. Tanpa berpijak pada realitas global,
sebuah visi besar berisiko menjadi isolasi yang menyesakkan.
Ilusi
Perubahan: Dari Shah menuju Revolusi
Perjalanan ini bermula pada tahun 1979. Ketika itu,
dunia menyaksikan keruntuhan kekuasaan Shah Mohammad Reza Pahlavi. Rakyat Iran,
yang mendambakan perubahan dan keadilan sosial, menaruh harapan besar pada
pundak Ayatollah Khomeini. Revolusi Islam Iran menjanjikan
kesejahteraan yang berakar pada kedaulatan moral dan agama.
Namun, sejarah mencatat bahwa transisi tersebut
tidak serta-merta menghadirkan madu kemakmuran. Visi tentang "Iran Islam
yang murni" justru membawa konsekuensi berat bagi masyarakatnya. Sebagian
besar rakyat harus menghadapi:
Penurunan kebebasan pribadi yang drastis.
Pembatasan sosial yang ketat
dalam ruang publik.
Represi politik yang
dilakukan demi menjaga kemurnian visi revolusi.
Alih-alih menjadi model pemerintahan rakyat yang
inklusif, sistem ini cenderung menutup diri, mengutamakan ideologi di atas
hak-hak individu.
Kebuntuan
yang Berlanjut
Estafet kepemimpinan kemudian beralih ke tangan Ayatollah Khamenei, namun arah kompas tetap tak
berubah. Iran di bawah kepemimpinan ini tetap bersikeras memproklamirkan
peradaban sesuai mimpinya sendiri—sebuah peradaban yang berdiri kontras, bahkan
sering kali frontal, terhadap tatanan dunia internasional.
Akibatnya, benturan pun tak terelakkan. Iran seolah
menarik diri dari arus besar peradaban dunia. Sikap konfrontatif ini memicu
reaksi keras dari komunitas internasional, yang berujung pada sanksi ekonomi berlapis. Sanksi ini bukanlah sekadar
angka di atas kertas; ia adalah beban hidup bagi rakyat jelata, menyebabkan
inflasi yang melambung, kelangkaan akses teknologi, dan isolasi finansial yang
melumpuhkan sendi-sendi ekonomi negara.
Realitas
Peradaban, Tidak Bisa Berjalan Sendiri
Pelajaran dari Iran menunjukkan bahwa di era modern
ini, mustahil membawa peradaban baru yang menghasilkan kesejahteraan
jika dilakukan secara frontal dan terisolasi. Dunia saat ini adalah
jejaring yang saling terhubung. Kesejahteraan suatu bangsa tidak lagi hanya
ditentukan oleh apa yang ada di dalam batas negaranya, tetapi oleh sejauh mana
bangsa tersebut mampu bekerja sama dalam harmoni peradaban global.
Mengejar mimpi tanpa mempertimbangkan kerja sama
internasional yang benar hanyalah akan menghasilkan ketegangan yang abadi.
Ideologi yang kaku sering kali menjadi tembok penghalang bagi inovasi dan
kemajuan yang seharusnya menjadi hak rakyat.
Jalan Keluar - Menuju Realisme Baru
Agar Iran dapat kembali menemukan jalannya dan
membawa kemakmuran yang sesungguhnya bagi rakyatnya, diperlukan sebuah pergeseran paradigma:
Rekonsiliasi dengan Realitas Global: Iran perlu menyadari bahwa menjadi bagian dari peradaban dunia tidak
berarti kehilangan identitas. Kerja sama ekonomi dan diplomasi yang terbuka
adalah kunci untuk mengangkat sanksi yang selama ini mencekik.
Keseimbangan antara Nilai dan Kebutuhan: Pemerintah harus mulai memprioritaskan kebutuhan pragmatis
rakyat—seperti lapangan kerja, kebebasan berekspresi, dan stabilitas ekonomi—di
atas ambisi ideologis yang kaku.
Modernisasi yang Inklusif: Membuka ruang bagi partisipasi publik dan memberikan perlindungan
terhadap hak-hak sipil akan menciptakan stabilitas internal yang jauh lebih
kuat daripada represi.
Iran adalah bangsa dengan sejarah intelektual dan
kebudayaan yang luar biasa besar. Untuk kembali bersinar, Iran tidak perlu
menanggalkan jati dirinya, namun ia harus berani berjalan berdampingan
dengan dunia. Hanya dengan kerja sama yang benar dan sikap yang realistik,
sebuah bangsa dapat mengubah mimpi menjadi kemakmuran yang dapat dirasakan oleh
setiap warganya.





