Blog

Perbatasan, Memberdayakan Warga Papua dan Perbatasan

Oleh harmen batubara
Dahulu saya sering di tugaskan kementerian untuk mengikuti para pejabat yang akan berkunjung ke wilayah perbatasan dan juga Papua, dan siap memberikan informasi kebijakan kementerian terkait pembangunan wilayah yang akan dikunjungi itu. Tetapi harus saya akui setelah mengantar para pejabat itu, analisa saya langsung mengatakan bahwa kebanyakan para pejabat tersebut sungguh tidak punya visi dalam hal membantu warganya di perbatasan. Mereka hanya melakukan “pencitraan” dan seolah peduli dengan warga, tetapi apa yang mereka lakukan tidak lebih dari mengikuti skenario para pejabat perbatasan yang sebenarnya juga punya agenda tersendiri. Saya selalu membuat laporan terkait tugas tersebut dan juga menyampaikan hasil analisa saya secara lisan bertatap mata dan mengatakan apa adanya pada pimpinan.

Bahwa wilayah perbatasan dan Papua ada kesamaannya yakni terisolir dan diterlantarkan. Sudah itu warganya tidak mempunyai kemampuan untuk menghasilkan sesuatu

Bahwa wilayah perbatasan dan Papua ada kesamaannya yakni terisolir dan diterlantarkan. Sudah itu warganya tidak mempunyai kemampuan untuk menghasilkan sesuatu. Seperti di Papua atau diperbatasan warga itu umumnya mampunya baru setingkat masyarakat “peramu” artinya baru sebatas memungut hasil hutan semata apa adanya. Misalnya menangkap binatang hutan, mengambil rotan, kayu gaharu dan sejenisnya untuk dijual. Padahal para pemimpin itu sesungguhnya bisa memberikan yang diharapkan warga; yakni membuka isolasi dengan membangun infrastruktur dan memberikan warganya kemampuan produksi, semisal punya Kebun, punya sawah sendiri dan sejenisnya.

Kebun Karet Rakyat

Saya kemudian teringat perjuangan Pastor Cornelis JJ de Rooij di Papua dalam rangka mencari asset produksi yang paling cocok dengan warga papua dan sekaligus mensosialisasikannya. Menurutnya ”Tanaman karet paling cocok dengan tanah Papua. Karet juga paling cocok untuk orang Papua,” ungkap Pastor Cornelis JJ de Rooij. Ia meyakini, tanaman karet bisa membantu masyarakat asli Papua dari keterbelakangan dan kemiskinan.”Ada empat alasan kenapa karet cocok untuk Papua, yaitu sesuai dengan kondisi tanah Papua, tidak perlu pupuk, tidak ada hama, dan sepanjang tahun masyarakat bisa memetik hasilnya,” kata Pastor Kees, sapaannya terkait hasil penelitiannya.
Masalahnya tidak mudah untuk memberikan kebun karet kepada warga, ada Pemda yag mencoba mensinergikannya dengan para pengusaha. Seperti di Merauke, tetapi kurang berhasil sebab para pengusaha itu hitungannya jelas. Harus untung. Di Merauke misalnya dari 275 ha yang ada direncanakan 25 ha di antaranya diperuntukan bagi penduduk lokal. Adapun 250 ha lainnya diberikan pada pengusaha di lahan yang sudah terbuka, termasuk di antaranya lahan-lahan milik masyarakat eks transmigran. “Untuk lahan yang 25 ha itu, pemerintah membantu membuka kebun, bibit, sampai penanamannya. Bantuan bibit dan biaya tanam disalurkan melalui kelompok-kelompok tani sebesar Rp 5.000 per batang. Satu hektar lahan ditanami 500 batang bibit. Pengembangan kebun karet rakyat akan difokuskan di distrik-distrik yang kondisi tanahnya cocok untuk tanaman karet, yaitu Distrik Muting, Sota, Ulilin, Jagebob, dan Elikobel.
Di berbagai daerah lain seperti di Jambi, Sangata dll perkebunan kerat memang sudah merakyat, artinya rakyat sudah mampu mencoba untuk memiliki kebun karetnya sendiri. Mereka memang sudah bisa melakukannya, karena sudah pada tarap masyarakat maju, maju dalam arti sarana dan prasarananya sudah tersedia. Untuk bibit mereka bisa beli, karena ada yang jual. Mereka sendiri sudah bukan lagi masyarakat peramu, tetapi sudah punya penghasilan sendiri. Baik sebagai petani, pekebun atau sebagai buruh tani. Tetapi bagi warga perbatasan dan Papua?

Warga Lokal Diberi Falitas Transmigrasi

Hemat saya cara terbaik untuk membantu masyarakat peramu dan terisolir ini adalah dengan memberikan kepada mereka fasilitas transmigrasi, tetapi meraka tetap di area mereka sendiri dan tidak ada trans yang didatangkan. Dalam arti semua fasilitas transmigrasi dapat mereka peroleh seperti dapat area 2 Ha siap tanam, diberi rumah, di beri bibit, diberi obat hama, diberikan tenaga penyuluh pertanian dan diberi bekal hidup minimal selama satu tahun. Konsep itu memang jadi berbeda dengan konsep transmigrasi yang sudah kita kenal.
Ternyata itu tidak mudah untuk memodifikasinya. Cara itu hanya bisa dilakukan oleh seorang presiden yang memerintahkan agar dibuatkan konsep Warga Lokal Dapat Fasilitas Tranmigrasi. Artinya konsep itu memperbolehkan warga lokal mendapatkan fasilitas transmigrasi. Bagaimana caranya? Itu biarlah diurusi oleh Kementerian terkait dan Bappenas plus DPR. Tetapi dipercaya, cara itu adalah cara yang bisa secara cepat memberdayakan warga lokal yang terisolasi di Papua dan wilayah perbatasan.

Papua Kemiskinan Pembiaran & Separatisme

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *