Blog

Wilayah Perbatasan, Membangun dan Merebut Hati Separatisme

Perdamaian Aceh memang penomenal, kita semua patut bersukur bahwa bangsa kita bisa mencari jalan keluar yang bisa diterima para pihak. Kenapa GAM berjuang dengan senjata? Ya karena cara politik sudah tidak mempan. Bayangkan, Aceh yang demikian potensial, yang para pemudanya berjuang dengan segala pengorbanan mereka melawan penjajah Aceh. Tetapi tiba di masa merdeka, ternyata tak bisa memenuhi harapan mereka. Mereka hanya dijadikan warga kelas dua di wilayahnya sendiri.

Para pimpinan negeri itu semua didatangkan dari luar, pembangunan infrastruktur hanya dengan biaya seadanya dan itupun di korupsi. Andapun  kalau di posisikan pada persitiwa semacam itu; pastilah akan menjadi pemberontak yang militant. Mungkin terlalu sederhana pengungkapannya. Tetapi itulah yang terjadi dimana-mana. Itulah yang terjadi di Thailand Selatan; di Mindanao Filipina; dan dimana saja.Mereka dicampakkan.

Memperjuangkan Harga Diri

Itulah yang dilakukan oleh Sejumlah orang yang diduga gerilyawan, telah menembak mati enam warga desa di bagian selatan Thailand yang bergolak, pada Kamis (2/4/2010). Ini merupakan serangan terakhir di wilayah yang berbatasan dengan Malaysia itu. Warga desa di provinsi Narathiwat tersebut dipercaya telah diserang, kata polisi Kolonel Sanit Suwanno. Dua mayat telah ditemukan di sebuah truk pick-up dan empat yang lain ditemukan di dekat sebuah hutan berbukit-bukit, ia menambahkan. Sementara itu, 10 polisi dan tentara juga terluka ketika sebuah bom di tepi jalan meledak saat mereka melakukan perjalanan ke tempat penembakan tersebut, menurut polisi.

Lebih dari 3.900 orang telah tewas dalam enam tahun kekacauan ketika entik Melayu Muslim berjuang untuk memperoleh otonomi dari pemerintah Thailand yang mayoritas Budha di wilayah yang hanya beberapa jam dengan mobil dari pantai wisata Thailand yang sangat terkenal itu. Sebagian besar warga Muslim setempat menentang kehadiran puluhan ribu polisi, tentara dan penjaga Budha yang dipersenjatai negara di kawasan kaya karet itu. Wilayah itu adalah bagian dari kesultanan Melayu hingga dicaplok oleh Thailand satu abad lalu.

Sekitar 80 persen penduduk tiga provinsi di Thailand selatan yakni Pattani, Yala dan Narathiwat adalah muslim. Kekerasan berjajar dari penembakan dengan naik kendaraan hingga pemboman dan pemenggalan. Kekerasan itu sering ditargetkan terhadap orang Budha dan Muslim yang berkaitan dengan negara Thailand, seperti polisi, tentara, pejabat pemerintah dan guru. (Kompas/2/4/2010/Ant/OL-06).

Trump Never Give Up: How I Turned My Biggest Challenges into Success

Trump Never Give Up: How I Turned My Biggest Challenges into Success
By Donald J. Trump

List Price: $19.95
Price: $13.39 & eligible for FREE Super Saver Shipping on orders over $25.Details

Availability: Usually ships in 24 hours
Ships from and sold by Amazon.com

97 new or used available from $4.00

Average customer review: 
(26 customer reviews)

Berikut adalah laporan-repostase Oleh Pascal S Bin saju kompas Juni 3, 2013.

Selain dikenal sebagai salah satu tujuan turisme terdepan di Asia Tenggara, Thailand juga menyimpan ”potensi” konflik di bagian selatan. Beberapa provinsi paling selatan, berbatasan dengan Malaysia dan kaya sumber daya alam, selalu dilanda teror bom dan kekerasan bersenjata. Masalahnya pun ruwet karena kelompok yang dihadapi beragam dan sulit dikenal.

Thailand selatan secara keseluruhan terdiri atas 14 provinsi. Lima provinsi paling selatan, yaitu Songkhla, Satun, Yala, Pattani, dan Narathiwat, didominasi oleh etnis Melayu dan beragama Islam. Di desa-desa tertentu di lima provinsi ini, penduduk Muslim menjadi kantong mayoritas Buddhis dan juga sebaliknya.

Aroma ikan, udang, dan cumi bakar menyergap ketika kami tiba di Balai Desa Ban Muang Ngam di Distrik Singhanakhon, Provinsi Songkhla, satu siang pada awal minggu keempat Mei lalu. Rupanya sang kepala desa, Prasan Lokhem, dan kaumnya sudah menyediakan makan siang dengan lauk hasil tangkapan nelayan tradisional di desanya.

Di satu meja panjang tersedia pula tumpukan buah kelapa muda untuk pelepas dahaga siang itu. Mereka menyambut kami dengan ramah. Mayoritas warga desa di pesisir timur, di tepi Laut China Selatan, itu adalah Buddhis, tetapi dipimpin Prasan yang beragama Islam.

”Kami hidup rukun, damai, saling membantu, dan toleran. Tidak ada kekerasan agama di sini. Jika ada kekerasan senjata di tempat lain di selatan, bukan karena masalah agama, tetapi karena hal lain,” kata Prasan.

Kehangatan yang sama kami rasakan ketika tiba di satu kampung dengan mayoritas Muslim di Ban Hua Thang, Distrik Mueang, Provinsi Satun. Lauk makan siangnya juga ikan, udang, dan hasil laut lainnya. Ban Hua Thang terletak di pesisir barat, di tepi Laut Andaman, dengan sekitar tiga jam perjalanan darat dari Ban Muang Ngam.

Kultur dan kekayaan alam

Di dua desa yang kami kunjungi itu terbina interaksi yang harmonis antara minoritas Muslim dan mayoritas Buddhis. Dalam berbagai hal mereka selalu bahu-membahu, termasuk dalam mencari nafkah.

Meski berbeda, mereka memiliki hubungan yang erat, yang telah mentradisi dari generasi ke generasi. Tidak mengejutkan jika Muslim di sana menghadiri pentahbisan biksu dan biksuni atau cara Buddhis lainnya. ”Umat Buddha juga akan bergabung dalam berbagai acara di tetangga Muslim, tanpa prasangka,” kata Prasan.

Mereka bermata pencarian sebagai nelayan, petani, pedagang, dan juga pekerja serabutan, seperti terlihat di Songkhla dan Satun. Hasil tangkapan paling menonjol adalah berbagai jenis ikan, cumi, udang, dan kepiting. Hal itu didukung kondisi alam yang potensial, yakni diapit Laut Andaman dan China Selatan.

Warga terlibat dalam penangkapan ikan serta menanam karet, padi, melon, kacang-kacangan, dan sayuran. Kelompok Buddha terlibat terutama dalam pertanian padi, kebun karet, dan produksi gula kelapa. Sementara kelompok Muslim terlibat terutama dalam usaha nelayan dan tambak kepiting. Dua komunitas itu terlibat dalam barter ikan, sayur, buah, dan hasil lainnya.

Satun pun kini tengah mengembangkan potensi ekoturisme. Wakil Gubernur Satun U-Tarn Pichcayaporn mengatakan, pemerintah kini sedang menyiapkan Satun menjadi pusat ekoturisme di kawasan Asia Tenggara. ”Kami akan menjadikan Satun sebagai kota pertanian dan menyenangkan bagi turis,” kata U-Tarn.

Satun tidak menghadapi ekstremisme kekerasan. Empat distrik di Songkhla pernah menjadi area kekerasan senjata, tetapi provinsi itu kini tenang seperti Satun. Namun, komunitas semi perkotaan di Satun dan Songkhla acap menghadapi isu sosial, seperti perdagangan narkoba, pencurian, dan perampokan.

Hidup yang damai dan harmonis memudahkan warga mencari nafkah dan menjalankan aktivitas ekonomi lainnya. Investasi asing pun mengalir dan pada gilirannya akan membantu menggairahkan perekonomian lokal.

Kekerasan senjata

Berbeda halnya dengan Yala, Pattani, dan Narathiwat di perbatasan dengan Malaysia. Kekerasan senjata sering terjadi sini sejak pertama kali muncul pada 4 Januari 2004 di Choairong, Narathiwat. Saat itu sekelompok orang bersenjata menyerang kamp militer, menguras gudang senjata berbahaya, dan membunuh beberapa tentara.

Sejak itu, kekerasan senjata dan bentuk teror lainnya, seperti aksi pengeboman, terus terjadi hingga kini dan menjalar ke provinsi yang didominasi Muslim. Muncul isu bahwa kelompok Islam sedang membangun kekuatan untuk memisahkan diri dari Kerajaan Thailand.

Kekerasan terbaru terjadi pada hari raya Waisak, yang di Thailand dirayakan pada Jumat (24/5). Satu bom di tepi jalan di Distrik Sai Buri, Pattani, meledak ketika satu regu paramiliter berpatroli dengan sebuah mobil pikap. Empat orang tewas seketika dan seorang lagi tewas setelah tiba di rumah sakit.

Menurut Kantor Perdana Menteri Thailand, sejak 4 Januari 2004 hingga 31 Desember 2012 sudah terjadi 12.597 insiden kekerasan. Setidaknya sudah 5.501 orang tewas dan 9.725 orang terluka. Baik Buddhis maupun Muslim telah menjadi korban kekerasan senjata itu.

Keamanan bukan satu-satunya masalah. Statistik tentang insiden itu menunjukkan adanya pelibatan isu lain, seperti pengaruh perdagangan ilegal, narkoba, dan kejahatan lokal. Bahkan, insiden jenis itu lebih tinggi dibandingkan yang terkait dengan gerakan separatisme.

Berangkat dari berkembangan harmonisasi antarmultikultur, etnis, dan agama di Satun dan Songkhla, pemerintah pusat melihat kekerasan senjata bukan karena faktor agama, tetapi faktor sosial, politik, dan ekonomi. Di bidang politik, salah satunya karena ribuan tahanan politik dari selatan belum dibebaskan oleh Bangkok.

Tidak terkait Islam

Hal itu juga diakui Ketua Umum Dewan Islam Thailand KH Aziz Pinakkumphol. Penasihat Urusan Islam Kerajaan Thailand ini mengatakan, konflik yang ada di beberapa provinsi di selatan tidak terkait dengan konflik antaragama, tetapi karena masalah sosial, politik, dan ekonomi.

Toleransi antarumat beragama di Thailand sangat baik. Islam, sebagai salah satu agama minoritas, kata Aziz, sangat dilindungi. Buktinya, pertumbuhan umat terus meningkat. Jika tahun lalu ada 275.165 Muslim, pada Mei 2013 menjadi 300.000 orang. Jumlah masjid di Thailand mencapai 3.650 buah dan sekitar 600 buah di antaranya ada di Bangkok.

Bangkok telah menjelaskan, kekerasan di selatan dilakukan elemen kecil separatis dan ekstremis dengan maksud menciptakan perpecahan dan kebencian dalam masyarakat yang secara historis sangat harmonis, multikultural, dan multietnis.

Masalahnya tetap ruwet. Meski upaya damai dengan beberapa kelompok pemberontak dilakukan, yang kini dimediasi Malaysia, kekerasan tetap muncul. Itu karena tidak ada satu struktur komando yang jelas, dikenal, dan disegani oleh semua elemen perlawanan di selatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *