Pengabdian Di Perbatasan,NKRI Punya Masalah Serius

Blogging

Mereka yang Biasa Dibayar Beras dan Sayur[1] 

Menjalankan tugas sebagai tenaga kesehatan di daerah terpencil tak hanya memerlukan semangat, tetapi juga keteguhan hati. Selain minim sarana, adakalanya jasa pekerjaan mereka hanya dibayar dengan beras, sayur, atau buah-buahan. Namun, itulah sesungguhnya hakikat pengabdian. Meskipun sang ibu sudah dibantu untuk melahirkan bayinya, tugas Marsia Milan (24) masih belum selesai di Desa Randau Limap, Kecamatan Sungai Laut, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, pertengahan Mei lalu.

Marsia, yang setahun ini ditugaskan sebagai bidan di Randau Limap, masih harus mengerjakan tugas lainnya, yaitu membersihkan dan menimbang bayi, lalu menidurkannya di samping ibundanya yang masih terlihat kelelahan pasca-persalinan. Terakhir, Marsia masih menyerahkan sejumlah obat yang harus diminum agar kondisi si ibu bisa segera pulih kembali. Tuntas menjalankan tugasnya, Marsia pun pamit.

Sebelum pergi, Marsia menerima beras dan sayuran segar, yang disimpan dalam tas plastik, sebagai ”jasa” persalinan. ”Keluarganya mengaku belum cukup punya uang untuk membayar jasa persalinan. Jadi, inilah yang bisa diberikan mereka kepada saya. Saya bisa memaklumi karena saya berada di daerah terpencil,” ujar pegawai tidak tetap Kementerian Kesehatan yang ditugaskan di Kalimantan Barat itu.

Untuk menuju Desa Randau Limap, Marsia harus melalui jalan setapak melewati hutan dan diselingi naik perahu. ”Saya butuh waktu dua hari untuk menuju Randau Limap dari kecamatan terdekat,” tambahnya. Kebetulan, di desa itu, dan desa sekitarnya, belum ada pos kesehatan. Marsia pun harus siap melayani masyarakat dari desa lainnya.

Selain sebagai bidan, Marsia juga merangkap ”dokter”. Selain menyuntik untuk jenis penyakit ringan, ia juga memberikan obat-obatan. Untuk penyakit ringan yang memerlukan suntikan, sebagian kecil masyarakat mampu bisa membayarnya Rp 50.000-Rp 60.000. Namun, sebagian besar masyarakat hanya memberikan Rp 10.000-Rp 20.000. Namun, ada pula warga yang sakit dan terus terang tak bisa membayar apa pun. Untungnya, sebagai bidan, dia mendapat gaji rutin dan tunjangan daerah terpencil dari Kementerian Kesehatan.

Kisah lainnya datang dari tenaga kesehatan Monika Yusita (24), yang bertugas di Desa Maraban, Kecamatan Simpang Hulu, Ketapang. Meskipun biaya layanan persalinan yang ditetapkannya seharusnya Rp 650.000, hanya sebagian kecil warga yang mampu membayarnya dengan penuh. Selebihnya hanya membayar separuhnya. ”Sebetulnya sudah ada program jaminan persalinan. Namun, itu hanya berlaku jika persalinan di pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) atau pos kesehatan desa. Padahal, saya lebih sering melayani persalinan di rumah mereka masing-masing,” ujarnya.

Masalah lain yang sering dihadapi adalah rendahnya kesadaran dan kemiskinan yang membuat ibu hamil jarang memeriksakan kandungannya. Monika mengaku baru dihubungi keluarga ketika si ibu baru menghadapi persalinan darurat. Meski sudah mendapat predikat spesialis jantung di Pulau Jawa, Joseph Auwyong justru memutuskan kembali ke kampung halamannya di pedalaman Papua. Bagi dokter ini, pengabdian kepada masyarakat di pedalaman telah memenuhi impiannya selama ini. ”Saya menjadi manusia saat ada bersama masyarakat di kampung-kampung di pedalaman Papua,” ujarnya.

Ilham Dari Kongo

Joseph mengaku terilhami pelayanan Albert Schweitzer, seorang dokter Jerman di pedalaman Kongo, Afrika. Saat lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya, tahun 1982, ia langsung mengajukan diri untuk bertugas di wilayah timur Indonesia itu.

Joseph tiba di Papua tahun 1983 dan langsung bertugas di Kabupaten Jayawijaya. Setiap minggu, bersama seorang mantri kesehatan, ia berkeliling ke kampung-kampung. Di setiap kampung, ia bisa diterima dengan sangat baik. Salah satu kunci keberhasilannya merangkul masyarakat di pedalaman dengan garam dan korek api. ”Saya selalu bawa garam dan korek api untuk memenangkan hati mereka, selain, tentu saja, juga untuk mencegah penyakit gondok,” katanya.

Bertahun-tahun keluar masuk hutan membuatnya paham apa yang dibutuhkan di Papua, khususnya di bidang kesehatan. Salah satunya kehadiran dan keterampilan tenaga medis untuk melayani. Pertama kali tiba di Wamena, ia sudah harus menolong persalinan seorang ibu. ”Jika menunggu mantri, si ibu dan anaknya akan meninggal,” ungkapnya. Untungnya, sebelum berangkat, seniornya di Jayapura membekalinya keterampilan persalinan. ”Di Papua, keterampilan seperti itu dibutuhkan, karena kita tak dapat menolak,” tambah Joseph.

Di Puncak Baru, Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Budi Bakhtiar juga harus menempuh perjalanan berjam-jam untuk menemui dan mengobati pasiennya, meskipun adakalanya tidak dibayar. Budi adalah satu-satunya dokter yang bertugas di desa tersebut. Tentu, bagi mereka yang ada di pelosok daerah, lokasi yang jauh dan medan perjalanan yang sulit, serta kemiskinan, menjadikan kesehatan sesuatu yang mahal. Di sinilah pengabdian ditunggu.

Guru Honor Diupah Rp 50.000 Per Bulan[2]

Terdapat sekitar 500 guru honor SD dan SMP di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, yang mendapat honor Rp 50.000-Rp 100.000 per bulan. Mereka kebanyakan mengajar di sekolah swasta. Panggilan mengabdi membuat mereka tetap bertahan. Asnat Bel, guru honor di salah satu SD swasta di Amanuban Timur, 45 kilometer dari Kota Soe, misalnya, mendapat honor Rp 50.000 per bulan. Sarche Kase (26), yang menjadi guru honor selama lima tahun di sekolah swasta lainnya, mendapat honor Rp 75.000 per bulan dan dibayarkan setiap tiga bulan. ”Saya tidak kuat karena honor itu tidak cukup untuk biaya hidup sehingga saya mengundurkan diri,” kata Sarche yang kini akan berangkat menjadi tenaga kerja wanita ke Malaysia.

Wakil Ketua DPRD Timor Tengah Selatan Ampere Seke Selan, di Soe, ibu kota Kabupaten Timor Tengah Selatan, Sabtu (25/5), mengatakan, setiap melakukan kunjungan kerja, keluhan seperti itu yang selalu ia terima. Honor guru terlalu kecil sehingga tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. ”Mereka inginnya menjadi pegawai negeri sipil, tetapi aturan pemerintah pusat tidak memungkinkan,” kata Ampere.

Ia mengatakan, sebenarnya para guru honor itu bisa digaji dengan dana bantuan operasional sekolah (BOS). Masalahnya, alokasi BOS untuk honor guru dibatasi maksimal 20 persen dari total dana BOS yang diterima sekolah. ”Jika jumlah guru honor ternyata banyak di suatu sekolah, alokasi anggaran yang tersedia harus dibagi rata sehingga honor yang diterima guru menjadi kecil,” ujarnya. (KOR)

NKRI, Masalah Serius[3]

Indonesia sebagai negeri yang majemuk tengah menghadapi tantangan serius bagi upaya memperkokoh kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan bagi pencapaian cita-cita sebagai negara yang demokratis, berdaulat, adil dan makmur. Di tengah kompleksnya permasalahan yang dihadapi bangsa ini, semangat kebangsaan dan semangat kerakyatan harus terus dipupuk.

”Tujuan demokrasi adalah untuk membangun keadilan dalam masyarakat berbangsa. Ini adalah mandat besar. Di dalam Nahdlatul Ulama pun kita juga mengenal musyawarah, itu juga bagian demokrasi yang paling esensial,” kata Wakil Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Prof Dr HM Maksum Mahfudz dalam konferensi Pendidikan Demokrasi yang diselenggarakan Hans Seidel Foundation dan PBNU, di Jakarta, Minggu (26/5).

Pada acara tersebut disampaikan Komunike Bersama dari Komunitas Faith Base Organization (FBO) Indonesia untuk perjuangan demokrasi dan kemanusiaan. Dalam komunike tersebut, mereka bersepakat antara lain menjaga keutuhan NKRI dan Pancasila; mengawal dan meluruskan perjuangan demokrasi dan hak asasi manusia agar tetap selaras dengan Pancasila dan Pembukaan UUD 1945; mempromosikan dan menjaga perdamaian, toleransi beragama, mendukung perkembangan Islam Rahmatan Lil’alamin; dan menolak segala bentuk radikalisme atas nama agama.

Radikalisme dan Mahasiswa

Sosiolog/peneliti LIPI yang juga pengurus PBNU, Endang Turmudi, mengatakan bahwa perkembangan radikalisme sudah sangat meluas. ”Yang mengejutkan radikalisme sudah berkembang di kalangan mahasiswa dan pelajar. Tujuan mereka adalah mengubah paham yang sudah ada sekarang ini dengan paham mereka. Dan untuk mengubah, boleh melakukan kekerasan dan bertentangan dengan prinsip-prinsip demokrasi dan toleransi,” kata Endang Turmudi.

Pada kesempatan tersebut, Komunitas FBO juga meluncurkan buku modul Pendidikan Demokrasi untuk FBO sebagai panduan pendidikan politik bagi warga nahdliyin. Dalam buku tersebut, Sekretaris Jenderal PBNU H Marsudi Syuhud mengatakan, NU dituntut untuk lebih memaksimalkan perannya dalam rangka memajukan bangsa, khususnya dalam menjaga keamanan dengan meluruskan ideologi-ideologi yang mengarah pada radikalisme.

Lakukan edukasi Yang Sesuai

Komunitas FBO yang berbasis NU dan Muhammadiyah ini juga akan mengembangkan tradisi politik kebangsaan, politik keagamaan, politik ekonomi, politik kemanusiaan, dan politik yang cerdas, santun, dan beradab. Juga mengembangkan tradisi intelektual dan spiritual dengan melakukan edukasi, advokasi, dan rekayasa sosial untuk membangun tatanan kehidupan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang lebih baik.

Menurut Marsudi Syuhud, perjuangan untuk mengawal perjalanan demokratisasi di Indonesia harus dimaknai sebagai bagian dari kerja untuk mengawal cita-cita kemerdekaan Indonesia dalam rangka membumikan substansi ajaran Islam Rahmatan Lil’alamin yang selaras dengan nilai-nilai universal demokrasi.

Di sisi lain, euforia kebebasan dalam memaknai demokrasi perlu diluruskan agar substansi demokrasi sebagai alat perjuangan untuk pencapaian kondisi bangsa dan negara yang beradab dapat terwujud. Serta model demokrasi yang berkembang adalah demokrasi yang bersesuaian dengan prinsip-prinsip Pancasila dan kebinekaan Indonesia, serta bukan demokrasi yang liberal yang jauh dari semangat religiusitas bangsa Indonesia. (LOK)


[1] C Helmy Herlambang/Agustinus Handoko/Bonifacius Josie Susilo,kompas 27 Mei 2013

[2] Sumber : Kompas (Kor) kompas 27 Mei 2013

[3] Sumer Kompas (lok),27 Mei 2013

One Response to “Pengabdian Di Perbatasan,NKRI Punya Masalah Serius”

  • author on May 29, 2013

    Menjalankan tugas sebagai tenaga kesehatan di daerah terpencil tak hanya memerlukan semangat, tetapi juga keteguhan hati. Selain minim sarana, adakalanya jasa pekerjaan mereka hanya dibayar dengan beras, sayur, atau buah-buahan. Namun, itulah sesungguhnya hakikat pengabdian. Meskipun sang ibu sudah dibantu untuk melahirkan bayinya, tugas Marsia Milan (24) masih belum selesai di Desa Randau Limap, Kecamatan Sungai Laut, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, pertengahan Mei lalu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *