Blog

Perbatasan, Poros Maritim dan Kerjasama Investasi Di Lingkar Samudra Hindia

Oleh harmen batubara

”KTT IORA pada 5-7 Maret 2017 (Indian Ocean Rim Association atau Asosiasi Kerja Sama Lingkar Samudra Hindia) telah menjadi tonggak pembaruan komitmen negara-negara anggotanya untuk mengintensifkan kerja sama. Komitmen itu tertuang dalam Jakarta Concord yang diteguhkan untuk bekerja sama di enam sektor. Pertama, memajukan keamanan dan keselamatan maritim. Kedua, memajukan kerja sama perdagangan dan investasi. Ketiga, memajukan pengembangan perikanan yang berkesinambungan dan bertanggung jawab. Komitmen berikutnya adalah memperkuat pengelolaan risiko bencana serta memperkuat kerja sama akademis dan ilmu pengetahuan. Terakhir, memajukan kerja sama pariwisata dan kebudayaan. Semua anggota mengapresiasi Indonesia yang menginisiasi kesepahaman itu. Mereka menilai, Jakarta telah menempatkan asosiasi itu ke tingkat yang lebih tinggi. Selain kerja sama ekonomi, juga adalah kesadaran akan pentingnya Samudra Hindia yang aman dan stabil.

Disepakatinya rencana aksi Asosiasi Kerja Sama Lingkar Samudra Hindia memastikan visi dan misi asosiasi itu terwujud dan dapat dirasakan manfaatnya. Langkah ini dinilai Presiden Joko Widodo efektif untuk mendorong pertumbuhan di tengah situasi perekonomian global yang sedang lesu. Jokowi percaya, salah satu cara paling sederhana menggerakkan perekonomian adalah menggenjot pemberdayaan perempuan.Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull mengapresiasi inisiatif Indonesia. ia berharap kerja sama dan komitmen bersama yang telah terbentuk akan mendorong IORA kian maju pada dasawarsa berikutnya. Masih menurut Tumbull interaksi antarnegara di Samudra Hindia sudah berlangsung sejak ribuan tahun. Namun, ia menilai, belum pernah ada interaksi yang sedemikian intensif seperti dalam KTT IORA di Jakarta. Hal ini diakuinya lahir dari kepemimpinan Indonesia.

Pada zaman baheula jalur sutra nusantara itu sama seperti jalur transportasi yang ada di lingkar Samudra Hindia sejatinya sudah berkembang sejak zaman Sriwijaya dan Majapahit, kala itu saudagar dari Gujarat dan semenanjung Arab masuk ke nusantara lewat kepulauan Andaman – pulau wee atau Sabang-terus ke Lamuri (Aceh Besar). Dari Lamuri mereka bisa lewat jalur selatan lewat pulau Simeuleu-Barus-Padang terus ke selat Sunda. Dari sini mereka bisa langsung ke Sunda Kelapa (Batavia) dan bisa juga ke pesisir utara pulau jawa lewat Kediri (Kahuripan)-Bali-Bima-Banggai-terus ke kepulauan Maluku, pada waktu itu Maluku sebagai pusat perdagangan rempah-rempah. Mereka bisa juga dari Sabang-Lamuri-Perlak-Kedah-Indragiri-Jambi-Sriwijaya (Palembang) mereka juga bisa terus ke Sunda Kelapa ( Batavia).

Baca Juga : Bangun Sabang Sebagai International Hub Transhipments

Jalur perdagangan atau jalur sutra nusantara masa kejayaan Sriwijaya dan Majapahit itu, kini seolah tidak berbekas. Pembangunan Nusantara seolah membelakangi laut dan lautan. Hal ini terlihat dari terus berkembangnya jalur pelayaran Cargo internasional yang masih memanfaatkan jalur sutra masa lalu-misalnya bisa kita lihat dengan jelas. Jalur cargo internasional (transhipment) dari India dan semenanjung Arab melewati Sabang-terus ke jalur selatan-lewat Simeuleu-Sibolga-Padang dan terus selat Sunda-Jakarta-terus ke  jalur ALKI I di laut Sulawesi-terus ke Tawau (Sebatik) dan terus ke Hongkong-Jepang –USA. Jalur lainnya  lewat Sabang mereka masuk ke selat Malaka dan terus ke Johor atau Singapura dan kemudian masuk ke jalur ALKI II terus ke kepulauan Riau-Kepulauan Natuna-Taiwan-Hongkong-Jepang dan USA. Apa yang terjadi? Mereka memang melewati laut Nusantara tetapi tidak pernah berhenti atau “isi ulang keperluan logistik”nya di pelabuhan-pelabuhan Indonesia. Karena memang pelabuhan kita tidak memenuhi standar internasional yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Ibarat di jalan Tol kita sama sekali tidak punya “rest area”.

Dari dahulu kesadaran akan vitalnya selat Malaka dan besarnya potensi ekonomi yang lewat di jalur targo tersebut sudah ada, tetapi dalam aksinya tidak ada yang sungguh-sungguh ingin mengembangkan fasilitas atau sarana kepelabuhanan yang bertaraf internasional di sekitar jalur tersebut. Padahal kita mempunyai gugusan atau rangkaian pulau-pulau terluat di jalur tersebut. Misalnya, untuk gugusan di rangkaian Pulau Wee, Sabang terdapat tujuh pulau di sana yakni, Pulau Rondo, Berhala, Salaut Besar, Salaut Kecil, Rusa, Raya, dan Simeulucut.  Kemudian gugusan di rangkaian Kepulauan Riau, pulau Batam ada sebanyak 19 pulau yakni, Pulau Sentut, Tokong Malang Biru, Damar, Mangkai, Tokong Nanas, Tokong Belayar, Tokong Boro, Semiun, Sebetul, Sekatung, Senua, Subi Kecil, Kepala, Iyu Kecil, Karimun Kecil, Nipah, Pelampong, Batu Berhanti, dan pulau Nongsa. Sungguh kalau melihat fakta ini, pemerintah kita itu sepertinya “idiot” banget. Keamanan Selat Malaka dibela mati-matian tetapi yang panen malah tetangga. Semoga yang sekarang mau sadar dan berbenah diri.

Menghidupkan Lingkaran Samudra Hindia

Fakta menunjukkan bahwa Samudra Hindia merupakan kawasan yang sangat strategis. Kawasan tersebut menjadi rute perdagangan utama dunia yang dilewati 50% volume kontainer perdagangan, 75% dari jalur minyak dunia. Kawasan ini juga tumbuh di atas rata-rata pertumbuhan global. Pada tahun 2015, saat ekonomi dunia hanya tumbuh 2,6 persen, pertumbuhan rata-rata sebagian besar anggota IORA mencapai 4,3 persen. Banyak orang tadinya skeptis dan melihat KTT ini hanya akan menjadi pergelaran seremonial semata. Namun, realitas yang ada justru menunjukkan kebalikannya. Kawasan Samudra Hindia tidak hanya berperan penting bagi perekonomian dunia, tetapi juga bagi perekonomian Indonesia. Tahun 2016, ekspor Indonesia ke negara-negara IORA 42 miliar dollar AS yang mencakup sepertiga ekspor total Indonesia. Dari perdagangan tersebut, Indonesia mencetak surplus 1,5 miliar dollar AS tahun lalu.

Nilai ekspor Indonesia ke beberapa negara IORA menunjukkan kenaikan yang merefleksikan potensi mereka sebagai pasar nontradisional. Lihat misalnya, ekspor Indonesia ke Afrika Selatan, Iran, dan Oman naik 9 persen tahun lalu. Sebanyak 6 dari 20 negara sumber investasi asing terbesar Indonesia merupakan negara anggota IORA. Investasi ini pun menunjukkan peningkatan. Tahun lalu, investasi dari Singapura naik 50 persen, investasi dari Thailand naik 100 persen, dan bahkan investasi dari Mauritius meningkat lebih dari 10 kali lipat.Tiga dari 4 negara asal wisatawan asing terbesar ke Indonesia merupakan negara anggota IORA. Jumlah turis dari negara IORA pun meningkat, sebagai contoh wisatawan Thailand ke Indonesia naik 6 persen, turis Australia naik 14 persen, dan wisatawan India naik 28 persen tahun 2016.

Baca Juga : Poros Maritim Revitalisasi Pelabuhan Sepanjang Selat Malaka

Negara-negara anggota IORA juga menawarkan peluang besar peningkatan kerja sama ekonomi bagi Indonesia, terutama dari kawasan barat IORA, mulai dari Asia Selatan, Timur Tengah, hingga Afrika. Indonesia bertekad memanfaatkan peluang tersebut dengan menekankan kerja sama ekonomi sebagai salah satu fokus pembahasan saat KTT. Salah satu elemen utama dari Jakarta Concord adalah mengokohkan kerja sama ekonomi, terutama meningkatkan perdagangan dan investasi, menggerakkan pembangunan infrastruktur, memperkuat konektivitas, dan melibatkan sektor swasta, terutama UMKM.

Di KTT IORA, peningkatan kerja sama ekonomi menjadi prioritas utama. Hal ini bisa dilihat dari kemampuan Indonesia yang berhasil mengekspor 150 gerbong kereta api ke Banglades, salah satu anggota IORA. Peluang kerja sama ekonomi lainnya juga ditawarkan oleh sektor perikanan. Mauritius. Negara berpenduduk lebih dari 1,2 juta jiwa yang berada di perairan lepas, di timur daratan Benua Afrika. Letaknya dipisahkan oleh Madagaskar. Mauritius adalah investor asal Afrika terbesar di Indonesia. “Nilai investasi Mauritius di Indonesia, tahun lalu, sebesar 576,5 juta dollar AS pada 250 proyek. Nilai ini melonjak 12 kali lipat dari investasi tahun 2015, sebesar 30,67 juta dollar AS. Mauritius merupakan salah satu pusat penghubung atau hub industri jasa keuangan dunia. Selain itu, sebagai negara yang berada di tengah-tengah Samudra Hindia, Mauritius juga memiliki potensi perikanan yang luar biasa.Mauritius juga merupakan salah satu pelabuhan perikanan utama di Afrika. Banyak kapal ikan asal Asia, seperti dari Taiwan-sebagian besar diawaki oleh warga Indonesia-merapat di Port Louis, kota pelabuhan Mauritius. Selain Mauritius, negara lain, seperti Afrika Selatan dan Mozambik, meski tidak bergabung dengan IORA, juga memiliki potensi besar. Mereka meminati produk asal Indonesia, seperti mi instan, ban, dan pesawat terbang. Senegal, misalnya, setelah puas dengan CN-235 versi multiguna, kini memesan satu pesawat CN-235 versi patroli maritim.

Perangkat politik telah disediakan melalui IORA dan langkah-langkah diplomasi juga telah dan terus digarap. Tantangannya saat ini adalah bagaimana peluang itu dijawab oleh pelaku industri dalam negeri dan bagaimana pemerintah Indonesia agar terus melakukan pembangunan dan perbaikan infrastruktur di berbagai lokasi  untuk mendukung pengembangan Kawasan Samudra Hindia yang kini relatip aman dan damai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *