Minggu, 16 Januari 2022

Buku Perbatasan : Travel Ke PLBN Long Nawang Malinau

 


Travel Ke Perbatasan PLBN  Long Nawang Malinau

Oleh Harmen Batubara

PLBN Long Nawang juga akrab dikenal sebagai Tapak Mega ini berada di pedalaman pegunungan Long Nawang, Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara yang berbatasan langsung dengan Long Busang di Sarawak, Malaysia. PLBN berkategori PLBN darat yang dibangun di atas lahan seluas 9 hektar ini mulai dibangun pada 3 September 2020 dan ditargetkan selesai pada Desember 2022. 

Pembangunan PLBN Long Nawang dilakukan oleh Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Provinsi Kalimantan Utara Direktorat Jenderal Cipta Karya dengan ruang lingkup pekerjaan meliputi bangunan utama, Mess Pegawai, Masjid, Lansekap, Pos Jaga, GWT, Power House, Selasar Parkir, Serta Mekanikal Elektrikal Dan Plumbing (MEP). PLBN ini dapat diakses dalam waktu kurang lebih 1 jam dari Bandara Juwata Tarakan Ke Long Ampung dari Long Ampung naik Taksi atau Travel sekitar setengah Jam. Untuk ke PLBN Long Nawang saat ini anda bisa lewat darat, atau udara. Kalau anda dari luar Kalimantan maka tujuan pertama terlebih dahulu ya ke Tarakan atau Tanjung Selor. Kalau mau terus dengan pesawat udara anda bisa mengatur destinasi anda hingga sampai Malinau atau Malah sampai Lapangan Udara Long Ampung. Dari Long Apung ke Long Nawang bisa naik travel atau taksi dengan waktu sekitar setengah Jam. Kalau lewat darat anda bisa dari Tanjung Selor ke Malinau bisa pakai  Bus Damri. Dari Malinau ke Long Nawang anda sebaiknya lewat Travel atau Taksi. 



Dengan adanya PLBN Long Nawang yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang fungsional ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas kawasan perbatasan di Provinsi Kalimantan Utara sehingga menjadi kawasan perbatasan yang berdaya saing. Menurut Gubernur Kalimantan Utara Zainal Arifin Paliwang, pembangunan PLBN Long Nawang serta 3 PLBN lainnya di Kalimantan Utara (PLBN Sei Pancang, PLBN Long Midang, dan PLBN Labang) sangat penting bagi negara karena  akan dapat melayani lebih baik lagi kebutuhan warga perbatasan (Indonesia – Malaysia) sehingga bersinergi menghadirkan kesejahteraan.

Kalimantan Utara merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang berbatasan langsung dengan Tawau, Malaysia. Wilayah dengan berbagai potensi keindahan alam, alamnya yang eksotik, serta penduduknya yang ramah. Maka tidak heran jika wilayah ini memiliki potensi menjadi “cross border tourism’  yang tinggi dan menjanjikan. Selama ini pemerintah telah mengembangkan strategi mendatangkan wisman melalui cross border tourism dengan  mengadakan dan mempopulerkan Festival Cross Border. Untuk Kaltara waktu itu sudah ada Festival Cross Border Nunukan. Yakni lewat acara seperti  bazar produk-produk industri kreatif setempat, dengan produk andalan berupa hasil olahan rumput laut, yakni amplang dan juga dengan mendatangkan Penyanyi Top Dangdut. Kita tahu umumnya wilayah perbatasan senang dengan lagu-lagu dangdut serta juga para artisnya.

Perbatasan Kalimantan Utara kini mempunyai sarana Perbatasan yang  dikenal dengan nama Pos Lintas Batas Negara (PLBN) yang jadi sarana lalu lintas batas Orang dan Barang serta pusat Bisnis bersama di perbatasan. Kalimantan Utara kini mempunya PLBN Long Nawang di Kab Malinau: PLBN Long Midang & Labang Kab Nunukan ; dan PLBN Sei Pancang Pulau Sebatik.

Travel ke perbatasan kini jadi menarik. Hal ini sejalan dengan pengembangan “cross border tourism”, yang sudah digalakkan pemerintah. Meski belum popular, namun menunjukkan tren kenaikan kunjungan wisatawan setiap tahun. Pada sejumlah wilayah, pemerintah tengah fokus mengeksplorasi pontesi wisata di perbatasan lewat beragam festival kebudayaan. Saat ini, ada tiga jalur darat diketahui terjadi peningkatan kedatangan turis. Di Atambua, persentase kenaikan pelancong sebanyak 56.95% dari 19.221 menjadi 30.167 turis, di Aruk naik sebesar 118.21% dari 2.658 wisman menjadi 5.800 pelancong, dan di Nanga Badau naik sekira 65.68% dari 2.678 turis menjadi 4.437 wisman selama Januari-April 2018. Kenaikan kunjungan turis di tiga pintu darat tersebut sinkron dengan upaya Kementerian Pariwisata yang terus memoles potensi destinasi wisata melalui beragam festival kebudayaan, produk kerajinan UKM dan kuliner lokal. Berbagai kegiatan touris di perbatasan mendapat sambutan yang menyenangkan. Hal ini bisa kita lihat dari perhatian yang diberikan Sarawak Tourism Board (STB) pada tahun 2019 lalu. STB Minta Festival Cross border Digelar Tiap Bulan. Pada waktu itu, Pihak STB mengharapkan kegiatan Festival Wonderful Indonesia (FWI) di border area dapat dilaksanakan setiap bulan. Terutama, di akhir bulan. Dan bila memungkinkan, tanggal pelaksanaannya sudah ditetapkan lebih awal, sehingga mereka bisa membuat perencanaan lebih baik mendukung event Festival Wonderful Indonesia. Waktu itu FWI jadi keren karena mengundang penyanyi Dangdut terkenal seperti Cita Citata, dan membuat festival jadi sangat popular. Apalagi kalau lagi ada Perayaan Cap Go Meh di Singkawang, dan Festival Wonderful Indonesia di Perbatasan Aruk dan Entikong jelas lebih semarak lagi. Bisa dibayangkan antusiame warga.

Provinsi Kalimantan Utara adalah sebuah provinsi di Indonesia yang terletak di bagian utara Pulau Kalimantan. Provinsi ini berbatasan langsung dengan negara tetangga, yaitu Negara Bagian Sabah dan Sarawak. Pusat pemerintahan kabupaten ini berada di Tanjung Selor. Luas wilayahnya 72.567.49 km² ; dengan jumlah penduduk 738.163 jiwa (tahun 2013).  Pada saat dibentuknya, wilayah Kalimantan Utara dibagi menjadi 5 wilayah administrasi, yang terdiri dari 1 kota dan 4 kabupaten sebagai berikut : Kota Tarakan, populasi 239.973, ibukota Tarakan;  Kabupaten Bulungan, populasi 226.322, ibukota Tanjung Selor ;   Kabupaten Malinau, populasi62.460, ibukota Malinau ;       Kabupaten Nunukan, populasi140.567, ibukota Nunukan ; dan   Kabupaten Tana Tidung, populasi22.841, ibukota Tideng Pale

Letak Geografis Provinsi Kalimantan Utara memiliki lokasi strategis dan menguntungkan, karena daerahnya di lewati oleh alur pelayaran yang termasuk dalam kategori Alur Laut Kawasan Indonesia II (ALKI II) yang sering dilewati oleh kapal kapal yang berlayar dari perairan Indonesia ke alur pelayaran internasional meliputi Kawasan Malaysia, Filipina, Brunei, Singapore dan negara-negara ASEAN, serta negara-negara Asia Pasifik seperti Hongkong, China, Korea Selatan dan Jepang. Penduduk Provinsi Kalimantan Utara terdiri dari banyak suku atau heterogen yang terdiri dari berbagai suku. Secara garis besar penduduk Provinsi Kalimantan Utara terdiri dari : Suku Bulungan ;  Suku Tidung ; Suku Dayak; Suku Banjar ; Suku Bugis ; Suku Jawa ;  Suku Sunda, NTT, NTB, etnis Tionghoa dan lain-lain.



Salah satu yang terkenal dari daerah ini adalah Beras Adan Krayan. Beras  Adan dari Krayan adalah salah satu komoditi beras yang berasal dari  Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Jenis beras ini juga mengantongi serifikat Indikasi Geografis (IG) dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI). Setiap kali panen, masyarakat di Krayan berhasil memproduksi lebih dari 10 ton Beras Adan. Luas sawah di Krayan mencapai   3.466 hektare. Dari luasan sawah ini, rata-rata menghasilkan produksi  sekira 14.000 ton Gabah Kering Panen (GKP). Atau dalam bentuk beras rata-rata sekitar 8.500 ton.

Ada tiga jenis beras Adan yaitu Adan Putih, Adan Hitam dan Adan Merah. Dalam bahasa asli Suku Dayak Lundayeh, ketiga beras itu disebut Pade Adan Buda, Adan Hitem dan Adan Sia. Bibit padi ini berasal dari hasil budidaya masyarakat Krayan. Keunggulan beras Adan ini terletak pada aroma yang khas dan tekstur yang halus. Beras Adan merupakan hasil pertanian organik masyarakat Krayan dengan memanfaatkan air pegunungan sebagai irigasi. Selain rasanya yang lezat, beras Adan memiliki kandungan gizi yang tinggi, punya vitamin B2, mineral ferum, psophorus hingga kalsium. Beras Adan juga diklaim memiliki kandungan protein tinggi dengan kadar lemak yang lebih sedikit dari beras biasa.

Dengan adanya pembangunan jalan paralel perbatasan, punya nilai strategis bagi wilayah ini, karena di samping fungsi pertahanan dan keamanan negara, juga sekaligus membuka dan menumbuhkan ekonomi kawasan perbatasan. Jalan paralel perbatasan Kalimantan – Malaysia sepanjang 1.920 km. Daerah Kalbar memiliki panjang 811.32 km yang  terbagi menjadi dua yakni 607.81 km berstatus jalan NON NASIONAL dan 203.51 km JALAN NASIONAL. Jalan paralel sepanjang 811.32 km tersebut dimulai  dari Temajok hingga Batas Provinsi Kalbar/Kaltim. Untuk daerah Kaltara dari 1.920 km jalan paralel perbatasan di Kalimantan, yang berada di Provinsi Kaltara sepanjang 824 km dan Kaltim sepanjang 244 km. Rata-rata seluruh jalan memiliki lebar minimal 6 meter dan ruang milik jalan (Rumija) antara 15 - 25 meter.

Dipercaya dengan terbukanya isolasi lewat jalan darat ini, secara otomatis ia akan menimbulkan ide-ide baru dalam hal membuka peluang ekonomi. Jalan parallel perbatasan akan membuka para penggiat pariwisata untuk lebih mempercantik destinasi wisata di sepanjang jalan perbatasan. Berbagai lokasi destinasi di Kalimantan sungguh menarik dan bisa jadi destinasi yang menggoda. Destinasi wisata yang menarik di daerah Kalimantan Utara yang menarik, antara lain : Air Terjun Krayan, Long Midang, Krayan Kab Nunukan;  Air Terjun Sianak, bambangn, Sebatik Nunukan.; Giram Luyu, Desa Labang, Kec. Lumbis Ogong dan Gerbang Satria, Desa Lumbis Pensiangan Kab. Nunukan; Long Bawan, Long Bawan, Kec. Krayan, Kab. Nunukan; Pantai Kayu Angin Tanjung Karang, Sebatik, Kab. Nunukan.; Sungai Hitam Desa Tabur Lestari, Kec. Seimenggaris, Kab. Nunukan.; Desa Long Beluah, Kec. Tanjung Palas Barat, Kab. Bulungan.; Batu Tumpuk Panca Agung, Kec. Tanjung Palas Utara, Kab. Bulungan.; dan Gunung Putih, Kec. Tanjung Palas, Kab. Bulungan Dll.

Bepergian ke Long Nawang Masa Lalu

Seperti apa sih kisah perjalanannya kalau ke Malinau sebelum Pa Jokowi membangun Jalan Paralel perbatasan? Berikut pengalaman salah seorang yang awam tentang daerah itu tetapi dia harus ke Sebuku karena tugas[1]. Kalau saya pribadi[2] pernah bertugas di Malinau itu sekitar tahun 1985 an, meski waktu itu masih hutan belantara tapi saya punya dua Helikopter jenis Allouwet. Jadi kemana-mana mudah, tidak perlu mendarat kalau perlu kami bisa turun dengan refeling pakai tali. Kita lanjutkan ceritanya. Dia dan rombongan PJTU-UT berangkat malam hari dari bandara Soekarnao Hatta Jakarta ke  Bandara Juwata di Tarakan kalimantan utara. Tanpa Transit. Mereka menggunakan maskapai garuda dengan pesawat bombardier CRJ-1000. Lama perjalanan dari soekarno hatta ke juwata tarakan sekitar 3 jam, lama dan membosankan apalagi pesawatnya tidak dilengkapi fasilitas TVatau infotaiment dan lumayan bete berjam-jam di pesawat. Mereka menginap semalam di kota tarakan untuk selanjutnya besok pergi menuju lokasi UAS. Kota tarakan lumayan besar dan cukup ramai, mungkin kalo kita menganggap banyak hutan belantara anda salah. Hotel-hotel besar pun banyak disini misal swiss-bell hotel.

Keberangkatan mereka ke sebuku diluar rencana, karena rencananya saya naik speedboad ternyata speedboad sudah penuh karena di booking oleh pemda, dan apesnya perjalanan ke sebuku dari tarakan hanya ada satu kali saja dalam sehari. Ah apes.. Tapi bagaimana pun hari itu saya harus berangkat karena membawa naskah UAS untuk besok harinya. Solusinya adalah naik pesawat, akhirnya saya pesan tiket pesawat untuk tujuan tarakan-malinau, btw kok ke malinau sih…  yup karena tidak ada penerbangan ke sebuku, jangan kan penerbangan bandaranya saja tidak ada, wow… saya jadi curiga nih lokasi nanti seperti apa.. jangan-jangan seperti dugaan saya masih hutan..

Lanjut ke malinau…..sebuku

Pesawat ke malinau yang digunakan berjenis ATR dengan maskapai.. ehmm apa ya dia lupa namanya, cobain aja deh. Diatas dia menyaksikan pulau kalimantan, wow.. ternyata di kelilingi oleh sungai yang sangat lebar, mungkin 3 kali lebar sungai Cisadane. Saya sampai malinau sudah masuk waktu magrib karena dari tarakannya sendiri jam 5 sore. Sampai malinau saya meneruskan lewat darat dengan menyewa kendaraan jenis Apanza. Ongkos sewanya 800 rb, mahal ya… Malinau sebuku sendiri ditempuh sekitar 3 jam. Lama buanget…..

Perjalanan darat dari malinau-sebuku medannya cukup menantang, jangan coba-coba pake mobil sedan deh… Supir yang menemani saya ke sebuku bukan asli kalimantan tapi asli bugis yang sudah lama tinggal di kalimantan. Sepanjang perjalanan malinau kondisi jalan masih aman dan cukup penerangan karena kami melakukan perjalan malam. kami sempat istirahat di masjid untuk sholat maghrib. Masjid tempat kami sholat masih terbuat dari kayu dan lokasinya agak di dalem perkampungan yang jarang warga wih.. serem gelap banget dan sialnya banyak banget anjing.  Selesai sholat kami lanjut perjalanan ke sebuku dan benar saja sepanjang perjalanan jarang nemu rumah, lebih banyak hutan belantara dan kebun sawit. hikhiks…

Daerah sana memang terkenal dengan kebun sawitnya, karena kendaraan yang kami temui dijalan kebanyakan truk pengangkut sawit. Sepanjang perjalanan hanya cahaya lampu mobil yang kami naiki yang kami lihat, kiri kanan hanya hutan kalo ada apa” sama kendaraan kami bakal runyam urusan. Saya pun gak bisa tidur, gimana mau tidur jalanan naik turun bukit ditambah banyak lobang juga. Ya sudah banyak berzikir dan doa aja.

Akhirnya yang dituju sampai juga, kami sampai di sebuku dan disana tidak ada hotel berbintang ya, cuma ada penginapan sederhana aja. yang penting ada kasur dan kamar mandi. Penginapan kami yang punya orang jawa beliau juga kepala desa disana. Nama hotelnya Dwi Putri Aulia, mungkin ini hotel terbaik disana.

Untuk melihat kondisi daerah Kaltara setelah satu tahun kemudian bisa kita lihat penuturan para peserta Rombongan Touring Pilkada 2020[3], dengan route dari Nunukan-Malinau. Tepatnya hari Rabu 5 Agustus 2020 dari Hotel Tulin Onsoi, Nunukan, rombongan KPU Kaltara akan bergerak ke Malinau. 

Hampir Pukul 09.00 Wita, iring-iringan kendaraan roda empat kembali bergerak meninggalkan penginapan. Sekitar 30 menit perjalanan, laju kendaraan melambat. Tampak kendaraan alat berat sedang melakukan pekerjaan jalan. Sejumlah pekerja tengah berjibaku dengan tanah menggunakan alatnya. Aktivitas galian tanah itu menunjukkan adanya peningkatan pembangunan akses di kabupaten perbatasan tersebut.

Infrastruktur jalan menuju titik perbatasan di Nunukan sebagian besar adalah tanggung jawab pemerintah pusat. Kucuran APBN cukup banyak untuk membiayai pekerjaan jalan ke wilayah itu. Alhasil, perjalanan melalui jalur darat antara Nunukan-Malinau jauh lebih baik. Khususnya akses darat sampai ke Sei Menggaris hingga Sungai Ular. Perjalanan tim sosialisasi dari KPU Kaltara yang berangkat dari Nunukan ke Malinau pun lancar. Bahkan, jalan mulus membuat kendaraan rombongan melejit kencang sampai di kabupaten yang berada di antara Nunukan dan Tana Tidung itu.“Perjalanan sekitar dua jam atau paling lama dua jam setengah,” kata Hariyadi. Benar saja, sekitar Pukul 11.30 Wita, rombongan sudah tiba di salah satu hotel yang berada di Ibukota Malinau. Padahal, rombongan sempat singgah beberapa menit untuk mengabadikan momen di pertengahan jalan.

Kini perjalanan ke Malinau atau ke Nunukan sudah jauh berubah, jalannya sudah bagus dan enak untuk melakukan perjalanan, terlebih lagi kalau memakai kenderaan pribadi atau sewaan. Kalau mau naik Bus juga sudah ada Bus Damri[4]. Alternatif perjalanan jalur darat dengan Bus Damri umumnya menjadi pilihan bagi pelaku perjalanan dari Kabupaten Malinau, khususnya mendekati libur akhir pekan.

Juga perayaan hari-hari keagamaan seperti hari raya umat Hindu, yakni Hari Raya Nyepi.

Sesuai informasi dari UPTD Terminal Malinau Kota, Bus Damri Malinau melayani dua rute keberangkatan. Selain menuju Tanjung Selor, Bus Damri juga melayani rute dari Malinau menuju Salang, Kecamatan Sebuku, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara. Bagi masyarakat Malinau yang akan bepergian menuju dua rute tersebut dapat langsung membeli tiket di loket pelayanan Damri di UPTD Terminal Malinau Kota. Harga tiket bus Damri adalah sebagai berikut:

- Trayek Malinau-Tanjung Selor, Rp 150 ribu

- Trayek Malinau-Salang, Rp 50 ribu

Tujuan Malinau-Salang juga melayani rute keberangkatan setiap hari, pukul 14:00 Wita, dan tujuan Salang-Malinau pukul 07:00 Wita. Pembelian tiket bus Damri Malinau dapat langsung diperoleh di UPTD Terminal, Jalan Terminal Baru, Desa Malinau Kota, Kecamatan Malinau Kota, Kabupaten Malinau Provinsi Kalimantan Utara.





[1] http://daryusman.staff.ut.ac.id/2019/10/07/perjalanan-ke-sebuku-kalimantan-utara/

[2] Masa itu Tim saya lagi memetakan wilayah Malianu hingga Nunukan dari Pemetaan TNI-AD, kami punya posko di Malinau-Nunukan dan Long Nawang.

[3] https://korankaltara.com/peningkatan-akses-ke-perbatasan-hingga-jalan-mulus-ke-malinau/

[4] https://kaltim.tribunnews.com/2021/03/13/jadwal-keberangkatan-bus-damri-malinau-terbaru-2021-simak-rute-tujuan-tarif-dan-waktu.

Jumat, 25 Juni 2021

Harmen Batubara Penulis Dari Wilayah Perbatasan


Bila di diskripsikan dengan kata-kata masyarakat pedesaan perbatasan terpencil adalah masyarakat yang relatf tertutup, mempunyai ketergantungan kuat dengan alam. Melakukan kegiatan produksi yang bersifat subsistence atau peramu, sekedar mengambilnya dari alam dengan mata pencaharian serabutan. Tidak ada atau  memperoleh pelayanan sosial yang sangat minim, menyebabkan tumbuhnya tingkat kualitas SDM yang relatif sangat rendah. Namun demikian, ada juga sebagian masyarakat pedesaan terpencil, khususnya masyarakat adat, mampu menghasilkan produk budaya berkualitas tinggi seperti ukiran suku Asmat, tato suku Mentawai, pengelolaan hutan yang harmonis suku Baduy, dll.


Harmen Batubara Penulis Dari Wilayah Perbatasan

Saat Belajar di Fort Belvoir Virginia, USA

Melihat desa tertinggal di perbatasan tentu tidak semua orang dapat “melihatnya”, karena untuk bisa melihat ketertinggalan itu hanya dapat dilakukan oleh mereka yang tahu makna “tertinggal” itu sendiri. Desa tertinggal itu, ya jauh darimana-mana. Secara fisik desa itu baru dicapai setelah melakukan “perjalanan kaki”, selama satu atau dua hari, karena memang akses jalannya belum ada. Di sepanjang jalan kaki itu, sama sekali tidak ada “warung”. Karena memang semuanya masih berupa hutan dan hutan belukar. Kemudian sampailah anda ke perkampungan tertinggal itu. Ya benar-benar kampung apa adanya. Warung sudah ada, tetapi yang di jual hanya sebatas, beras, garam dan berbagai super mie serta jajanan anak-anak berupa permen dan sejenisnya. Rokok memang ada, tetapi lebih banyak jenis tembakau dan kertas linting. Pendek kata hanya sepertiga dari keperluan sehari-hari,mereka bisa beli juga karena masih bisa dengan cara barter. Jual kelapa, kemudian beli minyak tanah dst.dst.

Berikut Buku-Buku Yang Saya Tulis

Nama Buku

Nama Buku

BumDes & BumNas Sinergis Rakyat Sejahtera

Pengamanan Perbatasan

Seleksi Masuk SeskoaD

Kopi Mandheling Lungun NasoRaSasa

Membaca Strategi Perbatasan Jokowi

Membangun Pertahanan Negara Kepulauan

Formula Sukses Bisnis Affiliasi

Batas Laut Profil Perbatasan Indonesia

Membangun Halaman Depan Bangsa

Ketika Tugu Batas Digeser

Ketika Semua Jalan Tertutup

Rahasia Sukses Penulis Preneur

7Cara Menulis Artikel Yang Disukai Koran

Persiapan Tes Masuk Prajurit TNI

Penyelesaian Perselisihan Batas Daerah

Setiap Asa Bertabur Nikmat

 

Batas Negara Indonesia

Menangkan PilkadaMu

Pengelolaan Wilayah Pesisir

Mendirikan &Membangun BumDes

10 Langkah Efektif Memenangkan Pilkada

Perbatasan Tertinggal&Diterlantarkan

Formula GapTek 10 Jt Perbulan

Tapal Batas Profil Perbatasan Indonesia

Pertahanan Kedaulatan di Perbatasan

Cara Mudah Cari Uang di Clickbank

Cinta Ujung Negeri

Strategi SunTzu Memenangkan Pilkada

Papua Kemiskinan Pembiaran&Separatisme

Jadikan Sebatik Ikon Kota Perbatasan

Penetapan& Penegasan Batas Negara

Bila di diskripsikan dengan kata-kata masyarakat pedesaan perbatasan terpencil adalah masyarakat yang relatf tertutup, mempunyai ketergantungan kuat dengan alam. Melakukan kegiatan produksi yang bersifat subsistence atau peramu, sekedar mengambilnya dari alam dengan mata pencaharian serabutan. Tidak ada atau  memperoleh pelayanan sosial yang sangat minim, menyebabkan tumbuhnya tingkat kualitas SDM yang relatif sangat rendah. Namun demikian, ada juga sebagian masyarakat pedesaan terpencil, khususnya masyarakat adat, mampu menghasilkan produk budaya berkualitas tinggi seperti ukiran suku Asmat, tato suku Mentawai, pengelolaan hutan yang harmonis suku Baduy, dll.

Saya masih ingat kehidupan dikampung saya di Aekgarugur, Tapanuli Selatan di tahun-tahun 60 an. Kampung yang menghubungkan jalan raya provinsi dengan Kampung Sipotang Niari (± 20 km) lewat tengah hutan dan persawahan. Jalan memang sudah ada, tetapi masih sebatas diperkeras, hanya bisa dilewati oleh Pedati, kuda beban dan sepeda ontel. Geliat ekonomi ada, dan warung-warung di sepanjang jalan itu sudah hidup terutama oleh pelaku usaha “transportasi”, di sana sudah kita temukan tempat-tempat warung untuk pangkalan Pedati, ada pula tempat persinggahan bagi para pemilik kuda beban dan juga bagi para pelaku transportasi sepeda ontel para pemikul barang. Mereka membawa hasil bumi (padi, kopi,karet dll) dari sawah, kebun ke perkampungan di sepanjang jalan tersebut, dan kemudian membawa keperluan primer sehari-hari dan sekunder lainnya dari Kampung Aekgarugur atau Sayurmatinggi ke kampung-kapung sepanjang jalan ke Sipotang Niari. Layanan dari pemerintah masih sangat terbatas, belum ada listrik, lokasi sekolahan 4km dari kampung, tidak ada puskesmas tapi untunglah terdapat satu Rumah Sakit di Sayurmatinggi. Jadi kalau ada yang sakit dari desa Sipotang Niari maka cara membawanya adalah dengan ditandu cara sederhana. Kain sarung diusung dengan tiang bambu sebagai tandu, sipesakitan di tidurkan untuk kemudian diusung oleh dua orang, biasanya ada dua pasang tenaga “ganti” yang secara terus menerus bergantian. Jalan 20 km dengan mengusung orang sakit secara bergantian dan marathon adalah sesuatu yang biasa kala itu dan hal itu membutuhkan waktu satu sampai dua harian penuh. Sementara Rumah Sakitnya juga kira-kira setara dengan Puskesmas sekarang ini.


Saat Belajar di Australia, Bonegila Victoria

Meski tinggal di kampung terpencil, tetapi ke sekolah terus saja berlanjut. Sejujurnya saya juga tidak mengerti mengapa saya masih terus saja sekolah, padahal jumlah anak SR di sekolahan saya itu hanya tinggal 9 anak lagi, itupun sudah dari berbagai kampung tetangga. Dari kampung saya sendiri hanya tinggal saya saja, yang masih sekolah. Tetapi hebatnya lagi, saya ikut dua sekolah. Pagi jadi murid di SR dan Sore hari ikut Sekolahan Agama. Praktis semua teman-teman di kampung sudah tidak ada lagi yang bersekolah, saya juga sebenarnya ingin juga seperti mereka. Tapi kedua orang tua tidak pernah meminta saya untuk berhenti, dan saya terus melakoninya begitu saja.

Sehabis di SR saya harus ikut dengan keluarga ke Kotanopan untuk bersekolah di SMP Kotanopan. Padahal jarak dari Kampung ke Kotanopan itu sekitar 80 Km. Meski jaraknya 80 km, tetapi pada masa itu harus di tempuh selama satu hari perjalanan dengan mobil antar Kota. Namanya mobil Adianbania. Mobil itu memang setiap hari ada 5 trayek dari Kotanopan-Padangsidimpuan. Mereka dari Kotanopan pada pagi hari, mulai dari jam 05.00 pagi dan pulang lagi dari Padangsidimpuan kembali ke Kotanopan. Nah kalau saya naik dari Kampung saya misalnya jam 09.00, saya harus jalan kaki dahulu sejauh 2 km ke pinggir jalan, menunggu Adianbania dari Padangsidimpuan dan baru sampai di Kotanopan Jam 17.00. Tamat dari SMP Kotanopan, saya kemudian melanjutkan ke SMA Kotanopan. Tetapi sayangnya, saya harus dipindahkan ke SMA Padangsidimpuan, karena kebetulan dari anak-anak SMA klas satu naik ke kelas dua ada 4 orang anak yang masuk katagori jurusan Pas/Pal. Saya termasuk salah satunya. Untungnya semua keperluan perpindahannya diatur oleh sekolahan. Jadi saya resmi menjadi Anak kelas II Pas/Pal di SMA 2 Padangsidimpuan. Saya sangat menikmati suasana sekolah saya di Padangsidimpuan. Karena setiap sabtu sore saya bisa pulang ke Aekgarugur (± 30km) dan besok paginya saya bisa manderes karet. Jadi tiap minggu saya bisa dapat uang sendiri dari manderes karet uang setara RP75 -100 ribu. Dalam pergaulan saya, saya ikut Klub Boxing, dan pelari Marathon. Nah yang juga menarik adalah setamat SMA dan perubahan sikap mencari Pendidikan Berikutnya.

Terus terang, saya tadinya tidak punya niat untuk kuliah lagi. Hal itu disebabkan keuangan orang tua dan juga belum ada contohnya anak yang berhasil kuliahnya di Kampung saya. Malah sebaliknya mereka telah menghabiskan semua kebun dan sawah orang taunya, tetapi sekolah juga tidak selesai-selesai. Tetapi sekitar dua minggu sebelum pengumuman kelulusan SMA, saya main ke sekolahan saya. Saat itulah saya baru sadar bahwa sebagian besar teman-teman saya sudah pada punya rencana kuliah. Mereka umumnya ke Medan, Padang, Palembang da nada juga yang ke Jakarta, Bogor dan Yogyakarta. Pada saat itulah hati saya berguncang, dalam hati saya sangat yakin bahwa dengan ketrampilan hidup ( bisa menderes karet, bisa bersawah, bisa berkebun, bisa berjualan sayur mayur dengan sepeda, bisa berjualan minyak tanah dengan sepeda dll) yang sudah saya lakoni di Kampung saya, maka saya percaya saya akan mampu menghidupi diri saya sendiri dan bahkan yakin mampu mengkuliahkan diri sendiri, dimanapun kotanya. Pulang dari Sekolahan niat itu saya bicarakan dengan keluarga. Intinya adalah, keluarga mau mendukung Kuliah ke Yogya dengan Rp 15 ribu serta mampu membiayai sebesar Seribu rupiah perbulan. Waktu itu harga beras masih sekitar 30 rupiah/Kg. Jadi perhitungan saya dengan besar 10 kg atau Rp 300 dan dengan uang Rp 700 lainnya saya akan bisa hidup di Yogya dengan pola saya sendiri. Maka kesampaianlah cita-cita saya untuk meneruskan Kuliah ke Yogyakarta. Soal gimana nantinya? Yan anti sajalah dibicarakan. Toh kalau misalnya gagal juga, ya kembali ke Kampung. Begitu saja.


Ketika Wisuda di UGM

Pernah dengar dengan istilah tentang anak batak di perantauan kan? Batak tembak langsung. Tapi ini untuk setting ceritra tahun tahun 70an. Itu menurut saya adalah upaya untuk menggambarkan anak-anak batak yang di kampungnya sana, dia dengan segala keterbatasannya. Dia yang aslinya belum tahu apa-apa, dia yang tidak tahu apa itu universitas, apa itu aturan lalu lintas jalan; tidak tahu mana saatnya stop dan mana saat jalan ketika melihat lampu setopan “abang-ijo” di perempatan jalan. Tetapi semua itu tidak menyurutkan semangat mereka untuk melanjutkan kuliah ke Jawa. Banyak dari mereka yang kondisi orang tuanya, sungguh tidak memungkinkan untuk membiayai kuliahnya. Tapi anak-anak batak itu tetap nekat. Tidak berbeda dengan anakan penyu yang meluncur ke laut, dari ribuan yang berlari yang sampai hanya beberapa. Saya salah satu diantaranya. Saya waktu itu, hanya berbekal uang sebesar 15 ribu rupiah dengan kesanggupan orang tua biaya bulanan satu ribu perbulan, dengan tujuan  Yogyakarta. Ongkos kapal waktu itu sudah 6 ribu, uang daftar di UGM 3 ribu. Belum lagi ini itu, jelas membaginya tidak bisa atau sangat sulit sekali.

Tapi itulah jalannya kehidupan, panggilan suratan tangan. Bagaimana anak kampung dengan semua ke idiotannya menapaki hidup di kota besar metropolitan. Banyak dari teman-teman meski tetap terbatas, tetapi umumnya punya uang bulanan bervariasi, antara 15-25 ribu perbulan. Tapi hal itu sama sekali tidak memberi pengaruh yang berlebihan bagi perjalanan nasibku. Sangat bersyukur karena meski dengan berbagai keterbatasan itu, ternyata saya diterima kuliah di UGM. Saat itu sebuah pencapaian luar biasa. Apalagi bagi seorang siswa lulusan SMA pedalaman dari Sumatera. Tetapi dengan uang satu ribu rupiah perbulan jelas ini sebuah tantangan. Tantangannya nyata dan sungguh luar biasa.

Saya sendiri punya jurus kehidupan langka tapi, menurut saya pas. Misalnya dalam mencari tempat Kos, carilah di wilayah kota yang tidak ada listriknya. Maksudnya agar segalanya lebih terjangkau dan murah. Lokasi itu saya temukan, yakni di Gondolayu, pinggir kali Code. Memang kondisinya kumuh, dan tempat mandinya juga di sumur-sumur seadanya di pinggiran kali code kala itu. Tapi bagi anak kampung seperti saya jelas itu jauh lebih baik dari di Kampung. Waktu itu saya malah dapat tempat kost yang tidak perlu bayar apa-apa.

Persoalan berikutnya adalah bagaimana hidup dengan uang sebesar itu? Memang harga beras waktu itu per kilonya masih rp 30 rupiah. Jadi 10 kg harganya sebesar 300 rupiah. Tapi hidup dengan uang 700 rupiah perbulan, sudah termasuk semuanya secara logika itu tidak masuk akal. Teman saya yang waktu itu kost di asrama Realino, bayarannya sudah 15 ribu rupiah per bulan. Tapi saya sangat percaya jalan pasti ada. Saya  yakin sekali, jalan untuk itu pasti ada. Cuma sayangnya saya belum tahu. Dari berbagai analisa yang saya lakukan, maka jalan yang tersedia adalah jadi penulis di koran harian. Karena menulis tidak terikat waktu, tidak mengganggu waktu kuliah. Tapi menulis untuk bisa dimuat di koran tentunya, bukanlah tulisan yang dibuat oleh penulis seperti saya yang tidak tahu apa-apa tentang menulis. Tapi jalan itu jelas terbuka. Dan saya percaya jalan saya ada di sana. Cuma bagaimana memulainya.


Saat Bersama Keluarga

Saya beruntung dan tergolong anak anak yang mudah beradaptasi, dan dengan cepat saya mendapatkan tugas sebagai pembersih dan penunggu “kantor” RW. Sebagai petugas RW saya boleh memakai sarana itu kapan saja, tugas saya hanya merawat kantor, mengetikkan dan menyampaikan surat-surat dinas dan undangan. Entah bagaimana ceritanya, pak RW malah membolehkan saya tinggal di situ, lengkap dengan makan minum gratis di warung yang ada di dekat kantor itu. Coba bayangkan, alangkah murahnya hati pak RW itu. Tuhan menolongku lewat kebaikan hati pak RW. Sederhananya saya dapat pekerjaan jadi penjaga dan merawat kantor RW tanpa upah, tetapi sebaliknya saya bisa tinggal di kantor itu dan dapat makan. Sungguh pencapaian yang luar biasa dan, itu saya peroleh ketika saat mandi di pinggiran kali code.

Sungguh saya sangat bersyukur karena “tangan Tuhan” memberikan saya begitu mudahnya dan semuanya. Tempat tinggal dengan semua sarananya, malah ada listrik, air ledeng dan mesin tik kantor yang bisa saya pakai sampai pagi. Padahal umumnya warga di kampong itu ya hanya dengan lampu teplok dan air sumur. Waktu itu, sasaran dan tekad saya hanya satu jadi penulis. Menulis untuk mendapatkan honor bagi kelanjutan kuliah. Sebagai mahasiswa UGM akses ke perpustakaan terbuka lebar, bahan bacaan saya melimpah. Saya terus menulis, menulis, menulis dan menulis. Menulis dengan mesin tik sebelas jari setiap ada kesempatan.

Sampai suatu hari setelah enam bulan mengetik tulisan siang  dan malam. Salah satu tulisan saya dimuat di Koran dua mingguan EKSPONEN YOGYAKARTA. Aduh senangnya bukan main. Rasanya dunia ini jadi begitu indah. Saya lalu mengajak anak pak RW mengambil honor tulisan itu di jalan KH Dahlan. Memang besarnya hanya 500 rupiah, dan honor itu sendiri saya berikan ke anaknya pak RW. Maka sontak di desa itu nama saya jadi buah bibir dan terkenal, mahasiswa UGM itu ternyata pintar juga menulis. Tetapi yang lebih heboh lagi, dua minggu kemudian, koran Sinar Harapan Jakarta memuat tulisan saya dengan honor 27.500 rupiah begitu juga dengan Surabaya Post dengan honor 30.000 rupiah. Setelah itu tulisan saya sudah ada dimana-mana. Bayangkan teman-teman saya umumnya hanya punya wessel antara 15-25 ribu perbulan sementara saya sudah punya penghasilan dengan rata-rata 30 ribu perbulan.

Saya menikmati kehidupan masa muda saya di Gondolayu selama dua tahun. Pada tahun ke tiga saya sudah bisa menyewa kamar di Jetis Harjo tepat di depan Teknik Geologi UGM waktu itu. Sebagai mahasiswa penulis saya juga sudah punya sepeda motor, dan bisa membayar berbagai kebutuhan saya sebagai mahasiswa Yogya.  Setelah saya memasuki kuliah di tahun ketiga, maka dunia kepenulisan telah mulai memudar karena digantikan oleh dunia survei dan pemetaan. Dari segi penghasilan, tantangan kerja di lapangan ternyata dunia survei lebih menantang. Menulis bagi saya waktu itu hanyalah jadi selingan, sementara kehidupan saya sudah sepenuhnya di topang oleh pekerjaan survei dan pemetaan. Apalagi waktu itu saya juga diangkat sebagai Chief Surveyor untuk lembaga penelitian kerja sama UGM dan KemenPU dalam hal penelitian persawahan Pasang Surut. Kehidupan mahasiswa saya sangat mennyenangkan. Mandiri, penuh dinamik dan antusiasme.

Prajurit Dengan Gaji Terbatas

Setelah lulus Geodesi UGM, mencari pekerjaan masih tergolong Mudah. Kalau di perusahaan cuku Telpon Perusahaannya dan pekerjaan selalu Ada. Saya malkukannya dan sempat beberapa bulan kerja di perusahaan Swasta. Begitu juga kalau mau jadi PNS masih tergolong mudah. Hanya saja memang harus seperti “magang” dahulu. Maksudnya  Kementerian itu mau menerima, tetapi waktunya kan pada bulan-bulan tertentu. Jadi sebelum bulan itu datang, kita jadi “magang” dulu dengan mereka dengan upah sebesar 30% dari Gaji. Sekedar untuk bisa ongkos ke Kantor. Kebetulan saya dipanggil untuk ikut Wajib Militer. Maka jadilah saya prajurit TNI. Tetapi jadi prajurit gajinya juga terbatas, artinya kalau mengandalkan Gaji saja tidak cukup.


Pengabdian Tidak Mengenal Berhenti

Saya lalu ingat besaran gaji saat memulai meniti karier di TNI dahulu. Ya di tahun-tahun 1980an. Sebagai seorang perwira pertama dengan pangkat Letnan Satu total gajinya, sebesar Rp 90 ribu. Itu sudah termasuk ULP ( Uang Lauk Pauk). Artinya itulah semua. Hal yang sama untuk personil Pollri dan PNS, kalaupun beda besarnya kecil sekali. Tentu berbeda dengan karyawan swasta. Kalau perusahaanya baik, ya gajinya besar tetapi kalau perusahaanya biasa saja, maka gajinya juga menyesuaikan. Tetapi tetap penghasilannya masih lebih baik. Untuk menyicil Rumah BTN atau katakanlah Sewa rumah, waktu itu, sebesar Rp60 ribuan/bulan. Bisa dibayangkan bagaimana sisa uang Rp30 ribu itu bisa membiayai makan, pakaian, sekolah anak-anak dan transportasi kekantor dll dalam sebulan. Dalam kondisi keuangan seperti itu, kita juga harus menjaga “road Map” jenjang karier kita. Bagaimana kau bisa tampil sehat, kerja bersemangat dan dapat penilaian baik dari atasanmu? Terus terang tidak banyak yang bisa lolos dengan baik dalam hal seperti ini. Intinya adalah kau harus bisa mencukupi keperluan harian keluargamu terlebih dahulu dan kemudian baru bisa bertugas dengan baik di tempatmu bekerja. Kau harus paham dengan Pareto 80/20.  Tapi bagaimana kau melengkapi keperluan keluargamu? Itulah tantangannya.

Pada masa itu banyak sekali hal yang dilakukan oleh mereka-mereka yang mempunyai persoalan seperti ini. Ada yang nyambi jadi sopir angkot setelah selesai jam kerja. Ada yang buka warung di rumah kontrakannya. Ada juga yang membuka “lesehan” semacam pecel lele dan mengajak teman patungan. Ada yang jadi guru les privat, ada yang jadi petugas “ keamanan” di berbagai tempat usaha atau kegiatan malam. Biasanya para anggota prajurit/Polri yang punya “pergaulan” bisa memanfaatkan jejaring seperti ini. Bisa dibayangkan, bagaimana kinerja mereka ditempat kerjanya, kalau semalaman tidak tidur. Ada juga yang jadi “pengamanan” truk. Jadi anggota prajurit/polri itu sehabis kerja ikut duduk di kenderaan Truk. Dll ternyata dinamika kehidupan itu sangat “responsip”, banyak sekali ragamnya, sulit untuk mengatakannya satu persatu. Bahkan ada banyak yang juga bisa melihat peluang ditengah-tengah kondisi ekonomi seperti itu.

Pada zaman itu, setiap instansi yang memiliki peralatan yang banyak diminati oleh masarakat atau pengusaha (alasan, untuk membantu biaya pemeliharaan)  masih diperbolehkan untuk menyewakannya. Misalnya jajaran Kementerian PU, mereka boleh menyewakan alat-alat eskapator, stoom walls dsb. Begitu juga TNI., satuan yang mempunyai alat-alat berat seperti itu atau alat-alat “pemetaan”  bisa menyewakannya. Peluang ini sesungguhnya sangat “baik” dan bisa dimanfaatkan oleh anggota prajurit itu sendiri. Saya pernah melihat seorang prajurit bisa “menyewakan” alat-alat pemetaan dari satuan TNI terdekat kepada koleganya di seluruh Nusantara. Karena memang satuan itu ada di setiap Kodam, boleh dikatakan ada di setiap provinsi. Memang “komisi”nya tidak besar, dalam artian sang parjurit tersebut juga harus memikirkan nama baiknya dan nama satuannya. Tetapi yang jelas, kalau bisa memanfaatkannya dengan baik maka ada “pemasukan” yang bisa diperoleh dari kegiatan tersebut.

Hal lain juga sangat khas, khususnya pada prajurit TNI/Polri dan PNS yang bisa berbahasa inggeris atau bahasa lain seperti Jerman, Belanda Dll. Pada masa itu masih sangat banyak kesempatan untuk bisa mengkuti “pendidikan” di luar negeri. Kelebihannya pendidikan di luar negeri apa? Pertama sesuai dengan jenjang kariernya, karena secara langsung bermanfaat untuk meningkatkan SDM di tempat dia bekerja. Penilaian kantornya pasti bagus. Hal lain yang lebih menarik lagi adalah honor yang diterima saat mengikuti pendidikan tersebut. Misalnya untuk prajurit TNI/Polri (waktu itu masih bersatu) dalam satu hari pendidikan di luar negeri minimal mereka memperoleh $10 dari TNI dan $14 dari Kementerian Pertahanan belum lagi dari Negara yang menyelenggarakannya. Besarnya tidak mesti tetapi biasanya sudah menyediakan semua fasilitas dan sarana selama pendidikan. Mulai dari apartemen, makan minum, rekreasi dan uang saku. Artinya kalau prajurit tersebut mau berhemat maka ia akan dengan mudah memperoleh $24-$35 perhari selama ia mengikuti pendidikan. Umumnya mempunyai rentang waktu antara 3-6 bulan. Kalau di hitung dengan kurs pada waktu itu, setara dengan Rp24-35 ribu perhari. Bayangkan dengan gaji yang hanya Rp90 ribu per bulan. Peluang yang sungguh tidak dinyana. Terus terang penulis juga ikut memanfaatkan kesempatan ini. Dari beberapa Sekolah ke dinasan saya, hanya dua yang saya ambil dalam negeri selebihnya saya ambil di luar. Mulai dari Amerika, Autralia, dan Inggeris. Berkat dengan semangat itu. Saya bisa belajar di  Mapping Charting And Geodesy Course (DMA,USA,1984) ; Map Control Survey Course (Aust,1988); Mapping And Manegement Border Area Course (Aust,1993); Rasvy Regimen tal Officer Course (Aust,1994) dan MBA (Leicester Univ, 1998)

 

Bersama Cucu ke Sekolah, sebelum cocvid-19

Hal lain yang memungkinkan bisa dikerjakan oleh anggota prajurit/Polri atau PNS adalah menulis. Ya menulis untuk mengejar Honor. Besaran honor menulis pada waktu itu jauh labih besar daripada saat ini. Kenapa saya berani bilang begitu? Pada masa-masa itu harga satu artikel untuk harian sekelas Kompas, Sinar Harapan dan Surabaya Post bisa mencapai antara Rp27.500-35.000. Sementara Koran-koran Lokal seperti Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Merdeka, Yudhagama Dll bervariasi mulai dari Rp 1.500-3.500 per artikel. Jadi dengan bisa menulis 2 artikel dalam sebulan di harian sekelas Sinar Harapan, atau Surabaya Post, atau Kompas ditambah dengan 4 artikel di harian lokal maka anda bisa memperoleh Rp 50.000-65.000. lumayan kan? Bandingkan dengan gaji yang sebesar Rp 90.000 perbulan. Penulis sendiri, pada waktu itu juga memanfaatkan kemampuan menulis untuk mencari penghasilan tambahan. Saya kebetulan di ajak teman untuk bergabung dengan Majalah Elektronika di Bandung. Disamping menjadi anggota redaksi tersebut, saya juga menjadi penulis buku. Saya punya kesepakatan dengan Penerbit. Waktu itu, setiap naskah buku yang saya serahkan saya dibayar Rp 1.000.000 ( satu juta ). Dengan catatan, besarnya honor penulisan 12.5 % dari harga buku. Jadi besaran satu juta itu adalah pembagian honor yang dibayarkan di depan, yang nantinya akan diperhitungkan kemudian. Kesepakatannya biaya itu, adalah biaya untuk membantu penulisan; seperti biaya untuk pembelian buku-buku referensi dan kebutuhan lainnya.