Blog

Menjadikan Produk Indonesia Primadona di Perbatasan

Oleh  harmen batubara

Ide presiden Jokowi sebenarnya sederhana. Presiden ingin  benar-benar ingin membalikkan kondisi perdagangan di perbatasan. Khususnya di perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan. Presiden ingin agar barang-barang dari Indonesia harus jadi primadona ke negara tetangga, entah itu ke Malaysia, Timor Leste, Papua Nugini, atau manapun. “Dari sini lewat Kuching (Malaysia) bisa ke negara lain, tidak apa-apa, kenapa tidak? Tapi jangan sampai (produk) dari sana masuk kebanyakan ke sini,” ujar Jokowi setelah meresmikan PLBN Aruk di Kabupaten Sambas, Jumat (17/3/2017).

Dengan pola  seperti ini, lanjut presiden, akan mempercepat PLBN menjadi titik pertumbuhan ekonomi di perbatasan. Seperti di PLBN Badau, di mana terdapat ekspor CPO sebanyak 70 ribu metrik ton. Di kawasan Aruk, masih di kabupaten yang sama, komoditas unggulannya adalah jeruk, lada, dan buah naga. Pokoknya, produk Merah Putih harus jadi dambaan di lapak-lapak tetangga.

Untuk mewujudkan ide seperti itu presiden membangun perbatasan dengan pola “Nawa Cita”.Untuk mendorong misi ekonomi tersebut, pemerintah membangun jalan paralel perbatasan yang membentang dari Kalimantan Utara hingga Kalimantan Barat. Bila sudah jadi, panjangnya akan mencapai 1.900 km. Kini Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dibantu Zeni TNI sudah berhasil membangun 520,85 km. Tanpa adanya jaringan jalan ini, masyarakat perbatasan masih akan bergantung pada produk yang datang dari Malaysia.

Diharapkan  dengan adanya jalan ini, kendaraan logistik bisa melintas dan barang lokal RI bisa dibawa menuju Pos Lintas Batas Negara (PLBN). Tidak hanya itu, pemerintah kini tengah membangun berbagai infrastruktur di perbatasan, mulai dari rehabilitasi dan pembaharuan  Pos-pos PLBN, Pasar Tradisional, layanan Tol Laut dan Tol Udara. Dalam hal Tol Laut misalnya meski belum optimal, seluruh perbatasan akan terjangkau tol laut; daerah yang tidak terjangkau tol laut akan dijangkau oleh tol Udara. Mari kita lihat contohnya. Untuk Sebatik dan Nunukan akan ada dua pelabuhan yang bakal disinggahi tol laut, yakni Pelabuhan SEI NYAMUK, Sebatik dan Pelabuhan TUNON TAKA Nunukan. Untuk wilayah Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) masuk dalam trayek delapan. Mulai dari Surabaya, Tanjung Selor, Tarakan, Nunukan dan Sebatik. Nah untuk ke daerah pedalaman, minimal sebelum jalan paralel perbatasan bisa beroperasi maka akan dipakai Tol Udara. Saat ini tol udara masih fokus pada transfortasi BBM, tetapi kalau pemda dan Kemenhub bekerja sama, maka jelas akan bisa dikembangkan untuk jasa barang. Suatu peluang yang sangat potensil kalau Pemda bisa memanfaatkannya.

Bukan itu saja pemerintah juga lewat Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) akan merevitalisasi 11 ‎pasar di wilayah perbatasan. Untuk program tersebut, akan dialokasikan  anggaran revitalisasi sebesar Rp 950 juta untuk masing-masing pasar. Deputi Bidang Restrukturisasi Usaha Kementerian Koperasi dan UKM ‎Yuana Setyowati mengatakan( di kantor Kementerian Koperasi dan UKM, Jakarta,18/1/2017) sangat penting untuk adanya perbaikan sarana usaha dan pasar yang baik di wilayah perbatasan. Selama ini warga masyarakat di wilayah perbatasan lebih mudah berbelanja kebutuhan sehari-harinya di wilayah negara tetangga dari pada di wilayah sendiri.

Peran Serta Pemda

Semua upaya ini akan tidak maksimal kalau tidak sinergis dengan peran Pemda setempat atau Pemda perbatasan, maka tentu saja program ini akan berjalan tidak optimal. Harapan kita Pemda melakukan “jemput bola” dan berkoordinasi dengan Kementerian terkait dan saling patungan membangunkan pasar serta sarana penunjangnya, sehingga manfaatnya bisa lebih optimal.

Dalam pandangan kita kesempatan seperti ini akan sayang sekali bila Pemda perbatasan kalau hanya terbelenggu dengan slogan tidak punya anggaran.  Yang jelas, pemerintah sudah melakukan pembangunan perbatasan dengan skala dan eskalasi yang tidak terbayangkan sebelumnya. Pemerintah telah  membangun 9 PLBN dengan versi baru yang ramah bagi kegiatan perdagangan di perbatasan di seluruh Indonesia. Presiden juga ingin agar TNI memperhatikan “gelar kekuatannya” terkait perbatasan. Baik untuk memperkuat efektivitas daya gerak kekuatan TNI sendiri, juga yang tidak kalah pentingnya untuk ikut merangsang pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut.

Perdagangan antar negara di perbatasan, umumnya berjalan dengan baik meski berjalan dalam batas-batas tertentu dan terkesan kurang di respon oleh para pihak secara memadai. Kalau di Entikong banyak warga Indonesia berbelanja di Tebedu, ke Tokoserba yang ada di desa berjarak satu km dari perbatasan itu. Sebaliknya tidak ada Toko sekelas itu yang terdapat di sebelah Indonesia. Yang ada hanyalah sekedar kios-kios biasa yang menjual produk-produk Malaysia dengan harga yang juga tergolong kurang menarik. Hal yang sebaliknya terjadi di Skow di perbatasan antara RI-PNG. Di sebelah PNG tidak ada Toko-toko, tetapi di sebelah Indonesia ada pasar Skow yang menjual berbagai produk Indonesia dengan harga yang lebih murah. Hal yang sama terjadi juga di perbatasan RI-Timor Leste.

Nah dalam hal seperti ini Ide presiden Jokowi  jadi  sangan menginspirasi. Presiden ingin  benar-benar ingin membalikkan kondisi perdagangan di perbatasan yang ada saat ini. Beliau ingin agar barang-barang dari Indonesia harus jadi primadona ke negara tetangga, entah itu ke Malaysia, Timor Leste, Papua Nugini, atau manapun. Kalau pemda proaktif dengan berbagai sarana dan fasilitas yang tengah di upayakan pemerintah pusat saat ini, maka produk Indonesia dipercaya akan benar-benar jadi primadona di perbatasan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *