Clickbank Products

Perdagangan di Perbatasan, Kata Kuncinya Infrastruktur dan Kerjasama


Clickbank Products

by harmen batubara

Sebenarnya kalau infrastruktur dan aturannya nya dibangun dan berkualitas, maka geliat ekonomi akan mencari jalannya sendiri. Hal seperti itu terlihat jelas dalam perdagangan antara Indonesia dan Malaysia di wilayah perbatasan, pulau Kalimantan. Malaysia dengan kesiapan infrastrukturnya, ternyata telah jadi “pendikte” pasar di perbatasan, tetapi ternyata hal yang sama tidak bisa kita lakukan di wilayah perbatasan Indonesia-Timor Leste, sebab memang pemerintah tidak membangun infrastruktur di perbatasan. Yang terjadi malah sebaliknya, kelihatannya justeru pembangunan infrastruktur di Timor Leste justeru jauh lebih baik dan konsisten, sehingga produk Indonesia meski tidak punya saingan tetapi justeru belum mampu mendikte pasar seperti yang terjadi di perbatasan Kalimantan, dimana pasar sepenuhnya dikuasai produk Malaysia. Di timor Leste produknya ada, tetapi lakunya terbatas sebab harganya sudah terlalu mahal.

Bacalah pemberitaan Kompas 16/12/2011 yang menuliskan; Ada tiga negara yang berbatasan langsung dengan Indonesia, yakni Malaysia, Papua Niugini, dan Timor Leste. Perbatasan Indonesia-Malaysia menyedot banyak perhatian karena peredaran barang-barang Malaysia terus meningkat dan sebagian besar lewat penyelundupan.Perdagangan di kawasan perbatasan RI-Malaysia menjadi persoalan pelik karena produk negara tetangga justru menjadi raja, sementara produk dalam negeri tak banyak hadir. Jika tak ditangani serius, pasar dalam negeri akan terus tergerogoti. Pasalnya, peredaran barang tidak sebatas di perbatasan, tetapi juga meluas ke wilayah perkotaan.

Dari pantauan Kompas saat berkunjung ke Pontianak bersama tim Kementerian Perdagangan, pekan lalu, produk pangan Malaysia mendominasi berbagai toko. Produk tersebut juga hadir di Bandara Supadio. Produk tersebut juga mudah ditemukan di kawasan Sumatera, seperti Riau dan Medan.Indonesia dan Malaysia telah menyepakati Border Trade Agreement tahun 1970. Menurut kesepakatan itu, setiap warga negara di daerah perbatasan diberikan fasilitas border pass. Fasilitas itu berupa kemudahan berbelanja produk kebutuhan sehari-hari sebesar 600 ringgit (Rp 1,7 juta) per keluarga per bulan di negara tetangga. Fasilitas itu banyak dimanfaatkan warga negara Indonesia. Tidak hanya untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi juga diperdagangkan kembali. Tidak ada kontrol yang tegas di perbatasan. Produk Malaysia pun merajai.

Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman merilis, peredaran produk makanan dan minuman ilegal hasil penyelundupan berkisar Rp 60 triliun per tahun, sekitar 10 persen dari total omzet industri makanan dan minuman. Kawasan pesisir Sumatera dan perbatasan di Kalimantan menjadi daerah yang paling rawan. Barang-barang tersebut diselundupkan terutama melalui jalur darat. Belakangan Malaysia pun mulai melarang penjualan barang-barang konsumsi di kawasan perbatasan, antara lain elpiji 14 kilogram dan gula. Alasannya, memperketat penjualan barang bersubsidi. Bagi masyarakat di perbatasan, kebijakan itu tentunya sangat merugikan, tetapi bagi Indonesia inilah saatnya mengisi pasar di perbatasan.

Selama ini produk dalam negeri tidak banyak di perbatasan. Kalaupun ada, harganya melangit. Sebagian besar wilayah perbatasan di Indonesia merupakan daerah tertinggal dengan sarana dan prasarana sosial serta ekonomi yang sangat terbatas. Daerah perbatasan kerap dilihat sebagai wilayah yang perlu diawasi ketat karena menjadi tempat persembunyian pemberontak. Akibatnya, pembangunan lebih fokus pada pendekatan keamanan daripada kesejahteraan. Infrastruktur diabaikan. Biaya transportasi naik, biaya produksi membengkak.

Dari aspek regulasi, impor sejumlah produk juga tidak diperbolehkan melalui jalur darat. Sesuai dengan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 56 Tahun 2008, produk makanan dan minuman, alas kaki, elektronik, pakaian jadi, dan mainan anak-anak hanya diimpor melalui pelabuhan laut Belawan, Medan; Tanjung Perak, Surabaya; Tanjung Mas, Semarang; Tanjung Priok, Jakarta; dan Soekarno-Hatta, Makassar; serta pelabuhan udara internasional. Hal ini seharusnya direvisi.

Pemerintah seharusnya mulai memikirkan pembangunan pelabuhan darat di daerah perbatasan. Lewat prasarana tersebut, lalu lintas perdagangan lebih terkontrol, baik melalui mekanisme border pass maupun impor. (ENY)

Di  Perbatasan Timor Leste

Dalam kondisi infrastruktur yang seadanya, TNI mencoba ikut membantu agar perdagangan di perbatasan bisa member manfaatkan kepada warga; Hal itu terlihat saat penandatanganan nota kesepahaman pemberdayaan ekonomi perbatasan antara TNI Angkatan Darat dan dua mitra pengusaha bidang berbeda. TNI AD diwakili Komandan Korem 161/Wira Sakti NTT Kolonel Edison Napitupulu, sedangkan dua mitranya adalah Sulayman Yusuf dan Arie Rintjap.

Sulayman adalah pengusaha pertokoan dari Atambua, kota Kabupaten Belu. Perannya sebagai pembina sekaligus pemasok sembilan bahan kebutuhan pokok bagi koperasi serba usaha lintas batas di Silawan, sekitar 25 kilometer dari Atambua, kota Kabupaten Belu. Anggota koperasi itu adalah puluhan warga Desa Silawan.”Tujuan utama koperasi ini adalah menyehatkan ekonomi masyarakat sekitar perbatasan, terutama di Desa Silawan. Penjualan barang kebutuhan pokok melalui koperasi ini juga akan melayani kebutuhan warga Timor Leste, khususnya dari sekitar perbatasan,” kata Sulayman.

Arie Rintjap adalah pengusaha perikanan, khususnya penangkapan tuna. Arie yang adalah Ketua Gabungan Pengusaha Perikanan Indonesia (Gapindo) sejak setahun lalu menggeluti usaha penangkapan tuna di perairan NTT. Usahanya itu dikendalikan dari Atapupu, pelabuhan laut dekat Motaain (Belu), perlintasan utama NTT-Timor Leste.

Sesuai dengan kesepakatan, perusahaan Arie yang didukung delapan kapal, dua di antaranya kapal penampung hasil tangkapan di tengah laut, tidak hanya memburu tuna. Perusahaan juga akan membina nelayan lokal menjadi penangkap tuna.

H Gunu, tokoh nelayan Atapupu, antara lain mengakui hingga kini belum ada nelayan lokal yang memiliki keterampilan memancing atau menangkap tuna, jenis ikan yang berat basahnya 50-100 kilogram per ekor. Padahal, perairan sekitar Pelabuhan Atapupu hingga kepulauan Kabupaten Alor (masih di NTT) lazim disebut sebagai kolam tuna karena merupakan habitat jenis ikan tersebut.

Info Perdagangan di Perbatasan Indonesia-Papua New Guinea

Portal Nasional RI – Mendag Resmikan Pasar Skouw Papua

www.indonesia.go.id2/2/12

There are no translations available. JAYAPURA, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan meresmikan Pasar Skouw yang berada di wilayah perbatasan Jayapura dan Papua New Guinea (PNG), Kamis (2/2/2012). Pasar Skouw

Pasar Skouw dorong ekspor ke PNG – AntaraNews.com

www.antaranews.com2/2/12

antara perbatasan Indonesia dan PNG, diharapkan dengan penataan dan pengelolaan yang baik dapat meningkatkan ekspor produk dalam negeri ke negara tetangga tersebut,” kata Menteri Perdagangan Gita Wirjawan,

Pasar Skow Bisa Jadi Acuan Pasar Tradisional

www.bintangpapua.com2/2/12

JAYAPURA—Rencana Pemerintah dalam hal ini Kementrian Perdagangan, dalam upayanya melakukan Refitalisasi Pasar Tradisional dengan membangun 10 Pasar percontohan, terus digalakkan. “Kita mau mensosialisasikan program terbaru dari pusat, untuk melakukan Refitalisasi Pasar Tradisionil, kita akan melakukan pembangunan Pasar percontohan,” ujar Gita, “dan nanti kami akan ke Pasar Skouw (pasar perbatasan), sebagai salah satu pasar

Mendag Resmikan Pasar Skow Papua | Citra Indonesia

citraindonesia.com2/2/12

Citra Indonesia.com: Menteri Perdagangan RI Gita Wirjawan hari ini, Kamis (2/2/2012), meresmikan Pasar Percontohan kedua, yaitu Pasar Skouw di Jayapura, Papua. ”Pasar ini sangat strategis, mengingat lokasinya yang berada di antara perbatasan Indonesia dan Papua New Guinea (PNG) dan diharapkan dengan penataan dan pengelolaan yang baik, dapat meningkatkan ekspor produk dalam negeri ke negara PNG,” jelas Mendag. Nilai transaksi Pasar Skouw sekitar Rp 60

Dili Setelah Sepuluh Tahun Kemudian | Tapal Di Perbatasan.Com

wilayahperbatasan.blogspot.com1/27/10

Sekretaris Satu Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Dili Josef Victor Sambuaga yang ditemui mengatakan, dari nilai perdagangan sebesar 75 juta dollar AS antara Indonesia dan Timor Leste tahun 2008, Indonesia

Selain Arie Rintjap, di Atapupu kini telah hadir sedikitnya enam pengusaha penangkap tuna. Usaha mereka didukung sekitar 100 kapal yang melibatkan sedikitnya 200 nelayan penangkap tuna. Ternyata dari keseluruhan nelayan itu, tidak seorang pun nelayan lokal. Mereka semua didatangkan khusus dari Buton dan Bajo.

”Itulah alasan dasar kami menunggu kehadiran Pak Arie (Rintjap) karena niatnya juga akan membina nelayan lokal menjadi penangkap tuna. Dengan demikian, nelayan lokal akan merasakan manfaat usaha penangkapan tuna di kawasan ini,” ujar H Gunu.

Komitmen TNI AD

Panjang tapal batas RI-Timor Leste ada  268,5 kilometer. Khusus tapal batas wilayah NTT, kini didukung 38 pos penjagaan oleh TNI AD di bawah koordinasi Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan NTT-Timor Leste. Kawasan tapal batas sejauh 268,5 kilometer itu adalah beranda depan Indonesia yang menghadap langsung negara tetangga, Timor Leste. Kondisi kawasan sekitar tapal batas NTT umumnya sama, masih sangat miskin dan terisolasi! Rata-rata penduduk belum menikmati penerangan listrik, air bersih, pelayanan kesehatan, dan belum terjangkau jaringan jalan raya.

Seperti diakui Edison Napitupulu, TNI AD berkomitmen serius memberdayakan ekonomi masyarakat di sekitar tapal batas negara karena kawasan itu merupakan halaman depan Indonesia. Salah satu bentuk konkretnya adalah mengajak mitra pengusaha berkomitmen membangun ekonomi masyarakat perbatasan.”Ekonomi warga sekitar tapal batas harus didorong dan dibenahi. Mereka harus punya uang, sehat, dan berpendidikan baik. Ini komitmen Kepala Staf TNI AD (Jenderal Pramono Edhie Wibowo) serta arahan Panglima Kodam IX/Udayana (Mayjen TNI Eduard),” tutur Edison.

Konon, komitmen itu terinspirasi dari situasi di kawasan perbatasan Entikong dan sekitarnya di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. WNI di kawasan itu sejak lama justru berbelanja ke Sarawak, Malaysia, karena di negara tetangga itu segala kebutuhan tersedia dan harga terjangkau.

”Gambaran tidak kondusif di Entikong dan sekitarnya itulah yang mendorong TNI AD ikut berupaya membenahi kesejahteraan sekaligus mengokohkan semangat nasionalisme masyarakat kawasan perbatasan,” tambah Edison.

Butuh Kerjasama dan Infrastruktur

Malaysia bisa berhasil dan dapat menghadirkan produk Malaysia di seluruh wilayah perbatasan darat ( Kalimantan) dan Laut di Kepulauan Riau, karena infrastruktur mereka telah sampai ke seluruh wilayah perbatasan. Sehingga produk Indonesia tidak akan mampu menyainginya.  Jadi meskipun TNI dengan semangatnya mencoba mengangkat derajat dan kesejahteraan warga kita diperbatasan; tetapi tanpa dukungan infrastruktur jadinya hanya akan sia-sia; sebab biaya untuk menghadirkan barang di perbatasan harganya juga tidak murah. Faktanya memang nyata, dan itu bisa dilihat diperbatasan RI dengan Timor Leste barang ada, tetapi lakunya tidak seberapa sebab harganya sudah terlanjur mahal; karena harga transportasinya juga sangat mahal.

No comments yet... Be the first to leave a reply!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge