Pergantian Panglima, dan Penegakan Kedaulatan Di Perbatasan

Belakangan ini Negara kita melaksanakan penggantian pimpinan di lingkungan TNI,  Panglima baru akan menempati posisinya untuk masa tugas yang akan datang; tetapi yang ingin kita ingatkan adalah agar wilayah kita di perbatasan dapatlah lebih terjaga, dan lebih bermartabat; dan semestinya tidak ada perlu alasan karena minimnya anggaran; karena apa ? karena sesungguhnya kalau para pimpinannya di semua lini mau dan peduli dalam menjaga wilayah perbatasan; maka lokasinya itu tidaklah seluas dan sebanyak yang kita dengung-dengungkan dan untuk itu juga, tidaklah diperlukan sarana dan prasarana yang modern;

yang penting keberadaan kita di sana dan mampu member respon yang terukur. Sekarang Panglima kita dari Angkatan Laut, dan semoga apa yang terjadi  sebagai insiden Bintan tempo hari tidak terulang lagi. Bukan apa-apa, karena pemegang kedaulatan di laut itu ya TNI-AL; dia harus ada di seluruh wilayah; tidak perlu secara fisik, tetapi yang penting TNI-AL kita bisa menguasai wilayah kita tanpa harus menghadirkan diri secara fisik di sana. Ada dua hal yang saya kutipkan tulisan kompas terkait Perundingan RI-Malaysia di Kinabalu dan Penggantian Panglima TNI.

Pertemuan Kinabalu;

Seraya menunggu pertemuan, para wartawan mendekati sejumlah pejabat. Tokoh utama yang disasar adalah Duta Besar RI untuk Kuala Lumpur Da’i Bachtiar. Da’i menceritakan sejumlah isu utama dalam pertemuan di luar masalah perbatasan, yakni perlindungan TKI dengan memperjuangkan upah layak, meminta keringanan hukuman atas ancaman hukuman mati, fasilitas sekolah bagi puluhan ribu anak-anak para TKI yang tidak bersekolah di Sabah, dan terutama silang sengketa insiden penangkapan tiga petugas KKP tanggal 13 Agustus silam.

Selepas pukul 16.10 kedua menlu keluar menuju ruang rapat pleno. Akhirnya, selepas pukul 17.30, kedua menlu keluar bersama delegasi menuju ruang pertemuan empat mata yang diatur untuk konferensi pers. Dalam konferensi pers, Hanifah membuka pembicaraan tentang menyesalkan insiden 13 Agustus.

”Negara panutan”

Selanjutya, Marty menjelaskan adanya kesanggupan Malaysia mengubah sikap dalam menangani insiden yang melibatkan aparat Republik Indonesia. Dia menjelaskan, pihaknya berhasil membawa Malaysia untuk menyelesaikan sengketa perbatasan di sekitar karang South Ledge yang masih menjadi area klaim Singapura-Malaysia. Sebelumnya, Malaysia bersikeras tidak mau berunding untuk membahas sengketa di kawasan perbatasan yang masih disengketakan dengan Singapura. ”Kita tidak akan membawa persoalan ini ke Mahkamah Internasional. Indonesia adalah panutan yang menjadi penengah dan membawa solusi bagi persoalan ASEAN,” ujar Marty.

Akhir bulan September, Marty dan Hanifah dijadwalkan kembali bertemu di tengah Sidang Umum PBB di New York, Amerika Serikat. Keesokan pagi, Selasa, pelbagai media massa Malaysia menampilkan berita tentang mengendurnya ketegangan RI-Malaysia. Sepintas lalu, ada beberapa hal yang akhirnya disetujui Malaysia. Namun, perundingan teknis dalam dua bulan mendatang dan hasilnya akan membuktikan ada tidaknya efektivitas diplomasi RI pascaperundingan Kota Kinabalu.(Kompas/9/9/2010)

Dalam catatan saya pribadi, pertemuan Kinabalu adalah pertemuan rutin antar kedua Negara; dan iramanya dari dahulu ya sama saja; hanya sekedar memelihara komunikasi, dan memang di rancang untuk saluran diplomasi biasa saja. Karena pada dasarnya kedua Negara tidak mempunyai rencana yang jelas tentang berapa lama kedua Negara berusaha dalam menyelesaikan persoalan batas ke dua Negara; yang ada hanya jadwal pertemuan yang selalu dipelihara; jadi sesungguhnya pertemua Kinabalu hanyalah rutinitas yang sesungguhnya tidak berbeda dengan pertemua-pertemuan sebelumnya; tidak lebih.

Pergantian Panglima;

Tidak seperti biasanya, Panglima Tentara Nasional Indonesia Jenderal Djoko Santoso menjadi inspektur dalam upacara rutin 17-an di Markas Besar TNI Cilangkap, Jakarta, Jumat (17/9). Dalam kesempatan ini, Djoko mohon doa restu dari seluruh keluarga besar TNI berkaitan dengan rencana purnatugasnya pada akhir bulan ini. Djoko Santoso, yang telah menjadi Panglima TNI selama hampir dua tahun sembilan bulan, baru saja genap berusia 58 tahun pada 8 September lalu dan akan resmi pensiun pada 30 September. Oleh karena itu, dalam upacara rutin ini, Djoko menyampaikan permohonan dirinya yang sebentar lagi akan digantikan oleh Panglima TNI yang baru. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah mengajukan nama Laksamana Agus Suhartono, yang saat ini tengah menjadi Kepala Staf TNI Angkatan Laut, sebagai calon tunggal Panglima TNI.

Sejak awal Januari 2008 menjabat Panglima TNI, Djoko Santoso mengakui banyak hal yang masih harus disempurnakan walaupun tugas-tugas operasional yang diemban TNI secara umum telah terlaksana dengan baik. Ia memberikan penghargaan terhadap kerja keras para prajurit TNI dengan berbagai keterbatasan yang ada.

Serah terima

Sementara itu, Agus Suhartono melantik sekaligus dua jabatan strategis Komandan Komando Pendidikan TNI Angkatan Laut di Surabaya.Jabatan Komandan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Seskoal) diserahterimakan dari Laksamana Muda Didi Setiadi kepada Laksamana Muda Sumartono. Sementara jabatan Komandan Komando Pengembangan dan Pendidikan Angkatan Laut diserahterimakan dari Laksamana Muda Sumartono kepada Laksamana Pertama Sadiman. (*/EDN/Kompas/10/9)

No comments yet... Be the first to leave a reply!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge