Sengketa Batas, Maling Barter Petugas
Dari sisi manapun kita melihatnya, Indonesia adalah negeri yang menarik, luas, kaya dan masyarakatnya ramah-tamah. Tetapi sayangnya, Negara ini sangat rentan dengan kepentingan Negara lain, Negara yang dengan sengaja memang mempunyai keinginan untuk memanfaatkannya demi kepentingan mereka sendiri. Karena itu, siapapun pimpinan Negara ini, pasti sudah di galang oleh kepentingan Negara lain. Masih ingatkan? Ketika Belanda menduduki negari ini sampai 350 tahun? Yang mereka lakukan adalah mengadu domba antara suku yang satu dengan suku lainnya; antara kerajaan yang satu dengan kerajaan lainnya. Belanda akan mendukung salah satu calonnya, dan dengan segala upaya calon tersebut didukung habis-habisan, dan sampai jadi. Nah setelah jadi, maka sang pemimpin harus tahu cara balas budi, dan tanpa terasa telah menjadi raja “boneka” Belanda.

Di zaman sudah merdeka halnya sebenarnya sama, yang memberikan dukungan pada calon-calon pimpinan Negara RI secara langsung maupun tidak langsung tetap ada; hanya saja caranya lebih halus dan lewat tangan-tangan yang halus pula; bisa lewat perusahaan, bisa lewat apa saja; yang tidak bisa tertangkap tangan KPUnya. Tetapi yang sering kita lihat adalah ketika para pimpinan Negara sudah jadi, pada banyak hal tidak akan berani berbuat apa-apa, apalagi kalau itu sesuatu yang bertentangan dengan pemilik kawasan. Jadi kalau pada zamannya Bung Karno dahulu beliau berani mengatakan Berdikari, Non-blok dan yang sejenisnya, maka pimpinan Negara kita yang ada saat ini, tidak akan berani merubah pakem di kawasan. Negara kita, harus menerima bahwa di kawasan ini harus ada perimbangan kekuatan antara; kekuatan barat, china dan Rusia dan Indonesia tidak boleh memilih untuk condong kepada salah satu kekuatan tersebut; sudah itu Indonesia mereka jadikan sebagai Negara yang serba tanggung, sekarat tidak, tetapi maju juga tidak. Adanya ya seperti yang kita rasakan seperti saat ini, bisa di lecehkan Negara tetangganya. Jadi kalau kita perhatikan Negara kita yang kaya dan indah ini begitu luar biasa, tetapi bagi orang lain justeru dijadikan jadi sasaran.
Lihatlah seperti isi tulisan Kompas (21/8) Di tengah menghangatnya hubungan Indonesia dan Malaysia karena kasus penangkapan tiga petugas patroli Indonesia oleh petugas Malaysia di perairan yang masih berada dalam wilayah Tanah Air, Galeri Foto Jurnalistik Antara menggelar sebuah pameran menarik. Bertajuk ”Anak-anak Kita di Beranda Terdepan Nusantara”, pameran ini sesungguhnya tak semata bicara tentang anak-anak itu.
Di balik rangkaian foto berisi tawa dan canda ceria anak-anak di pulau-pulau terluar Indonesia, ada upaya besar untuk memboyong ingatan—juga kesadaran tentu saja—tentang betapa luas wilayah negeri ini. Bahwa Indonesia bukan hanya Jakarta dan Jawa, jadi pesan yang menyirat kuat.
Indonesia adalah 5,8 juta kilometer persegi laut yang mengitari 17.504 pulau yang di jaga 92 pulau terluar. Pulau-pulau yang menjadi ”pagar” pengaman tanah dan air Indonesia. Tapal batas yang kerap terlupa dan hanya kembali diingat ketika tetangga mengusiknya. Pulau-pulau pinggiran yang terpinggirkan berbagai kepentingan, sekaligus yang juga senantiasa menjadi komoditas politik negara lain untuk mengusik Indonesia.
Dibagi dalam tiga ekspedisi ke tiga wilayah pulau terluar—barat, tengah, dan timur—tim Ekspedisi Garis Depan Nusantara berusaha melakukan pendokumentasian visual 92 pulau tersebut. Tak hanya merekam kondisi alam pulau tersebut, tim yang diawaki para anggota Wanadri ini juga berusaha menangkap ekspresi diri anak-anak mereka.
Anak-anak pulau yang jauh dari buaian Playstation dan Nintendo WII. Anak-anak yang setiap hari harus turut bergelut dengan kenyataan hidup yang nyaris tak manis buat mereka. Anak-anak yang akan senantiasa menjadi penanda bahwa Indonesia ada di sana, di tapal batas yang kerap terlupa. (Ariani Amin, Penikmat Fotografi)
Malaysia Berhasil
Sebetulnya, apa yang dilakukan oleh Malaysia selama ini yang kita lihat sebagai bentuk pelanggaran wilayah, tetapi pada kenyataannya yang mereka lakukan adalah mengolah yudhakan atau menguji cobakan sampai sejauh mana sih kemampuan TNI dalam menjaga kedaulatan Indonesia di Udara, di darat dan di laut. Dan dari sekian banyak pelanggaran wilayah yang mereka lakukan maka yang paling menyolok adalah pada kasus pelanggaran wilayah di Ambalat dan penangkapan tiga petugas KKP di Tanjung Bintan. Mereka betul-betul mempermalukan satuan TNI, khususnya TNI AL. Kalau hal seperti itu terjadi di Jepang, maka KASAL nya itu sudah hara-kiri atau minimal mengundurkan diri, sudah tentu Panglimanya juga. Tapi ini kejadiaannya kan di Indonesia; pelanggaran kedaulatan yang se kasar itu ( baca; menangkap petuga RI di wilayah yurisdiksi RI), dan konyolnya lagi malah para pimpinan Negara malah berkenan dan mau barter antara “maling ikan” dari Malaysia dengan petugas dari Indonesia. Siapapun warga Indonesia, pastilah menarik napas, nelongso, Negara yang dibela hingga taruhan nyawa oleh para pejuang kemerdekaan itu tempo doeloe, kini hanya di jadikan layaknya barang yang tiada bermartabat. Di tangan mereka Indonesia jadi hamba sahaya, yang hanya jadi pemuas napsu para Negara tetangga.
Harapan kita, agar TNI mulailah sadar diri, dan mau berbenah diri, jangan hanya langkah mati pada terbatasnya anggaran. Pakailah ilmu kalau rotan tidak ada maka optimalkanlah akar yang ada. TNI mestinya sudah tahu, di daerah-daerah mana saja yang bakal akan ada pelanggaran wilayah, maka hadirkanlah pertahanan yang layak di sana. Ingat untuk sekedar mereka bisa menghargai wilayah RI tidaklah harus mempunyai Alutsista yang mahal dan canggih, kapal-kapl patrol buatan Indonesia sendiri sudah lebih dari sekedar cukup. Maka belilah dan manfaatkan buatan dari dalam negeri. Hasilnya pasti akan lebih bersinergi, harganya lebih murah, dan ikut meningkatkan kemampuan teknologi dan rancang bangun dalam negeri, dan juga membuka lapangan kerja yang lebih banyak lagi. Sebaiknya TNI harus bisa lebih realistis.



