Sinergi Bersama Mengembangkan Bisnis di Perbatasan

Sinergi Bersama Mengembangkan Bisnis di Perbatasan

Perpaduan pemanfaatan Dana Desa dengan program TMMD dipercaya akan mampu memberikan semangat pembangunan baru di daerah atau di desa- desa perbatasan

Oleh harmen batubara

Kita lihat wilayah perbatasan kini sudah terbuka, kini sudah ada jalan parallel perbatasan, semua Pos Lintas Batas Negara (PLBN) sudah dibangun kembali dengan berbagai sarana pusat bisnis yang menjanjikan. Jalan Tol Laut dipastikan menjangkau semua wilayah perbatasan. Potensi daerah wisata yang selama ini belum terpikirkan kini sudah jadi pilihan yang menarik untuk dikembangkan. Kita tahu begitu banyak potensi wisata yang ada di daerah perbatasan. Alamnya yang indah, masyarakatnya yang ramah serta akses perjalanannya yang kian mudah adalah sesuatu yang menarik untuk dikembangkan.

Sebelum Adanya Dana Transfer Desa, yang jadi primadona untuk membantu Desa adalah program TMMD. Misalnya kita bisa melihat pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Barat (Kalbar), kala itu mengakui, sangat membutuhan Program Tentara Membangun Desa (TMMD) sebagai salah satu motivator pembangunan di dalam berbagai strata kehidupan. Gubernur Kalimantan Barat, Cornelis, Kamis (6/3/2014), mengatakan, di Provinsi Kalimantan Barat, Program TMMD diprioritaskan sebagai program pendampingan di dalam pembangunan berkelanjutan di kawasan dengan Negara Bagian Sarawak, Federasi Malaysia.

Apalagi “ Dengan berdasarkan surat edaran Menteri Dalam Negeri, Program TMMD sudah bisa dimasukkan ke dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Dengan demikian maka program TMMD di Provinsi Kalimantan Barat, sudah dapat dimasukkan ke dalam APBD Tahun Anggaran 2015 mendatang,” kata Cornelis. Menurut Cornelis kala itu, di kawasan perbatasan Program TMMD yang dibutuhkan seperti penyuluhan dan pembangunan fisik seperti jalan lintas desa, pencetakan sawah, pembangunan jembatan darurat.

Baca  Juga   :  Gerbang Satria, Model Pengembangan Pariwisata Perbatasan

Program TMMD nantinya akan disinergikan dengan Pemerintah Kabupaten Sambas, Kabupaten Bengkayang, Kabupaten Sanggau, Kabupaten Sintang dan Kabupaten Kapuas Hulu yang berhadapan langsung dengan Negara Bagian Sarawak, Federasi Malaysia. Menurut Cornelis, banyak sekali program pembangunan di perbatasan yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat, perlu disinergikan dengan TNI baik dari matra laut, udara dan darat. “TNI memiliki sumberdaya manusia yang cukup dan bisa diandalkan untuk berbagai kegiatan pembangunan seperti pembangunan infrastruktur, penyuluhan tentang nasionalisme, bela negara dan hal-hal lain yang bisa menimbulkan rasa kecintaan dan kebanggaan terhadap bangsa sendiri,” kata Cornelis.

Perlu Optimalisasi dan Kerjasama

Terus terang, perbatasan tidak hanya membutuhkan infrastruktur, tetapi yang lebih utama lagi ya pembangunan warga perbatasan itu sendiri. Mereka harus diberdayakan, mereka perlu diberikan kemampuan untuk memiliki faktor produksi seperti kebun, sawah, ternak dll yang bisa menopang kehidupan mereka. Yang kita hawatirkan pemerintah jangan hanya mempersiapkan sarana dan prasarana saja, tetapi justeru yang lebih penting adalah membekali warganya sendiri agar bisa mandiri dan berkarya. Hal ini sering jadi bahan pertanyaan, yakni bagaimana caranya agar warga perbatasan bisa berproduksi, punya kemampuan produksi, bisa punya kebun, atau punya sawah yang bisa menopang hidup mereka.

Baca  Juga   :  Menghadirkan Kesejahteraan Di Desa Pesisir 

Kalau kita lihat program TMMD ini misalnya, di satu sisi dia sudah mulai bergulir dan memberikan harapan.Misalnya TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) yang dilaksanakan oleh TNI bersama Kementerian Pertanian /Lembaga Non Kementerian, Pemerintah Daerah dan Komponen Masyarakat lainnya. Kegiatan ini dilaksanakan secara bersinergis dan terintegrasi sebagai upaya dalam meningkatkan kegiatan pembangunan didaerah guna mewujudkan kehidupan sosial kemasyarakatan yang lebih baik dan mandiri.

Sasaran kegiatan TMMD ini diutamakan pada daerah-daerah yang tergolong daerah miskin/tertinggal, daerah terisolir/terpencil, daerah perbatasan/pulau pulau kecil terluar dan daerah kumuh perkotaan serta daerah-daerah lain yang terkena akibat bencana agar memiliki ketahanan wilayah yang tangguh dalam menghadapi berbagai permasalahan. Misalnya pelaksanaan TMMD tahun 2012, dukungan sektor pertanian telah  mendorong pembangunan wilayah/perdesaan sehingga menjadi pusat pertumbuhan ekonomi perdesaan.  Dukungan sektor pertanian terhadap program TMMD merupakan kelanjutan dukungan tahun sebelumnya yang dilakukan  dalam bentuk pemberian bantuan paket berupa agroinput (benih/bibit) sesuai dengan kondisi agroekosistem wilayah setempat.  Dukungan ini diharapkan akan menjadi penggerak bagi para petani yang desanya mendapatkan program TMMD.

Pelaksanaan TMMD ke 88  dan 89 tahun 2012 dilaksanakan di 29 provinsi yang tersebar di 65 kabupaten, 69 Kecamatan, dan 110 Desa, dan serentak dan dibuka pelaksanaan WASEV pada bulan Juni 2012 sedangkan kegiatan TMMD ke 88 dilaksanakan di 65 Kabupaten, 75 Kecamatan, dan 158 Desa, hal ini disesuaikan dengan anggaran yang tersedia sesuai dengan Rencana Operasional Kegiatan Kementerian Pertanian Biro Perencanaan Tahun 2012, yaitu masing-masing lokasi sasaran/desa akan mendapat Rp.10.000.000,- (sepuluh juta rupiah). Untuk pengadaan benih/bibit yang pelaksanaannya yaitu dengan pengadaan langsung di lokasi sasaran TMMD karena jenis bantuan benih/bibit di masing-masing lokasi tidak sama/berbeda.

Dana Desa Melahirkan Kehidupan Baru Di Perbatasan

Kini wilayah Perbatasan sudah Terbuka. Karenanya kini wilayah perbatasan perlu di rekayasa dengan jalan menempatkan satuan-satuan TNI setingkat Kompi dan daerah trans lokal yang bisa saling menghidupi. Kalau kita sebut TNI dengan kekuatan satu Kompi berikut keluarga mereka, maka jelas akan jadi potensi pasar yang sangat berarti bagi wilayah tersebut. Mereka membutuhkan sayuran, ikan, padi dll yang bisa disuplai oleh desa di sekitarnya. Hanya saja, desa trans ini harus lebih mengutamakan warga lokal atau campuran dengan jumlah yang lebih besar dari warga lokal.

Kita bisa bayangkan bagaimana jadinya wilayah perbatasan kalau misalnya di pulau Sebatik, atau di perbatasan Malinau, Nunukan di tempatkan satu satuan setingkat kompi marinir atau satu kompi infantri. Begitu juga kalau di taruh satu kompi di Muting atau Obrup di Papua, atau di Motamasin atau wini di perbatasan Timor Leste dll. Untuk dislokasi penentuan satuan TNI di wilayah perbatasan tentu TNI punya pakar yang handal untuk itu. Kita berharap kehidupan warga desa diperkuat kemampuan produksinya. Maksudnya meningkatkan kemampuan warga perbatasan agar punya sawah, kebun sendiri. Kalau mereka sudah punya tinggal mengoptimalkan kemampuannya agar mereka bisa jadi petani atau pekebun yang baik.  Hal ini bisa terlihat di perbatasan antara Indonesia dan Malaysia di Kalimantan Barat. Dari dahulu (saya perhatikan ini sejak tahun 1980an) kalau kita lihat wilayah Malaysia maka yang terlihat adalah kebun yang tertata, rapi dan sejahtera. Sebaliknya di wilayah kita yang ada adalah gersang, semak-semak yang tidak terurus, kumuh serta perkampungan miskin tidak terawat.

Pemerintah kini sudah membangun infrastruktur serta pasar  yang ada di setiap PLBN yang ada. Kita berharap agar kegiatan ekonomi perdagangan di area PLBN ini dapat terkoordinasi dengan Negara tetangga dengan baik, sehingga menjadinnya jadi lokasi bisnis dan dagang yang mermanfaat untuk kedua warga yang bertetangga. Karena bagaimanapun pasar bersama perlu dikembangkan, sebab di sanalah para pihak akan dapat bertemu dan membangun sinergi ekonomi, yang saling terbuka dan menguntungkan di perbatasan. Artinya warga perbatasan bisa berusaha dan bertransaksi di pasar-pasar perbatasan secara bebas dan legal.  Harapan kita BNPP dan Kementerian/Lembaga, serta Pemda bisa melakukan koordinasi lintas sektor dengan Negara tetangga dan mengembangkan pasar perbatasan secara terpadu dengan Negara tetangga dalam kerangka kerja sama Asean.

Kini dengan adanya UU Desa, serta realiasi Dana Transfer Desa boleh dikatakan sekarang pemerintahan Desa punya power sendiri untuk menggerakkan pembangunan di desanya. Terlebih lagi, di desa juga sudah ada petugas atau Lembaga pendamping desa yang bisa memberikan saran dan masukan tentang bagaimana pembangunan di laksanakan di wilayahnya.Salah satu yang menarik adalah munculnya kreasi warga perbatasan dalam mengembangkan potensi daerahnya dalam hal pariwisata. Hal ini bisa kita lihat dari “Gerbang Satria” di Desa Lumbis, Pensiangan Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara.

Gerakan pembangunan ini adalah dengan memanfaatkan keindahan alam serta kesejukan udaranya untuk menarik para wisatawan. Camat Lumbis Pansiangan, Lumbis S.SOS menuturkan, Gerbang Satria  akan berkolaborasi menggarap sektor wisata Riam atau Giram, hiking ( mendaki gunung), wisata kuliner khas ikan Palian (ikan Emparau atau ikan Kela) dan ikan Saladong (ikan Patin). Kita ikut senang melihatnya karena  Gerbang Satria  adalah  semacam rule model pengembangan pariwisata dengan memanfaatkan “Dana Desa”.

Sinergi Bersama Mengembangkan Bisnis di Perbatasan
Sinergi Bersama Mengembangkan Bisnis di Perbatasan

Gerbang Satria kini telah membangun beberapa Homestay  dengan fasilitas seperti TV, perangkat  masak. Pengunjung dapat membawa bahan makanan dan masak, hingga layaknya di rumah sendiri.  Mereka juga membangun sarana jembatan merah putih dengan panjang 1.7 Km dari kontruksi Ulin. Jembatan ini di lengkapi dengan sarana santai,  sambil menikmati kopi di bawah naungan payung Gazebo. “Gazebo dan Kursi Lonjor yang enak dan empuk ini bisa dibawa santai ke pinggir sungai, sambil melihat atau main rafting atau juga main jetski Riam atau Giram.

Warga senang menyebutnya sebagai ‘Desa Jet Sky’ karena memang sudah mulai banyak yang mencobanya. Mereka bisa wisata berselancar di sepanjang sungai Sedalid. Air Sungai Sedalid jernih dan alami. Menariknya lagi, lokasi ini hanya berjarak 500 meter dari Giram Buatan dan Giram Ujud yang menjadi andalan wisata Arung Giram Desa Langgason. Untuk menumbuhkan kegiatan ini masyarakat juga tergerak untuk menata rumah-rumah mereka agar bisa dijadikan semacam “home stay”. Rumah itu berjejer di pinggir sungai dan langsung berhadapan dengan pemandangan alam gunung dan sungai. Jadi idenya, kalau sudah capek bermain jetsky, mereka bisa langsung ke home stay untuk istirahat sejenak. Lokasi wisata ini terletak di ujung perbatasan Indonesia-Malaysia, kurang lebih 1-2 jam ke Malaysia.

Mereka juga sudah memiliki fasilitas perahu karet, Jetki Yamaha dan Seedoo. Sudah ada  124 Payung Gazebo, 58 Kursi Lonjor  yang bisa mereka bawa sepanjang jembatan spot wisata mulai dari Sumentobol hingga Muara Sungai Sipatal desa Langgason. “Wisatawan tinggal sebut titik giram mana yang mau tempat main”  “Semuanya dibangun dengan menggunakan mekanisme pendanaan dana desa (DD) yang dimulai pada tahun 2020 dan terus dikembangkan pada DD tahun 202.

Melihat Gerbang Satria ini saya lalu ingat Desa Tadangpalie di Pinrang Sulawesi Selatan yang dulunya desa miskin tetapi kini jadi Desa pariwisata yang poluler dan sejahtera. Dulu, Desa Tadangpalie, Kab Pinrang SulSel meski punya pantai yang indah. Tapi saat itu  hanyalah salah satu dari puluhan desa tertinggal, tanpa mata pencaharian kecuali jadi  nelayan subsisten miskin untuk sekedar memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tapi kemudian berubah. Desa dengan garis pantai yang panjang, bersih dan landai, menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk datang menikmati pemandangan laut yang indah dipadu dengan kuliner olahan hasil laut.

Baca  Juga  :  Travel Ke Perbatasan Wisata Ke Ujung Negeri

Kini setiap hari libur, desa ini ramai dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah di Sulsel jumlah pengunjung mencapai ribuan orang dan sering terjadi kemacetan. Sepanjang hari, mobil dan motor berdatangan silih berganti. Ratusan orang bahkan memilih berjalan kaki sekitar dua kilometer dari tempat parkir ke pantai. Terlihat pula, beberapa mobil truk besar berdatangan membawa puluhan pengunjung, yang sebagian besar adalah anak-anak. Ekonomi warga jelas berubah dan kian sejahtera.

Kita percaya para pengdamping desa di tingkat Kabupaten- Kecamatan sudah bisa melihat sektor mana yang perlu di bangun oleh masing-masing desa di suatu kawasan atau wilayah. Dengan demikian pembanguna desa bisa saling sinergi dan saling membuka peluang bagi desa tetangganya. Dalam hal seperti ini, jelas sangat baik kalau potensi Desa, TTMD bisa lebih dioptimalkan lagi agar desa bisa berkembang sesuai harapan warganya dan jadi fondasi yang baik bagi pembangunan Indonesia sendiri.

Gerbang Satria, Model Pengembangan Pariwisata Perbatasan
Gerbang Satria, Model Pengembangan Pariwisata Perbatasan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *