Blog

Pesan Damai dari Aplal untuk Indonesia dan Timor Leste

Oleh: Frans Sarong

Membebaskan perkampungan dari keterisolasian sekaligus mendorong peningkatan kesejahteraan warga sekitarnya merupakan agenda standar kegiatan Tentara Manunggal Membangun Desa. Namun, TMMD yang dipusatkan di Aplal ternyata berperan plus karena mereka sekaligus juga mengembuskan pesan perdamaian untuk Indonesia dan Timor Leste!

Aplal merupakan perkampungan terpencil di Desa Tasinifu, Kecamatan Mutis, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur. Perkampungan itu tumbuh di sekitar tapal batas NTT-Oekusi, wilayah enklave Timor Leste. Posisinya sekitar 70 kilometer sebelah barat Kefamenanu, kota Kabupaten TTU. Dari Kota Kupang jaraknya sekitar 250 km melalui jalan melengkung, yakni ke arah timur menuju Kefamenanu, lalu menyusur tepi utara TTU ke arah barat hingga Aplal. Lintasan terakhir ini merupakan bagian dari tapal batas TTU-Oekusi yang pamjang totalnya mencapai 114,9 km.

Pembangunan Kawasan Perbatasan Mulai Menggeliat

tasa

SEJAK dibentuknya Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP), pembangunan di kawasan perbatasan negara tampak mulai maju. Setidaknya, hak itu terlihat dari sisi pertumbuhan ekonomi, angka kemiskinan, hingga indeks pembangunan manusia (IPM) di kawasan perbatasan.Demikian dikatakan Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Gamawan Fauzi, selaku Kepala BNPP, saat membuka Rapat Kerja (Raker) V BNPP bersama sejumlah kementerian/lembaga terkait di Jakarta, Kamis (18/7).

“Namun demikian, pekerjaan kita masih sangat berat, karena banyak daerah perbatasan yang terisolir,” kata Gamawan Fauzi.

Dengan adanya pengelolaan kawasan perbatasan, kata Gamawan Fauzi, rata-rata pertumbuhan ekonomi di kawasan perbatasan negara mencapai 6,16 persen. Pada 2014 ditargetkan 7,10 persen. Sementara angka kemiskinan pada tahun 2013 turun dari di atas 20 persen menjadi 18,31 persen, dan target pada tahun 2014 sebesar 14,20 persen.“Indeks Pembangunan Manusia juga akan terus ditingkatkan, dari 67,48 poin pada 2013 menjadi 72,20 poin pada 2014,” katanya.

Dalam Raker V BNPP kali ini, lanjut Gamawan Fauzi, ada lima agenda utama yang dibahas antara BNPP bersama kementerian/lembaga terkait. Yakni, agenda penetapan dan penegasan batas wilayah negara, peningkatan pertahanan, keamanan dan penegakan hukum, pengembangan ekonomi kawasan, peningkatan pelayanan sosial dasar serta penguatan kelembagaan.

Salah satu tantangan yang harus segera diatasi dalam pembangunan kawasan perbatasan, katanya, terkait masih tingginya angka kemiskinan di daerah perbatasan, yaitu 18,31 persen. Sementara, angka kemiskinan secara nasional sudah turun yaitu menjadi 11,4 persen. Angka kemiskinan itu hampir merata di seluruh daerah perbatasan yang mencakup 12 provinsi atau 21 kabupaten/kota.

“Daya saing di daerah perbatasan juga masih rendah, yaitu 67. Padahal, daya saing secara nasional sudah mencapai 70,” jelasnya. Sementara, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Bappenas, Armida Alisjahbana, mengatakan, target pengurangan kemiskinan dan pertumbuhan ekonomi relatif baik, bila dilihat dari aspek begitu kompleksnya permasalahan akses transportasi di kawasan perbatasan.

“Ada perkembangan menggembirakan terkait pengelolaan batas wilayah negara dan kawasan perbatasan, yaitu alokasi anggarannya pada 2013 dari 24 kementerian/lembaga kini mencapai Rp 7,3 triliun, yang berarti meningkat sekitar 89 persen dari 2012 yang hanya Rp 3,9 triliun,” ujarnya (Jurnas,19 juli 2013)

Pada Senin (3/6) sejak menjelang petang, Aplal tiba-tiba berubah riuh. Ribuan warga, sebagian berpakaian adat, memadati lapangan di tepi kampung. Menariknya, sekitar 450 orang di antaranya adalah perwakilan warga asal sejumlah desa di sekitar tapal batas wilayah Oekusi, seperti Desa Mahata, Malelat, Lela Ufe, dan Banafi. Mereka menghadiri penutupan kegiatan TMMD di Aplal bersama warga setempat, yang umumnya berindukkan leluhur, suku, budaya, dan bahasa yang sama.

Dengan menumpang lima truk, kedatangan warga Oekusi ke Aplal diterima secara adat sejak di pintu perbatasan, juga setiba di tepi lapangan. Kibaran Merah Putih berdampingan dengan bendera kebangsaan Timor Leste di ujung depan massa adalah simbol kebersamaan semangat saling menghargai sekaligus menjadi peneguh rasa kekerabatan mereka.

Setelah acara makan bersama menjelang malam, mereka membaur seraya melepaskan rasa kangen. Bahkan, hingga larut malam mereka membaur dalam tarian bonet, tarian kegembiraan khas masyarakat sekitar tapal batas setempat. Tidak hanya itu. Melalui kebersamaan tersebut mereka mengumandangkan pesan perdamaian untuk dua negara bertetangga. Itu ditegaskan melalui spanduk khusus di tepi barat lapangan. Lengkap dengan logo bendera kebangsaan kedua negara, melalui spanduk itu tertulis jelas, ”Dari Tengah Pulau Timor Bagian Utara, Kami Pancarkan Perdamaian untuk Indonesia dan Timor Leste!”

”Kami warga sekitar tapal batas Aplal, sejauh ini rukun-rukun saja, saling berkunjung terkait urusan adat atau urusan keluarga lainnya. Mudah-mudahan kerukunan kami menjadi contoh bagi warga sekitar tapal batas di titik lainnya,” tutur Alexio Tefa, Komandan Perbatasan Pos Timor Leste di Mahata, saat penutupan TMMD di Aplal.

Dua misi utama

Secara nasional, TNI tahun ini menggelar TMMD ke-90, serempak di 61 kabupaten/kota, termasuk TTU. Khusus di TTU, kegiatan yang hanya didukung dana Rp 500 juta berhasil membuka jalan rintisan awal sepanjang 8 km dilengkapi 13 deker. Lainnya, membangun dua pusat pelayanan kesehatan terpadu dan merenovasi satu rumah ibadah.

Dandim TTU Letkol Eusebio Hornai Rebelo mengakui, kegiatan TMMD di wilayahnya itu mengusung dua misi utama. Pertama, mengatasi keterisolasian Aplal sekaligus mendorong kesejahteraan masyarakat sekitar tapal batas yang merupakan beranda depan NKRI. ”Misi mulia lainnya adalah mempererat kekerabatan warga dari kedua negara di sekitar tapal batas. Kebetulan mereka umumnya dari rumpun keluarga yang sama,” kata Rebelo yang adalah putra kelahiran Oekusi, Timor Leste.

Khusus jalan rintisan awal sepanjang 8 km, antara lain menghubungkan Aplal dengan persawahan Seko. Didukung areal potensial seluas lebih kurang 600 hektar, dan baru sekitar 325 hektar yang sudah diolah. Lokasi hamparan nyaris menyentuh tapal batas dengan wilayah negara tetangga. Sejauh ini tidak sedikit gabah yang dihasilkan dari persawahan itu ”lolos” ke Oekusi karena jaraknya lebih dekat daripada harus diangkut ke Aplal melalui jalan setapak sejauh 8 km.

”Setelah jaringan jalan Aplal-Seko dibuka sangat diharapkan persawahan bisa diolah lebih maksimal. Kami akan terus mendorong dan membantu agar para petani menggunakan benih unggul dan pemupukan secara teratur. Berbagai kegiatan itu merupakan bagian dari upaya TNI meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar tapal batas ini,” ujar Rebelo.

Konon, seiring pembukaan jalan rintisan awal Aplal-Seko atau hingga menyentuh tapal batas ternyata hal yang sama juga dilakukan warga Oekusi. Mereka juga membuka jalan baru hingga tapal batas ke arah Aplal. ”Kalau jaringan jalannya sudah memadai, kami bisa lebih sering saling berkunjung,” tutur Kepala Desa Lela Ufe (Oekusi) Jose Polo yang juga hadir saat penutupan TMMD di Aplal.

”Dengan jaringan jalan baru itu, selain memudahkan kami saling berkunjung, juga akan sangat membantu para petani mengangkut hasil padi dari sawah di Seko ke Aplal dengan truk atau pikap,” kata Frederikus Olin (68), tokoh masyarakat Tasinifu di Aplal. Seperti di daerah lainnya, TMMD Aplal telah membuahkan hasil konkret. Suasana penutupan—juga saat pembukaan sebulan sebelumnya— kondusif dan unik karena dihadiri sesamanya dari Timor Leste. Yang kini ditunggu kelanjutannya adalah perhatian Jakarta untuk segera membenahi jaringan jalan negara sekitar tapal batas sebagai beranda depan NKRI.

”Sudah sejak lama kami mengusulkan perbaikan jaringan jalan sekitar tapal batas ini. Nyatanya, hingga jenggot saya berubah warna jadi putih semuanya Aplal dan sekitarnya tetap terisolasi karena jaringan jalannya tetap buruk,” kata Frederikus Olin. Pemisahan Timor Leste dari NKRI meninggalkan tapal batas sepanjang 280 km. Hingga kini, sebagian besar jaringan jalannya masih berupa jalan tanah berbatu dan berlubang-lubang sehingga hanya bisa dilalui kendaraan bergardan ganda. Itu semua adalah potret beranda depan NKRI yang terabaikan!( Kompas 17 Juli 2013)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *