Pertahanan Konvensional.(3)

Oleh : Sayidiman Suryohadiprojo, Letjen TNI (Purn)

Kalau Agressor tidak berhasil menguasai Indonesia dengan Serangan Non-Konvensional, sedangkan ambisinya amat kuat untuk tetap mencapai tujuannya, maka tidak mustahil ia mengambil tindakan melakukan Perang secara terbuka. Berdasarkan pikiran bahwa ia mempunyai keunggulan di berbagai bidang, baik militer, politik maupun ekonomi, ia yakin bahwa Perang tidak akan berlangsung lama dan tujuannya tercapai.

Bahkan tidak mustahil ada bangsa yang pimpinannya begitu ambisieus untuk menguasai Indonesia sehingga tidak mau menggunakan Serangan Non-Konvensional yang masih perlu waktu panjang untuk memberikan hasil nyata. Bangsa dengan sikap dan pikiran demikian akan melakukan Perang Terbuka dan menyerang Indonesia secara militer untuk dapat menguasainya secepat mungkin.

Untuk menghadapi Perang terbuka yang dilakukan Agressor, kita menjalankan Pertahanan Konvensional, yaitu pertahanan yang disiapkan untuk menghadapi ancaman yang bersifat penggunaan kekerasan militer secara terbuka.

Indonesia harus sejauh mungkin mencegah pihak Agressor memasuki wilayah nasional Indonesia. Sebab makin banyak bagian-bagian Indonesia terlibat dalam satu perang terbuka, makin besar kemungkinan terjadinya kehancuran dan kematian pada wilayah dan rakyat Indonesia. Berbagai hasil pembangunan yang berharga dan telah kita wujudkan dengan penuh jerih payah serta biaya banyak dapat hancur karenanya. Rakyat dapat mengalami kematian yang tidak sedikit, seperti yang sudah kita lihat pada bangsa lain yang diserang dengan kekerasan senjata.

Melihat sifat bumi Indonesia dan perkembangan Seni dan Ilmu Perang, maka untuk mencegah itu kita harus mempunyai kekuatan militer, yaitu Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang seimbang dan dalam tingkat kekuatan setinggi mungkin di darat, laut dan udara. Itu berarti bahwa kita harus membangun TNI sebagai kekuatan militer professional yang tinggi mutunya.

Bangsa Agressor yang memulai perang dengan menggunakan kekerasan bersenjata tentu mempunyai kekuatan militer yang besar dan kuat. Tanpa itu ia tidak akan berani mulai perang dengan Indonesia yang wilayahnya begitu luas dan penduduk begitu banyak..

Pada umumnya Agressor akan mulai dengan serangan udara, baik ke pusat Indonesia (Jakarta, Jawa) maupun ke sasaran yang langsung akan direbut. Serangan dapat dilakukan pesawat udara maupun dengan peluncuran rudal.

Untuk menghadapi dan menolak serangan itu kita harus mempunyai pertahanan udara yang efektif untuk menetralisasi serangan Agressor. Di samping melakukan pertahanan udara, TNI-AU juga mengadakan operasi serangan udara ke tempat musuh, khususnya tempat peluncuran rudal dan pangkalan udara. Meskipun kita menganut politik pertahanan yang didasarkan strategi defensif, kita dapat menjalankan operasi offensif dalam keseluruhan strategi defensif kita. Operasi serangan udara kita juga dilakukan dengan pesawat udara maupun rudal. Selain itu, operasi serangan udara kita juga ditujukan terhadap pusat pengendalian dan pusat logistik Agressor Keberhasilan operasi serangan udara kita akan besar pengaruhnya terhadap kelanjutan aksi Agressor.

Karena Agressor berkepentingan merebut dan menguasai sebagian wilayah Indonesia, maka selain mengadakan serangan udara Agressor menggerakkan angkatan lautnya untuk menguasai lautan dan perairan Indonesia dan sekitarnya. Dengan penguasaan lautan Agressor dapat menggerakkan kekuatan untuk mendarat di bagian wilayah Indonesia yang hendak dikuasai.

TNI-AL melakukan pertahanan laut dengan melawan gerak angkatan laut Agressor dan mengusahakan agar penguasaan lautan ada di tangan kita. Setiap usaha pendaratan pasukan Agressor diusahakan dibatalkan dari segi laut oleh TNI-AL, sedangkan di segi daratnya dilawan TNI-AD.

TNI-AL juga mengadakan operasi serangan balas dengan melakukan raid ke daerah Agressor untuk menghambat atau membatalkan gerakan angkatan lautnya.

Kalau Agressor mempunyai kemampuan militer yang superior ia mungkin kurang terpengaruh oleh operasi serangan pembalasan TNI-AU dan TNI-AL. Dalam hal demikian ia akan dapat mendaratkan kekuatan daratnya di wilayah Indonesia untuk mencapai tujuan agressinya, baik pendaratan dari laut maupun pendaratan dari udara.

TNI-AD melakukan pertahanan darat dengan melawan serangan darat Agressor untuk membatalkan dan menolak keberhasilannya. TNI-AU dan TNI-AL terus melanjutkan operasi serangan pembalasan, di samping itu TNI-AU memberikan bantuan udara kepada TNI-AD untuk mengalahkan serangan Agressor.

Di samping melakukan berbagai gerakan militer Agressor pasti juga mengusahakan menggerogoti kekuatan masyarakat Indonesia dengan melakukan berbagai macam propaganda dan tindakan politik serta psikologis lainnya. Mereka akan menggerakkan kolonne ke-5 yang sebelumnya disiapkan oleh intelijen mereka dan orang Indonesia yang dapat mereka jadikan agen mereka. Untuk menghadapi itu peran organisasi Territorial sangat penting.

Pertahanan konvensional ini mengusahakan mengalahkan Agressor dalam berbagai pertempuran di darat, laut dan udara, dan mencapai penghancuran Agressor dalam pertempuran menentukan (decisive battle) yang memaksa Agressor untuk kembali ke meja perundingan. Dalam perundingan itu kita harus memaksa Agressor untuk menuruti kehendak kita.

Sejak Agressor mulai agressinya Pemerintah RI mengadakan usaha diplomatik yang aktif di arena internasional. Dewan Keamanan PBB diminta bersidang untuk menghukum tindakan Agressor dan memaksanya mengakhiri serangannya. Sebaliknya, segala propaganda Agressor yang tentu dijalankan untuk menyalahkan Indonesia dan menggunakan berbagai alasan bagi agressinya, harus dapat dipatahkan. Pemerintah RI mengerahkan aksi agar negara-negara yang bersahabat dengan Indonesia dapat memberikan dukungan diplomatik maupun logistik.

Kita usahakan agar melalui pertahanan konvensional dan usaha diplomasi Agressor dapat dihentikan geraknya mengagressi Republik Indonesia. Akan tetapi kita harus siap bahwa kecepatan gerak Agressor dapat melampaui gerak proses diplomasi. Maka kita harus siap bahwa gerakan Agressor menguasai wilayah Indonesia makin luas dampaknya. Untuk itu pertahanan konvensional harus beralih atau dibarengi pertahanan non-konvensional kalau yang pertama tidak dapat memberikan hasil yang memuaskan dalam menghentikan gerak Agressor.

Dalam tahap Pertahanan Konvensional peran Rakyat adalah menjaga semangat dan daya perlawanan yang tidak mengenal menyerah. Mengingat pentingnya semangat dan daya perlawanan yang menjadi kunci pertahanan bangsa, maka Agressor akan melakukan berbagai aksi yang melemahkan daya perlawanan itu agar Rakyat menjadi lemah dan mendesak Pemerintah untuk tunduk kepada kehendak Agressor.

Pemboman dari udara yang dilakukan Agressor, baik dengan menggunakan pesawat terbang maupun dengan rudal, mungkin tidak cukup dapat dinetralisasi oleh pertahanan udara TNI. Akibatnya akan besar berupa kehancuran dan kematian Rakyat, terutama di kota-kota. Selain itu Agressor akan melakukan aksi propaganda, baik dengan menyebarkan pamphlet melalui udara maupun melalui siaran radio dan televisi, yang sukar dibatalkan. Juga usaha Agressor untuk membentuk kekuatan kolonne ke-5 dalam masyarakat Indonesia belum tentu dapat digagalkan oleh aparat kita. Ini semua bertujuan melemahkan daya perlawanan Rakyat dan mempercepat keberhasilan Agressor dalam menundukkan kehendak bangsa Indonesia agar turut kepada kehendaknya. Hal itu semua menunjukkan betapa pentingnya peran Rakyat dalam Pertahanan serta org Terr yang menghubungkan Rakyat dengan TNI.

Peran organisasi Terr TNI dan Komponen Pendukung yang membantunya sangat penting dalam menjamin semangat dan daya perlawanan rakyat. Kalau produksi nasional harus terus dilanjutkan untuk memperkuat kemampuan pertahanan, baik dalam pertanian maupun industri, peran itu penting untuk menjaga agar disiplin masyarakat tetap tinggi dan produksi berjalan efektif. Komponen Cadangan juga sudah diaktifkan sebagai kekuatan TNI sejak Pemerintah mengumumkan mobilisasi setelah Agressor mulai serangannya.

Indonesia harus menyusun Pertahanan Rakyat Semesta yang pada tahap pertama mempunyai kemampuan pertahanan konvensional yang cukup tinggi untuk dapat menolak dan mengalahkan agressi yang dilakukan semua negara. Namun secara obyektif akan sulit sekali bagi Indonesia untuk membangun pertahanan konvensional yang efektif terhadap negara adikuasa seperti AS. Akan terlalu berat kalau sudah langsung kita membangun pertahanan konvensional yang mampu menolak agressi satu negara adikuasa. Baik kekuatan ekonomi dan industri kita masih harus kita bangun maupun pendidikan nasional masih harus kita tingkatkan sebelum kita dapat membangun TNI dengan kemampuan pertahanan konvensional setinggi itu.

Akan tetapi terhadap semua negara yang bukan adikuasa dapat dibangun kemampuan pertahanan konvensional yang dapat menolak dan mengalahkan agressi mereka. Kalau pun mereka mampu melakukan pandaratan pasukannya di bagian wilayah Indonesia melalui pendaratan dari laut atau operasi lintas udara, pendaratan itu harus dapat segera kita kalahkan.

No comments yet... Be the first to leave a reply!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge