Blog

Perbatasan, Tertinggal dan Diterlantarkan Tidak Hanya di Perbatasan

Selama ini kita selalu menyoroti wilayah perbatasan yang tertinggal dan diterlantarkan, tetapi sejatinya masih banyak warga kita yang tidak mampu dalam menghadapi cobaan dalam kehidupannya. Bukannya karena mereka malas, tetapi memang karena situasilah yang membuat mereka kian tidak mampu. Di Negara maju, aturannya jelas. Warga yang tidak mampu akan diberikan tunjangan social, berupa uang untuk mereka bisa hidup meski dengan cara sederhana. Saya masih ingat waktu sekolah di Australia, 1985 an tunjangan bea siswanya itu sebesar AUS $800 perbulan dan itu sama persis jumlahnya dengan tunjangan warga tuna wisma di Australia.Gaji saya sebagai letnan satu waktu itu sebesar 90 ribu rupiah atau setara UAS $90. Suatu jumlah yang bukan sedikit. Nah kali ini kita mencoba melihat saudara kita yang juga miskin tetapi hidup di Banten, yang jaraknya itu tidak lebih dari 10 km dari Ibu Kota. Semoga kondisi seperti itu dapat membuat kita lebih bijak. Mari kita simak kehidupan berikut ini :

“‘RI Satu’ silakan maju ke depan,” ujar pemandu acara memanggil dengan intonasi suara dan artikulasi jelas. Seorang lelaki paruh baya berpeci miring dan berbaju koko kemudian beranjak dari tempat duduknya. Dia berjalan perlahan menuju panggung acara. Dengan sikap malu-malu, lelaki berusia 78 tahun itu diperkenalkan oleh pemandu acara sebagai “RI Satu”. Sontak para tamu undangan dan penduduk Desa Tanjung Anom, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, bertepuk tangan riuh.

Sebutan “RI Satu” diberikan kepada penerima bantuan rumah instan sederhana sehat perdana hasil pengembangan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk atau RISHA-Indocement (RI), Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman Kementerian Pekerjaan Umum dan perumahan Rakyat (PUPR) dan Habitat for Humanity. Adapun penerima kedua, ketiga, dan seterusnya hingga mencapai ke-11 dijuluki “RI 2”-“RI 11”.

Siapa “RI Satu” ini? Dialah Sarmin. Mengenal lebih dekat Sarmin sama halnya dengan menyelami makna perjalanan panjang dan perjuangan hidup. Kerutan kasar yang menyapu paras, dan kulit legamnya, adalah gambaran sempurna dari perjalanan panjang dan perjuangan hidup itu.

perbatasan terlantar

Hilda B Alexander/Kompas.com PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk bekerjasama dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemukiman Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dan Habitat for Humanity melaksanakan pembangunan perdana 11 rumah instan sederhana sehat (RISHA-Indocement) di Desa Tanjung Anom, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, Selasa (22/9/2015).

Sarmin yang beristri Unah adalah warga penerima bantuan RI. Sebelumnya, rumah mereka ini dinilai tidak layak huni oleh relawan Habitat for Humanity. Dindingnya terbuat dari bilik (anyaman bambu) yang sudah lapuk dan bolong di sana-sini. Sarmin dan Unah menutupi bolong tersebut dengan kain bekas spanduk produk perumahan dan juga poster-poster para kandidat wakil rakyat.Lantainya pun masih beralas tanah kasar dengan permukaan tidak rata. Demikian halnya dengan dapur yang hitam penuh jelaga, area itu hanya disekat oleh kain lusuh sebagai pembatas. Untuk fasilitas sanitasi serta keperluan mandi, cuci, dan kakus (MCK), mereka memanfaatkan toilet mushala dekat rumah.

Setiap malam, Sarmin dan Unah bercengkerama dalam gelap sebelum menjemput lelap. Aliran listrik sudah lama tidak mampir ke rumah yang mereka sebut “gubuk reyot” ini. “Kalau hujan, kami repot. Genteng pada bocor. Terpaksa ditutup pake plastik. Semalam hujan, emak dan bapak enggak bisa tidur,” kata Unah kepada Kompas.com, seusai berpose bareng beserta “penerima RI” lainnya, Selasa (22/9/2015).

perbatasan 2

Hilda B Alexander/Kompas.com Kondisi rumah warga Desa Tanjung Anom, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten. Dinding terbuat dari anyaman bambu atau bilik, lantai tanah, tak ada fasilitas sanitasi, dan genteng bocor, Selasa (22/9/2015).

Penderitaan tidak berhenti sampai di situ. Bunyi berderit dari perut-perut kosong adalah alunan nada yang menemani mereka menghabiskan malam. Itulah keseharian Sarmin dan Unah yang sudah hidup bersama selama lebih dari separuh abad ini. Namun, mereka bukanlah manusia-manusia manja yang hidup hanya menadah belas kasih. Keduanya adalah pekerja keras dan juga sangat tahu cara menyukuri nikmat serta berterima kasih kepada Tuhannya.

Sarmin berkisah, pagi-pagi sekali, seusai shalat subuh, dia dan istrinya pergi ke Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tanjung Anom. Keduanya membersihkan makam dari rerumputan liar dan daun-daun berguguran, membuang sampah, dan mengelap batu-batu nisan agar kembali mengilap.
Mereka tak mengantongi uang, melainkan bahan kebutuhan sebagai upah yang diberikan ahli waris yang keluarganya dimakamkan di TPU tersebut. Itu pun tak mereka terima setiap hari.

perbatasan3

Hilda B Alexander/Kompas.com Rumah Instan Sederhana Sehat (RISHA) buatan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk berbasis teknologi knock down dirancang secara modular.

Sebelum dzuhur, keduanya kembali ke rumah untuk beristirahat. Bila ada tambahan rezeki, Unah masak nasi dan ikan asin sehingga mereka bisa menyantap makan siang selepas shalat. Sebaliknya, bila tak ada tambahan penghasilan, mereka tetap bersyukur masih bisa makan nasi kendati hanya berlauk garam. Bahkan, sering mereka tidak makan sama sekali. Sebagai gantinya, mereka mengaji di atas dipan beralas tikar yang juga difungsikan sebagai tempat tidur. Satu-satunya rezeki yang mereka anggap paling sempurna dan mengalahkan rezeki lainnya adalah perlengkapan shalat. Mukena, sajadah, baju koko, dan peci mereka rawat agar dapat digunakan kembali.

“Itu saja sudah rezeki, Neng. Emak dan bapak mah enggak apa-apa, yang penting masih bisa shalat. Kadang kalau emak ketiduran atau capek, bapak suka marahin emak karena telat shalat,” kata Unah sambil menepuk-nepuk pundak suaminya.

Kurang dari dua jam

Sarmin dan Unah bukanlah satu-satunya keluarga yang hidup di gubuk reyot. Menurut National Director Habitat for Humanity James Tumbuan, ada 500 kepala keluarga yang pantas mendapat bantuan rumah layak huni di lima desa di Kecamatan Mauk ini. “Selain Desa Tanjung Anom, empat lainnya adalah Desa Kedung Dalam, Desa Marga Mulya, Desa Gunung Sari, dan Desa Sasak,” ungkap James.

perbatasan 4

Hilda B Alexander/Kompas.com Butuh waktu empat hari untuk membangun Rumah Instan Sederhana Sehat (RISHA).

Meskipun hanya berjarak kurang dua jam dari ibu kota Negara Republik Indonesia, Jakarta, kata James, fakta di lapangan menunjukkan bahwa masih ada masyarakat yang hidup sangat tidak layak, baik tidak layak dalam hal pemenuhan papan maupun sandang dan pangan. Mudah dipahami jika Sarmin dan Unah sangat antusias dan mengekspresikan kebahagiaannya mendapat bantuan rumah permanen layak huni ukuran 36 meter persegi. Mereka terus menebar senyum dan tepuk tangan gembira tatkala nama mereka disebut-sebut pemandu acara.

“Emak senang. Nanti tidur enggak kebocoran lagi,” tandas Unah dengan mata berkaca-kaca seraya tetap tersenyum seolah ingin berbagi kebahagiaan dengan siapa saja yang dijumpainya. ( Sumber : http://properti.kompas.com/read/2015/09/23/070000121/.RI.Satu.Terharu.Gubuk.Reyotnya.Diganti.Baru. Penulis n editor Hilda B Alexander)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *