Blog

Wilayah Perbatasan, Melihat Atambua sebagai Kota Perbatasan

Oleh harmen batubara

Batik Air yang membawa saya dari Jakarta jam 02.30 mendarat dengan mulus di bandara Eltari Kupang pada jam 06.30 tanggal 13 Oktober 2015 waktu Setempat.Itu berarti saya harus menunggu hingga jam 10.50 untuk melanjutkan penerbangan ke Atambua, penerbangan ± 45 menit dengan Lion Air. Menyadari saya masih punya waktu lebih dari cukup, maka saya mencoba menghubungi teman-teman yang ada di Kupang, minimal untuk meng update daya ingat saya terkait pengembangan perbatasan. Memang ada suatu nuansa baru terasa dari berbagai masukan yang sempat saya terima dari kawan nara sumber saya.

Bermula di awal kepemimpinannya, Presiden Joko Widodo mencanangkan pembangunan di perbatasan Negara dengan pola beda dengan yang sebelumnya. Menurut beliau perbatasan akan diwujudkan jadi beranda depan vangsa. Jadi kalau selama ini wilayah perbatasan sebagai sesuatu yang terabaikan bahkan warga jadi terisolasi, bahkan terasing di negeri sendiri. Tapi kini memang beda. Para pekerja tengah mengerjakan perbaikan jalan Motoain-Atambua di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Perbaikan jalan yang menghubungkan Indonesia dan Timor Leste itu meliputi peningkatan struktur jalan dan pemaprasan bukit untuk menyamankan ketinggian tanjakan.

Kalau selama ini keinginan untuk menghubungkan perbatasan Oekusi, wilayah kantong Timor Leste, melalui wilayah NKRI Lili di Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, hingga ke Timor Leste (main land) masih sebatas impian. Kini seolah mulai terwujut. Mereka menyebutnya poros tengah. Dalam rencananya, jaringan jalan 159,2 kilometer (km) dari Lili akan berujung di Oepoli, Kecamatan Amfoang Timur, Kabupaten Kupang. Lili yang juga dikenal karena adanya pasar khusus ternak terletak sebelah timur Oelamasi, ibu kota Kabupaten Kupang, atau 45 km dari Kota Kupang. Oepoli adalah desa yang salah satu sisi wilayahnya berbatasan dengan Oekusi, wilayah Timor Leste.

Dalam catatan kompas 19 oktober 2015, jalan poros tengah adalah jaringan jalan baru berstatus jalan negara. Pembangunan dimulai tahun 2014, dilakukan secara bertahap. Tahap awal 20 km sudah tembus hingga Kampung Kofi di Desa Oelbiteno, Kecamatan Fatuleu Tengah. Jalan selebar 10 meter ini membentang mulus berlapiskan aspal hotmix. Berbagai jenis kendaraan bisa melintas, tetapi belum sepenuhnya mulus karena masih harus menerobos alur Sungai Lili, titik awal poros tengah. Bangunan jembatannya sedang dikerjakan dan rampung Desember 2015. Pembangunan tahap kedua-juga 20 km-dilakukan sejak Juni lalu mulai dari Kampung Kofi hingga Bukit Tanini. Jembatan pun mulai dikerjakan, di antaranya di Desa Oelbiteno.

Jika menembus Oepoli, kehadiran jaringan jalan itu menggapai dua peran penting: menghubungkan kawasan perbatasan Oekusi, Timor Leste, dan membuka isolasi wilayah 15 kecamatan, yakni 7 kecamatan di Kabupaten Kupang, 4 kecamatan di Kabupaten Timor Tengah Selatan, dan 4 kecamatan di Kabupaten Timor Tengah Utara. Kawasan itu sudah lama terabaikan. Kendaraan yang bisa melintasi kawasan itu hanya jenis mobil bergardan ganda. Itu pun harus bersama kernet untuk memandu kendaraan agar tidak terpeleset, terperangkap lubang dalam, atau kandas di gundukan batu. Memang ada sebagian jaringan jalan pernah diaspal, tetapi kondisinya hancur dan berlubang-lubang. Lapisan pasir terkelupas, menyisakan gundukan batu tajam dan liar.Ketertinggalan itu kini mulai teratasi. Sebagian kampung tak lagi terisolasi. Bupati Kupang Ayub Titu Eki berharap ada alokasi dana APBN untuk menuntaskan pembangunan jalan tersebut.

Atambua Kota Perbatasan Yang Memesona?

Saya pertama kali masuk Timor Leste di Tahun 1992, waktu itu bertugas untuk melengkapi dan pengecekan ulang Toponimi peta Timor Leste yang disadur dan diubahsuai dari Peta Portugis 1970an. Pulangnya saya selalu memilih lewat Kupang, meski itu bararti lewat jalan darat dengan kondisi jalan yang jauh dari bagus. Kali kedua pada tahun-tahun  2001-2005 masih ikutan jadi Tim Penegasan Batas, baik sebagai Tim Teknis Penegasan Batas, sebagai anggota Tim Perunding perbatasan kedua Negara. Kemudian pada tahun 2013 masih terkait perbatasan tapi waktu itu terkait, penelitian Lokasi Prioritas pembangunan Perbatasan dari BNPP dan kali ini saya ke perbatasan sebagai bagian dari Tim pemotretan batas Negara dengan UHV.

Kalau anda senang pariwisata, maka jika berkunjung ke wilayah ini, Anda harus menyempatkan diri untuk sekedar melihat Tugu Kecil Atambua. Tugu ini merupakan tugu yang menandakan Kota Atambua sebagai kota yang bersih. Selain itu, tidak jauh dari tempat ini juga terdapat Kolam Susuk. Di tempat ini Anda dapat menikmati pemandangan alam yang sangat indah. Bukit Jobugujur Bakelin juga merupakan satu referensi tempat yang bisa Anda kunjungi, dimana dari atas bukit ini anda dapat menyaksikan keindahan panorama alam sekitarnya.

Kalau terkait alam pantai. Salah satu pantai andalan adalah Pantai Motadikin. Di pantai yang memiliki hamparan pasir putih ini, anda dapat menghabiskan waktu dengan bermain di pinggir pantainya yang indah, berjemur ataupun berselancar. Selain itu terdapat juga Pantai Atapupu. Anda dapat berenang di pantai yang berpasir putih cantik ini. Kalau anda suka kuliner, salah satu makanan khas adalah rumpu rampe. Makanan ini berbahan dasar utama sayuran yang terdiri dari bunga papaya, jantung pisang, daun ubi serta udang rebon sangrai. Jagung bose yang menjadi makanan khas Nusa Tenggara Timur.  Jagung bose ini terdiri dari jagung dan kacang merah yang dimasak hingga lunak kemudian dicampuri santan dan garam. Akan lebih nikmati jika dimakan bersama dengan ikan bakar. Cobalah, kalau memang anda ke sana.

Tepat jam 11.40 pesawat Lion yang membawa saya mendarat dengan mulus di Bandara AA Bere Talo, Atambua. Saya berterima kasih, karena hubungan pertemanan yang baik pa Nurman dkk dari BIG yang sesungguhnya adalah bowher kami, berkenan menjemput untuk selanjutnya ke Pos Pam Tas di Asumanu. Setelah makan siang dan perjalanan sekitar setengah jam, sampailah kami ke Pos tersebut, dan bagi saya. Ya serasa ketemu teman-teman lama. Kenapa tidak? Pertama di sana ada perwira Topografi dan kedua ternyata Batalyon tersebut adalah Yon 725 Kendari Sulawesi Tenggara. Tempat saya pernah memetakan wilayah Yonif tersebut pada tahun 1986 an.

Setelah melakukan laporan resmi dan bertukar informasi maka terasalah bahwa jaringan pertemanan di sekitar perbatasan antara TNI dan OPS Timor Leste berjalan dengan baik. Maksudnya kalau di daerah kita, maka prajurit TNI dengan senang hati mau membantu dan selalu siap setiap saat. Maka hal yang sama juga kita dapatkan dari para prajurit negeri tetangga. Suasananya ramah dan saling menghargai. Hal yang menjadi kendala dan itupun kalau bisa disebut kendala adalah tidak semua garis perbatasan itu bisa didatangi dengan motor roda dua atau mobil roda empat, terkadang Tim kita harus berjalan kaki. Ya hanya itu saja, selebihnya ya tidak ada bedanya dengan rutinitas pekerjaan survey dan pemetaan memakai pemotretan dengan moda UHV.

Cara Membangun yang Berbeda  

Selama di kota perbatasan saya sempatkan untuk mencoba melihat perbatasan dari cara sederhana, yakni melihat bagaimanakah kedua Negara dalam membangun perbatasannya. Dengan memakai mobil kembali mengawali perjalanan saya dari bandara AA Bere Talo, Atambua. Dengan menempuh jarak 30 km menuju perbatasan. Sepanjang perjalanan, kita akan melihat pemandangan laut di kiri dan perbukitan di sisi kanan jalan. Di pintu masuk perbatasan, kita melapor ke pos polisi dan meninggalkan STNK kendaraan. Sejatinya  suasana penjagaan tidaklah kaku dan juga tidak ketat. Kita bisa berjalan kaki hingga masuk ke wilayah Timor Leste. Perbatasan RI-Timor Leste ditandai dengan pilar yang terpisahkan oleh sebuah jembatan kecil di atas sungai. Ada pula gapura dengan tulisan ‘Selamat Jalan’ dan ‘Welcome to Indonesia’ di sebaliknya. “Garis batas negara berada di antara pilar ini dengan pilar di seberang sungai,” bunyi tulisan di pilar. Kata-kata tersebut juga tertulis dalam bahasa Portugis dan Inggris. Bendera Indonesia dan Timor Leste tercetak di situ. Pilar itu ditandangani oleh Hassan Wirajuda dan Jose Ramos Horta pada tahun 2005.

Masih ada lagi satu gerbang untuk melapor apabila ingin masuk ke wilayah Mota Ain, wilayah Timor Leste yang berbatasan dengan Indonesia. Untuk menuju Dili yang merupakan ibu kota negara Timor Leste, kita masih harus menempuh perjalanan darat selama 3 jam. Sebuah prasasti berbahasa Portugis terpasang di depan gerbang dengan tanda tangan Xanana Gusmao. Itu adalah prasasti peresmian gerbang perbatasan tersebut. Atas permintaan saya diantar oleh seorang petugas Alfandega berkeliling gedung perbatasan Timor Leste.  Memang berbeda jauh dengan Indonesia, fasilitas Alfandega Timor Leste sangat lengkap. Saya melihat adanya kelengkapan  hand carry x-ray untuk mendeteksi barang bawaan pelintas batas, dengan alur pemeriksaan lengkap. Di bagian belakang terdapat bangunan bertingkat, rencananya akan dipasang GAMMA RAY DETECTOR untuk truk kontainer yang melintas ke perbatasan mereka. Sarana seperti itu, setahu saya baru ada di Tanjung Priok dan Surabaya.

Di bagian belakang terdapat mess Alfandega, bisa difungsikan untuk sepuluh pegawai. Saya lalu ingat perumahan perugas batas kita di Entikong Kalimantan Barat. Kalau Malaysianya membangun rumah susun empat tingkat dengan fasilitas lengkap untuk petugasnya, sementara Indonesia hanya menyuruh para petugasnya cari rumah atau tempat kos sendiri dimana mereka bisa. Dari dua sisi ini saja kita bisa melihat begitu kontrasnya perhatian pemerintah. Satu sisi negara sebelah begitu peduli pada kesejahteraan petugasnya, sisi negeri sendiri justeru sebaliknya sangat menggenaskan.

Wilayah Perbatasan sebenarnya dikelola oleh sebuah badan, Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) yang mengkoordinasikan lembaga-lembaga yang berwenang atas kepentingan perbatasan. Seharusnya lembaga ini bisa mendorong dan menjalin kerja sama sinergi yang lebih baik untuk memperbaiki kondisi di pos-pos perbatasan. Apalagi kita tahu sesuai aturan, seharusnya penjaga perbatasan Imigrasi, Bea Cukai, Karantina dan Keamanan berada dalam satu kompleks yang terpadu. Pemerintah Timor Leste sudah membuatnya begitu, tetapi di sebelah Indonesia semua masih tercerai berai, bahkan di Wini, kantor Bea Cukai letaknya satu kilometer dari perbatasan, jauh sekali. Entah apa yang dipikirkan oleh BNPP tentang perbatasan kita itu. Padahal kita tahu, bahwa permasalahannya bukan pada anggaran, tetapi yang tidak tumbuh itu kepedulian dan rasa empati untuk menjaga kedaulatan itu yang seolah tidak terlihat adanya.

Namun demikian, kalau Atambua mau menjadikan kotanya sebagai kota tujuan perbatasan, maka ada baiknya mereka memelihara dan memoles potensi daerahnya. Baik dari sisi Alamiah, Kuliner dan Minuman Khas Atambua serta perbatasan itu sendiri. Kalau itu terkait pariwisata bisa jadi dengan menggandeng para pengelola daerah wisata dari negare tetangga seperti Australia. Membuka penerbangan langsung dari Darwin-Dilli-Atambua atau Kupang. Pemda terus memperbaiki dan menjaga kualitas jalan darat dan pusat-pusat Turis ke dan dari perbatasan. Kalau hal itu terpelihara dengan baik, bisa dipastikan Atambua nantinya akan jadi Kota perbatasan yang menarik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *