Pulau Sebatik, Jadikan Kota Perbatasan

Kota Perbatasan

Mata pencarian.      Jumlah Penduduk di P. Sebatik mencapai 25.590 jiwa, dan sebagian besar merupakan masyarakat pendatang dari Sulawesi Selatan. Masyarakat asli Pulau Sebatik adalahh suku Tidung, dengan mata pencarian utama menanam tanaman perkebunan (44%). mata pencarian perikanan sekitar 21 %. Sekitar 16% masyarakat Sebatik lainnya tergantung pada usaha tananam pangan. Peran sector perdagangan dan jasa dalam perekonomian ternyata cukup memberi kontribusi yang signiikan sebagai sumber mata pencarian masyarakat Sebatik.

kota perbatasan

Pada tahun 2007 sarana pendidikan Pulau Sebatik sudah ada 5 Taman Kanak-kanak, 9 Sekolah Dasar Negeri, 5 Sekolah Dasar Swasta/ Madrasyah Itbadyah, 2 SLTP Negeri, 1 SLTP Swasta, 1 SLTP Terbuka, 1 SMU Negeri dan 2 SMU Swasta/ Madrasyah Aliah. Rasio murid-guru untuk SD Negeri pada tahun 2008 sebesar 25,00 artinya seorang guru bertanggung jawab terhadap 25 murid, sedangkan untuk SD swasta rasio murid-guru sebesar 26,79. Sedangkan pada tingkat SLTP Negeri menunjukkan rasio murid-guru sebesar 24,97. dan rasio murid-guru pada tingkat pendidikan SLTA Umum Negeri adalah sebesar 25,19, sedangkan pada SLTA Umum Swasta sebesar 7,00.

Fasilitas kesehatan tersedia pada tahun 2008 terdiri dari puskesmas 1 buah induk, 2 buah puskesmas pembantu / Pondok Bersalin Desa (Polindes) 2 buah, puskesmas keliling 2 buah, klinik dokter praktek 4 buah, posyandu 15 buah serta 4 praktek bidan.

Pertanian meliputi pertanian tanaman pangan, perkebunan, kehutanan, perikanan dan peternakan. Pada tahun 2008 luas panen padi sawah di 1.592 ha dengan produksi sebesar 7.372 ton. Padi sawah merupakan produksi terbesar bila dibandingkan dengan padi ladang dan tanaman palawija yang ada. Di sektor perkebunanan komoditi Kakao mempunyai luas areal 11.143,20 ha hasil produksi 33.250,00 ton sekarang yang menonjol adalah kelapa sawit, tanaman yang sangat disenangi oleh warga ini tumbuh dengan pesat dan kini sudah menghasilkan 6000 ton pertahun; terlebih lagi di tetangga (Malaysia) sudah ada fabrik sawit.

Pada sektor peternakan, ternak terbanyak yang dipelihara yaitu sapi potong sebanyak 2680 ekor dengan pemotongan per tahun 134 ekor , kambing sebanyak 191 ekor, dan kerbau sebanyak 707 ekor. Produksi perikanan pada tahun 2008 yaitu 2381,40 ton untuk perikanan laut dan tambak sebesar 37,86 ton dengan jumlah rumah tangga perikanan laut sebanyak 1.061 rumah tangga.

penjaga batas

Sumber daya perikanan tangkap.  Potensi sumber daya perikanan tangkap diperairan Nunukan diperkirakan cukup besar, ikan demarsal dan udang serta ikan pelagis kecil yang tersebar disekitar perairan pulau Bukat,Pulau sebatik, Pulau Nunukan dan Pulau Sekapal. Perairan P. Sebatik diperkirakan mempunyai potensi udang sekitar 2.500 ton/tahun, sedangkan potensi ikan demersal dan pelagis mencapai 54.860- ton/tahun. Sampai saat ini tingkat pemanfaatan potensi udang telah mencapai batas MSY, sedangkan tingkat pemanfaatan ikan demersal dan pelagis sekitar 61 % (DKP dan LIPI 2001).

Alat tangkap dogol umumnya dioperasikan pada perairan muara sungai Sebaku, perairan sekitar Pulau Pulau Sebatik sampai ke perairan Tanjung Aus. Alat tangkap Pukat gondrong umumnya dioperasikan pada perairan muara sungai Sebaku, perairan sekitar Pulau Pulau Sebatik sampai ke perairan Tanjung Aus, yang digunakan untuk menangkap udang. Produksi ikan yang dominan ditangkap dengan jarrng kantong dan jaring insang adalah ikan merah, udang dan ikan kembung, masing-masing sebesar 17.001, 9.896 dan 5.698 tonm/tahun.

Pemasaran produksi ikan di Sebatik masih berupa ikan segar; industri pengolahan hasil perikanan belum bisa berkembang, karena dukungan sarana lainnya yang masih terbatas, misalnya pasokan listrik dan BBM yang tidak memadai, sehingga belum diperoleh nilai tambah hasil perikanan tangkap terutama pada saat musin panen. Saat ini mereka sepenuhnya tergantung dengan para pengusaha dari Tawao, Malaysia. Hanya karena hubungan dagang yang sudah lama dan telah baiklah yang membuat harga tidak sepenuhnya di permainkan oleh para pengusaha dari Tawao, tetapi harus diakui keuntungan besarnya tetaplah ada pada mereka.

Potensi  Budaya dan wisata. Potensi pengembangan para wisata di Pulau Sebatik terdapat kecenderungan cukup tinggi, hal ini disebabkan kedekatannya Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) dan berdekatan dengan Malaysia. Jenis wisata yang propestif untuk dikembangkan adalah ekowisata berbasis ekosistem mangrove. Objek wisata lainnya yang dapat dikembangkan adalah wisata pantai Lamampu di desa Sungai Tewan dan Gosong. Kalau objek wisata ini di hubungkan dengan Tarakan serta Kepulauan Derawan pastilah akan sangat menarik. Wisatawan yang datang ke Pulau Sebatik selama ini adalah wisatawan lokal dan wisatawan dari Malaysia, khususnya disekitar daerah perbatasan.

Masyarakat Pulau Sebatik berasal dari nelayan Kabupaten Bone, sulawesi Selatan. Diperkirakan kedatangan mereka ke daerah ini adalah pada tahun-tahun 60 an. Pada saat itu Pulau Sebatik masih berupa hutan belantara sehingga disamping sebagai nelayan, mereka juga membuka lahan untuk bercocok guna memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pada mulanya tercatat jumlah keluarga pada saat itu baru ada sekitar 30 an keluarga, mereka bermukim di pulau Sebatik.

Interaksi penduduk diwilayah perbatasan dapat berdampak positif maupun negative. Interaksi positif bila interaksi yang saling menguntungkan antar etnis yang sama didua Negara, karena adanya saling ketergantungan baik substitusi maupun komplemen sehingga pemerintah masing-masing memberika kemudahan bagi masyarakatnya dengan memberikan Cross border pass ( pass lintas batas) untuk melakukan kunjungan dagang, kunjungan keluarga dan kunjungan social lainnya yang jumlahnya kian hari semakin banyak. Sesuai kesepakatan bersama batas belanja barang saat ini masih sebesar 600 ringgit/bulan; besaran ini sudah tidak memadai lagi, terlebih lagi kalau hendak menghidupkan perekonomian di wilayah perbatasan.

Interaksi negatif merupakan interaksi yang merugikan kepentingan negara lain (terutama Negara Indonesia), sehingga perlu adanya kebijakan pemerintah dalam menangani masyarakat pulau-pulau kecil perbatasan untuk menghindari intervensi ideologi asing. Secara umum masyarakat Pulau Sebatik memiliki rasa nasionalisme yang baik, meskipun tidak berdasarkan pada prioritas suatu kelompok atas etnis tertentu. Pranata sosial yang terbentuk berasal dari hasil integrasi berbagai kepentingan kelompok terutama masyarakat Sulawesi dari berbagai etnis dan masyarakat suku tidung. Namun demikian dari berbagai referensi status sosial suku Tidung didalam eksploitasi sumber daya alam hanya sebagai buruh saja. (bersambung).

No comments yet... Be the first to leave a reply!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *