Blog

Wilayah Perbatasan, Poros Maritim Kepri Perlu Memanfaatkan Tanjung Datu-Entikong-Natuna

Oleh harmen batubara

Karena situasi yang sudah kritis, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau menyiapkan dua kapal untuk distribusi barang dan kebutuhan pokok ke pulau terluar di daerah itu. Selama ini warga di pulau-pulau terdepan, seperti Kepulauan Natuna dan Anambas, sangat menggantungkan pasokan bahan kebutuhan pokok kepada Batam dan Tanjung Pinang. Kedua kapal itu, kata Gubernur Kepulauan Riau Muhammad Sani di Batam, kompas (30/1/2015), masih bisa untuk memenuhi kebutuhan. Pekan lalu pasokan bahan kebutuhan pokok ke arah pulau terluar memang tertunda akibat cuaca buruk. ”Saat ini kapal distribusi dan kapal swasta sudah bisa mengunjungi wilayah-wilayah tersebut,” katanya.

Tersiar kabar, krisis sembako telah terjadi di Midai, Kabupaten Natuna dan sudah memasuki tingkat memprihatinkan. Semakin minimnya pasokan sembako di sejumlah toko di daerah tersebut kian meresahkan warga. Hal ini disampaikan Alim, salah seorang pedagang sembako terbesar di Midai saat dihubungi via ponsel, Kompas Com (29/1/2015). Menurut Alim, sudah 10 hari belakangan ini kekosongan sembako terjadi di Midai. Tak hanya berkurang, tapi stok yang ada di toko-toko memang sudah kosong sama sekali. “Seminggu yang lalu ada kapal dari Tanjungpinang masuk, tapi itu hanya sampai Natuna dan Ranai, Untuk wilayah Midai belum ada masuk kapal yang mengangkut pasokan sembako dari Tanjungpinang,” ujarnya.

Kabar kedatangan kapal yang mensuply sembako ke darah Midai diperoleh sekitar satu minggu atau 10 hari mendatang. Untuk menunggu suply sembako tersebut, kata Alim, dikhawatirkan berefek buruk terhadap kelangsungan hidup masyarakat. “Apa kami harus menunggu dan menunggu lagi. Kami sangat memohon kepada pemerintah agar cepat merespon dan mengambil tindakan dalam hal ini,” kata Alim.
Wakil Ketua Komisi III DPRD Prov Kepri, Sofyan Syamsir, menyikapi hal itu menyebutkan bahwa pemerintah terkesan lambat dalam mengatasi masalah ini. Sudah lama kondisi itu terjadi di Midai, namun realisasinya belum berjalan. “Saya harap pemerintah segera turun tangan dalam mengatasi masalah ini. Jangan tunggu sampai saudara kita yang di sana (Midai-red) terkena musibah kelaparan baru bertindak,” tegas Sofyan.

Kapal Sudah Sampai

Menurut Gubernur Kepri ”Kapal sudah jalan dan sudah sampai, hanya saja kemarin kesulitan karena kondisi cuaca. Saat ini baru satu kapal yang sudah beroperasi,” katanya lagi.Gubernur menjelaskan, satu kapal yang telah beroperasi itu bagian dari realisasi dua kapal yang dijanjikan pemerintah pusat. Kapal tersebut dioperasikan oleh Pelni.Gubernur menjanjikan kapal lain milik swasta pekan ini juga beroperasi kembali setelah pekan lalu tidak dapat berlayar ke pulau terluar membawa bahan pokok.”Pengadaan kapal-kapal itu merupakan bagian dari program Pemerintah Kepri untuk pembangunan maritim sehingga pemerintah pusat tidak sulit dan cepat menyetujui untuk merealisasikannya,” katanya.
Kompas menuliskan, Pemprov Kepri semula menganggarkan pembelian kapal senilai Rp 22 miliar per unit, tetapi rencana itu dibatalkan. Namun, Pemprov Kepri dan dan pemerintah kabupaten masih tetap menganggarkan untuk pembelian kapal kecil untuk kebutuhan antarpulau.”Jadi, untuk jarak jauh menggunakan kapal besar bantuan pemerintah, sedangkan jarak pendek antarpulau menggunakan kapal pemprov,” kata Sani.Rizal Saputra dari Humas Pemprov Kepri menambahkan, pekan lalu cuaca buruk dan gelombang tinggi hingga enam meter membuat kapal-kapal antarpulau dan kapal Pelni tak dapat beroperasi.
Rizal menjelaskan, Kapal Motor Kawa Ranai, meskipun tetap berlayar mulai dari Tanjung Pinang, ibu kota Kepri, tidak dapat menyinggahi sejumlah pulau, yaitu Pulau Midai, Pulau Tiga, Sedanau, Kelarik, Pulau Laut, dan Pulau Ranai. Kapal itu malah berlayar ke Pulau Natuna dan tidak menyinggahi rute seperti biasanya. Masyarakat di pulau-pulau yang seharusnya disinggahi kemudian tidak mendapatkan pasokan kebutuhan pokok. Rizal menegaskan, seiring cuaca yang membaik, pasokan bahan kebutuhan pokok sudah berjalan kembali. (Kompas, ODY,2 februari 2015)

Manfaatkan Tanjung Datu-Entikong

Daei sisi Geografis Kabupaten Natuna terdiri dari 98,84 persen berupa lautan. Keadaan tersebut menempatkan angkutan laut menjadi sarana utama untuk menghubungkan suatu pulau dengan pulau lain, dari desa ke ibu kota kecamatan dan dari kecamatan ke ibu kota kabupaten. Sarana perhubungan di sektor angkutan laut terlihat semakin baik dengan bertambahnya jumlah kapal dan frekuensi pelayaran untuk menghubungkan Pulau-pulau yang ada di wilayah Kabupaten Natuna. Pada saat ini, setidaknya ada 6 (enam) transportasi laut (Kapal) yang dipergunakan untuk angkutan umum masyarakat, yaitu :KM. bukit raya; KM. kawaranae 2; KM. sabuk nusantara 39; KM. trigas 3;KM. ceria 8; dan KM. bahari 5 tetapi semua itu lewat jalur Kepulauan Riau.
Pengalaman penulis pada tahun 1991, saat memetakan kepulauan Natuna kita sepenuhnya memanfaatkan jalur Tanjung Datu sebagai pemasok logistik. Artinya kita menyewa kapal dan sekaligus menjadikannya logistik terapung dengan mengandalkan suplai Logistik dari Entikong. Ternyata kalau dibandingkan dari sisi waktu, biaya dan kemudahan justeru jauh lebih murah jika dibandingkan kalau kita memanfaatkan Tanjung Pinang sebagai pasar pemasok.
Karena itu alangkah baiknya serta dikaitkan dengan pembukaan wilayah perbatasan di sepanjang perbatasan RI-Malaysia di Kalimantan maka pengembangan Natuna justeru lebih dekat dan lebih sinergis bila memanfaatkan jalur Tanjung Datu-Entikong. Karena itu kita menyarakan agar Pemda Kalimantan Barat lewat Kabupaten terkait untuk membuka Pelabuhan di Tanjung Datu. Dengan adanya rencana pemerintah Jokowi-JK yang akan membuka jalan raya paralel perbatasan, maka sesungguhnya pusat perekonomian baru dan menjanjikan adalah dengan membuka Pelabuhan Besar di Tanjung Datu. Di percaya hal ini akan menjadikan pengembangan Natuna ke depan akan lebih bersinergi, terutama kalau suatu saat nanti sudah ada perusahaan yang akan memanfaatkan potensi Gas di Natuna.

One Response

Page 1 of 1
  1. coretan pena says:

    ok tu……………………………..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *