Blog

Wilayah Perbatasan, Pengembangan Sabang Sebagai International hub Port Transhipment atau Kota Wisata

Oleh harmen batubara

Saya terahir ke Sabang Maret tahun 2010, saat menjadi Tim pendahulu ke Pulau Rondo sebelum Menhan berkunjung ke Pulau Rondo, yakni pulau terluar paling Barat. Kemudian pada bulan april Menhan secara resmi mengunjungi pulau tersebut. Dari liputan Media Indonesia (4/7/2010), menuliskan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro prihatin terhadap perlengkapan militer yang dimiliki personel TNI yang menjaga pulau perbatasan Indonesia. “Saya merasa prihatin dengan peralatan militer yang dimiliki anggota TNI di Pulau Rondo, karena peralatan yang ada masih minim untuk melakukan pemantauan daerah itu dari berbagai aksi pencurian,”.
Sebanyak satu pleton pasukan yang ditempatkan di sana masih belum memiliki peralatan yang memadai akibat anggaran yang dimiliki masih terbatas. “Kami akui minimnya anggaran yang kami miliki berdampak terhadap peralatan militer yang kita punya saat ini,” jelasnya waktu itu. Idealnya untuk penjagaan Pulau Rondo, terutama yang berdekatan dengan Selat Malaka itu, dibutuhkan peralatan seperti kapal cepat dan peralatan monitoring lainnya. Pada waktu itu prajurit hanya dibekali senjata laras panjang dengan jangkauan 300 meter. Tanpa Radar dan tanpa apa-apa. Sungguh ironis.
Untuk mencapai pulau Rondo, bisa dari Sabang, kalau memakai kapal patrol Lanal, dapat dicapai sekitar satu jam. Sebenarnya, kehidupan di pulau itu cukup menyenangkan, hutannya masih rimbun,Posisinya berbatasan dengan India dan Thailand. Pulau Rondo bersama Pulau Weh, Pulau Klah, Pulau Rubiah dan Pulau Seulako masuk dalam Kabupaten Sabang. Pulau Rondo tidak ada penduduknya, pulau ini bisa dimanfaatkan untuk pariwisata karena memiliki kakayaan laut yang melimpah. Dipulau ini terdapat mercusuar dan dijaga secara bergiliran, oleh prajurit marinir. Di pulua ini ada Titik Dasar (TD) no. 177 dan Titik Referensi (TR) No. 177, telah dibangun tugu/prasasti disana oleh angkatan laut. Karena letaknya yang sangat stategis dijalur lalulintas pelayaran antara Asia dan Eropa maka perlu dibangun pos pengamat angkatan laut dan pulau ini perlu menjadi perhatian khusus. Tetapi itu baru wacana, sampai sekarang belum bisa di apa-apakan, termasuk untuk pembuatan dermaga sederhana (semoga sekarang sudah ada).

Semangat Mengembangkan Sabang

Selama ini konsep Pemda Aceh yang mengemuka terkait pengembangan Sabang ada dua hal. Pertama mereka yang lebih cenderung untuk mengarahkan pengembangan Sabang menjadi Kota wisata, kota yang jadi tujuan pariwisata. Mereka menginginkan Sabang yang terkoneksi dengan pusat-pusat Pariwisata dengan negara tetangga seperti Phuket Thailand-dan Langkawi Malaysia. Menurut mereka Sabang mempunyai tempat-tempat indah yang sangat menarik untuk dikunjungi. Kedua, menjadikan Sabang sebagai International hub Port dan Transhipment, yakni dengan melihat besarnya tonase kapal-kapal kontainer kargo yang lewat Selat Malaka. Setiap hari ada 50-60 kapal kontainer kargo dan BBM yang melintasi Selat Malaka. Kalau saja Sabang bisa memberikan layanan yang baik; lebih dari yang diberikan Kalkutta India, pasti orang akan mau singgah dan istirahat atau isi ulang kebutuhan pelayaran mereka di Sabang.

atuguno3
Pemerintah Aceh sendiri sepertinya lagi semangat-semangatnya untuk mencari jalan yang pas untuk pengembangan Sabang ke depan. Sebut misalnya pemerintah Aceh tengah mengajak Dubai Port World (DPW). Pertemuan dengan Dubai Port, diwakili oleh Mr. Kenneth Law, Komisaris Terminal Petikemas Surabaya (TPS) dan Mr. William Khoury, CEO Dubai Port World Asia Pacific Region, berlangsung di Operation Room Kantor Badan Investasi dan Promosi Aceh, Selasa, (9/12/2014) lalu. DPW adalah salah satu marine terminal operator dunia dan telah beroperasi di lebih 60 terminal di enam benua termasuk Indonesia, China, Korea, Hongkong, Philipina, Vietnam dan Thailand menjadi calon mitra yang sangat potensial dalam pengembangan Pelabuhan Sabang sebagai pelabuhan utama di Aceh.
Kepala Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS), Fauzi Husin memaparkan kesiapan Sabang sebagai vocal point kawasan maritim di Aceh yang juga sejalan dengan konsep poros maritim atau marine transportation connectivity, salah satu program utama yang sedang digaungkan oleh Pemerintah Indonesia terkini. Kawasan Sabang direncanakan sebagai hub pelabuhan berkelas internasional dan transhipment (alih kapal). Dengan keunggulan Sabang, terutama kedekatannya dengan Selat Malaka serta kedalaman laut natural sedalam 25 meter diharapkan dapat menjadi daya tarik shipping line (perusahaan penyedia layanan kapal kontainer).
Pihak DPW melihat peluang investasi yang begitu besar pada Sabang sebagai sentral hub port di Selat Malaka. Namun, intinya untuk mewujudkan visi tersebut, DPW menekankan perlu adanya fokus pada produktivitas di kawasan itu sendiri; karena operasional utama pelabuhan adalah kegiatan ekspor-impor khususnya berbagai hasil produksi seperti agro industri. Dapatkah Aceh mengembangkan produktivitas warganya sehingga menarik pihak luar untuk datang membeli dan membawanya ke negerinya? Kalau potensi seperti itu sudah ada serta dikaitkan dengan ramainya jalur selat Malaka, maka barulah pengembangan Port menjadi menarik. Bagi DPW yang sudah berpengalaman di Indonesia dan telah bekerja sama dengan Pelindo dalam kurun 15 tahun tentu akan memanfaatkan peluang itu kalau sudah pada waktunya.
Di sisi lain dari data tahun 2010, Direktorat Kawasan Khusus dan Daerah Tertinggal Bappenas melihat terdapat tantangan pengembangan kawasan Sabang waktu itu, antara lain adalah terbatasnya daya dukung kawasan (lahan), lantaran Pulau Weh sebagian besar merupakan daerah pegunungan (48%), perbukitan (39%), bergelombang (10%). Penggunaan lahan masih didominasi oleh hutan (53,8%), sisanya perkebunan sawah dan ladang, sementara itu untuk kawasan khusus KPBPB hanya tersedia 0,7%. Tantangan berikutnya adalah kapasitas industri daerah juga terbatas. Umumnya industri berskala kecil dengan kapasitas produksi yang rendah; pengelolaan tradisional belum profesional; terbatasnya akses modal, sarana produksi dan pasar.

Masalah lain adalah infrastruktur belum memadai. Misalnya pelabuhan nasional bila ditinjau dari aspek pertumbuhan ekspor-impor, bongkar-muat barang, jumlah penumpang, posisi dan perannya dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), dan perannya dalam pengembangan ekonomi regional. Pelabuhan internasional juga belum memadai bila ditinjau dari aspek pengelolaan potensi wilayah hinterland, pertumbuhan ekspor-impor, bongkar-muat barang, jumlah penumpang, posisi dan perannya dalam RTRW, dan perannya dalam pengembangan ekonomi regional, nasional dan internasional. Kondisi investasi pun masih tertinggal, mengingat sektor riil kurang berkembang. Begitu pula peran profesional kelembagaan pengelola kawasan masih perlu ditingkatkan; serta diperlukan pelimpahan kewenangan pusat ke daerah.

Semangat pengembangan Sabang pada era 2010 ada pada Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (KPBPB) Sabang. Dari pihak Bappeda NAD menggarsikan waktu itu bahwa arah dan tujuan utama pengembangan Sabang, yaitu mengundang investasi asing, memperluas akses kepada pasar global, merangsang kegairahan pelaku industri lokal, serta mampu membuka lapangan kerja bagi masyarakat dengan memperbaiki iklim investasi maupun faktor-faktor yang menjadi penghambat investasi. Arah berikutnya adalah sebagai zona yang berkembang menjadi kawasan internasional, dengan industri sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi dengan didukung kelengkapan fasilitas infrastruktur, keamanan, residensial dan komersial, pendidikan dan pelatihan, serta fasilitas pelayanan kesehatan dan lainnya yang mendukung. Pengembangan Sabang bertujuan mendorong dan memacu pertumbuhan, serta pemerataan ekonomi daerah dengan mensinergikan kebutuhan dan kepentingan lokal, nasional dan global. Tujuan berikutnya adalah mengembangkan New Economic Development (Socio Economic Develoment Plan).

Semangat Pemda Aceh

Juga mencoba untuk mengintensipkan kegiatan IMTGT (Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle) 2014 yang diselenggarakan di Banda Aceh pada 11-14 September 2014, pertemuan mana diawali dengan pertemuan joint business council (JBC) yang diikuti lebih dari 98 pengusaha dari Indonesia, Malaysia dan Thailand yang bergerak pada bidang private sector.
Dan secara khusus, terkait dengan potensi Sabang sebagai tujuan wisata, walikota menghimbau seluruh pemangku kepentingan yang terlibat untuk mendukung Sabang untuk berkembang dan maju ke depannya sebagai destinasi utama wisata. Pada pertemuan tersebut memunculkan inisiatif yang antara lain terkait, pembukaan rute pariwisata Langkawi-Krabi-Sabang, pengembangan konektivitas seperti penerbangan Phuket-Krabi-Sabang, Roro Ranong-Phuket-Sabang/Malahayati dan Roro Krueng Geukueh-Penang/Port Klang, dan serta, kerjasama di bidang investasi dan perdagangan seperti promosi produk essential oil Aceh.
Pada sesi update proyek, yang menarik justeru usulan JBC Malaysia mengangkat isu proyek IMT-GT Rubber Corridor. Menurut mereka dengan kerja sama ini diharapkan dapat menciptakan keuntungan bersama dan kesempatan bisnis baik bagi pihak swasta maupun perusahaan kecil lokal di masing-masing negara anggota.
Proyek tersebut akan mencakup pengembangan mulai dari pembibitan pohon karet hingga proses akhir produk karet. Guna mempercepat realisasi kerjasama, JBC Indonesia mengusulkan untuk mengadakan pertemuan khusus antara JBC dengan asosiasi pengusaha karet di masing-masing negara baik Indonesia, Malaysia maupun Thailand. Padahal kita tahu sendiri melihat betapa kecilnya perhatian pemerintah daerah maupun pusat terkait perkaretan di negara kita.

One Response

Page 1 of 1
  1. fais says:

    sukses terus untuk pemerintah aceh dalam mengembangkan sabang 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *