Rampok di Wilayah Perbatasan, di Selat Malaka
Keamanan selat Malaka, secara fisik memang memiliki nilai strategis bagi kawasan, bukan saja bagi Asean, tetapi justeru sebaliknya dan terlebih lagi bagi dunia Internasional. Selat Malaka, jelas dia, merupakan jantung sea line oil trade dan sea line oil communication. Tiga negara pantai mempunyai kepentingan besar disana yakni Malaysia, Indonesia, Singapura, terkait fungsi jalur laut tersebut. Thailand belakangan ikut melibatkan diri dalam pengamanan jalur strategis tersebut dalam operasi Malaka Straight Sea Patrol (MSSP). Operasi itu termasuk untuk menghadapi isu perompakan dan dilakukan selama 24 jam.
Selat Malaka adalah wilayah perbatasan RI-Malaysia, RI-Singapura, yang merupakan salah satu jalur laut terpadat di dunia sedang bersiaga menghadapi peringatan peningkatan aktivitas perompakan. Hal ini disampaikan Panglima Armada Barat TNI AL Laksda Marsetio di Jakarta, Jumat (5/3). “Sebenarnya bukan terorisme tapi diindikasikan kegiatan perompakan yang akan mengancam beberapa kapal yang akan melintas disana. Belum ada pernyataan ancaman teroris,” katanya terkait isu terorisme di wilayah Selat Malaka.
“Kita sudah menggelar operasi MSSP, Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Thailand, temasuk satuan udaranya. Termasuk kemarin, isu dari maritime security coast, kita punya kewajiban bersama untk mengamnkan Selat Malaka dan kita terus jajaran Koarmabar telah menggelar dilakukan sepanjang tahun menggelar operasi untuk meningkatkan kewaspadaan dan alert tersebut,” paparnya.
Polri masih menyelidiki kemungkinan teroris di Aceh melakukan aksi di Selat Malaka, menyusul indikasi serangan teroris terhadap kapal-kapal tanker yang melintas di selat terpadat di dunia itu. Kapolri mengatakan, pihaknya akan melakukan upaya cegah dan tangkal terhadap pihak-pihak yang diduga teroris termasuk yang akan melakukan aksi terorisme di Selat Malaka. “Biarkan kami melakukan penyelidikan secara utuh dan menyeluruh terhadap mereka (teroris-red), hingga didapat hasil yang pasti tentang keberadaan dan aksi mereka,” ujar Kapolri.
Ia menjamin, pihaknya akan melakukan langkah-langkah cegah ungkap dan tindak terhadap aksi-aksi yang dilancarkan para teroris di Aceh, termasuk di Selat Malaka. Kapolri mengungkapkan, kepolisian hingga saat ini telah menangkap 14 orang yang diduga teroris di Aceh. “Satu orang yang diduga teroris tewas saat penyergapan. Para pelaku yang telah ditetapkan sebagai tersangka dijerat UU Nomor 15 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Teroris,” katanya.
Dari sisi pertahanan laut nusantara disusun dengan mengacu kepada enam konsep Wawasan Nusantara, yaitu : Konsep Persatuan, Bhineka Tunggal Ika, Kebangsaan, Negara Kebangsaan, Negara Kepulauan dan Geo Politik. Strategi Pertahanan Laut Nusantara (SPLN) telah menjadikan laut sebagai medan penangkalan untuk mencegah niat pihak-pihak yang akan mengganggu kedaulatan negara dan keutuhan wilayah NKRI. Strategi Pertahanan Berlapis (Layer Defence Strategy) ditujukan untuk meniadakan dan menghancurkan ancaman dari luar melalui gelar kekuatan gabungan laut dan udara di medan pertahanan penyanggah, medan pertahanan utama dan daerah perlawanan dengan melibatkan kekuatan TNI AL berasama-sama seluruh komponen maritim yang didukung oleh kekuatan TNI AU. Oleh karena itu medan pertahanan laut ditata dalam lapisan-lapisan pertahanan sebagai berikut :
Medan pertahanan penyanggah, yaitu daerah pertahanan lapis pertama yang terletak di luar garis batas Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) dan lapisan udara diatasnya.
Medan pertahanan utama, yaitu daerah pertahanan lapis kedua mulai dari batas luar laut teritorial sampai dengan ZEEI dan lapisan udara di atasnya.
Medan perlawanan, yaitu daerah pertahanan lapis ketiga yang merupakan daerah-daerah perlawanan, yang berada di laut
teritorial dan perairan kepulauan serta lapisan udara diatasnya dalam menghadapi setiap bentuk ancaman terhadap keselamatan bangsa dan negara.
Wilayah pertahanan laut, kita dibagi ke dalam lima (5) daerah operasi, dan selat Malaka sendiri berada pada Daerah Operasi I, meliputi perairan Laut Natuna sampai dengan Selat Malaka bagian Utara dan Selat Karimata sampai dengan Selat Sunda (ALKI I) untuk menghadapi kemungkinan arah datangnya ancaman yang berasal dari corong strategis Natuna/ Laut Cina Selatan terkait dengan Malaysia, Thailand, Vietnam, Flipina dan China maupun arah datang nya ancaman dari Samudera Hindia yang masuk melalui Selat Sunda. Yang juga merupakan wilayah perbatasan dengan Negara tetangga.



