Cart

Blog

Membuka Perbatasan, Membangun Peluang Kerja Sama

Oleh Harmen Batubara

Tiongkok dusah lama membangun tembok perbatasannya dan malah kini jadi Ikon pariwisata yang melegenda bagi pemasukan devisa buat Negaranya. Kini dengan alasan yang berbeda Amerika mau membangun tembok perbatasannya, yang dimulai dengan Meksiko. Trump menyebut sebuah Negara haruslah mempunyai perbatasan yang bisa dia kontrol untuk kepentingan nasionalnya. Masalahnya bukanlah sekedar perbatasan, kini ke dua Negara itu terlibat perang dagang. Amerika merasakan Tiongkok selama ini terlalu diuntungkan dengan hubungan dagang kedua Negara. Trump berupaya untuk mengurangi defisit perdagangan AS dengan Tiongkok. AS pun memaksa Beijing untuk melakukan reformasi ekonominya, dan  menuduhnya berusaha mendominasi industri global dengan subsidi negara yang tidak adil, dan memperoleh teknologi Amerika melalui pencurian atau transfer paksa. Tentu saja tuduhan seperti itu ditolak oleh Tiongkok.

Berbeda dengan Amerika yang belakangan ini cenderung memakai Unilaterisme dalam menyelesaikan permasalahannya, serta solah mau menutup diri kalau itu tidak menguntungkan negerinya. Maka Tiongkok justeru sebaliknya, ia ingin menjadi penggagas kolaborasi bersama demi kemaslahatan bersama. Setiap Negara memerlukan kerja sama yang saling menguntungkan dan menggelorakan semangat kerja sama. Dengan semangat seperti itulah kemudian Tiongkok memggagas BRI (Belt and Road Initiative). Proyek BRI bertujuan untuk mempromosikan kemitraan global dalam konektivitas, yang menyatukan Dunia Asia-Afrika-Eropa. BRI bersifat terbuka, eksklusif, dan saling menguntungkan. Setiap peserta bisa saja keluar dari proyek, tetapi sejauh ini belum ada yang pernah keluar,” kata Zongze, dalam The Second Jakarta Forum on ASEAN-China Relations bertajuk ”ASEAN and BRI: Prospects for Common Development and Shared Prosperity”, Selasa 25 Juni di Jakarta.

Wakil Presiden Eksekutif China Institute of International Studies Ruan Zongze, pada hari yang sama, mengatakan, masih ada anggapan bahwa BRI adalah rencana besar China untuk memberikan jebakan utang dan mengeksploitasi negara lain. Oleh karena itu, China menjawab sejumlah tudingan negatif yang beredar mengenai BRI. Zongze melanjutkan, China memandang penting untuk memperkenalkan BRI secara obyektif dan inovatif. China juga berkomitmen memperkuat kolaborasi antara pemangku kepentingan, melibatkan lebih banyak kerja sama rantai produksi global, menciptakan mekanisme pendukung jangka panjang, dan menyediakan lapangan pekerjaan berkualitas.

Pandangan Negara Tetangga

Komunitas masyarakat di kawasan Asia Tenggara masih meragukan manfaat proyek Prakarsa Sabuk dan Jalan atau Belt and Road Initiative (BRI) yang ditawarkan China. Tentu saja hal seperti ini sebagai sesuatu yang alami. Apalagi bila hal itu dilihat dari kacamata semua Negara yang melihat Tiongkok sebagai Negara yang terus membangun negaranya di semua lini. Bisa jadi Negara lain apalagi Negara-negara kecil akan berpikir dua kali kalau mau bekerja sama dengan Tiongkok. Terutama kalau mendengarkan isu atas Negara-negara yang “tergadai” dan kemudian di “akusisi” karena proyek-proyek kerja sama mereka dengan Tiongkok. Apakah isu itu benar atau tidak, sebenarnya juga tidak begitu jelas. Juga kalau melihat bagaimana Tiongkok mengangkangi Negara-negara kecil seperti Vietnam, Malaysia, Brunai dan Filipina di permasalahan Laut China Selatan.

Meski pada kenyataannya pada Konferensi Tingkat Tinggi Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN), Selasa (14/11/2017), telah menghasilkan beberapa kesepakatan dalam sejumlah isu, seperti sengketa Laut China Selatan, terorisme, krisis di Negara Bagian Rakhine di Myanmar, dan ketegangan di Semenanjung Korea. Presiden Filipina Rodrigo Duterte, selaku Ketua ASEAN kala itu, menyampaikan, salah satu kemajuan di KTT tersebut adalah kesepakatan soal negosiasi kode tata berperilaku antara ASEAN dan China dalam sengketa Laut China Selatan.

Baca Juga : Membangun Dan Menjaga Marwah Perbatasan

Dalam jumpa pers di akhir konferensi, Duterte mengatakan, China telah sepakat untuk memulai negosiasi kode tata berperilaku (COC) dan bakal mematuhi apa pun keputusan yang diambil dalam negosiasi. Ia menambahkan, China juga sepakat, akses ke wilayah perairan dan udara di Laut China Selatan (LCS) tidak dikekang.

Karena itulah Zongze melihat, China memandang penting untuk memperkenalkan BRI secara obyektif dan inovatif. China juga berkomitmen memperkuat kolaborasi antara pemangku kepentingan, melibatkan lebih banyak kerja sama rantai produksi global, menciptakan mekanisme pendukung jangka panjang, dan menyediakan lapangan pekerjaan berkualitas. Menurutnya Proyek BRI bertujuan untuk mempromosikan kemitraan global dalam konektivitas. BRI bersifat terbuka, eksklusif, dan saling menguntungkan.

Perbatasan Mestinya Tidak Untuk Membatasi

Zongze menuturkan, kolaborasi dan multilateralisme dibutuhkan di era yang penuh ketidakpastian ini. ”Pelambatan ekonomi global akibat unilateralisme dan proteksionisme membuat “kerja sama” menjadi momen yang tepat bagi semua pihak untuk menjaga pasar tetap terbuka,” ujar Zongze. China, lanjutnya, ingin menunjukkan kepada dunia bahwa China siap melakukan lebih banyak reformasi. Adapun China dan Amerika Serikat saat ini sedang bernegosiasi untuk mencari jalan keluar dari perang dagang. 

Presiden China Xi Jinping meluncurkan BRI pada 2013 sebagai proyek interkoneksi multilateral yang akan menghubungkan Asia, Eropa, dan Afrika. Fokus proyek antara lain membangun infrastruktur, memperkuat interaksi antar-manusia dan budaya di kawasan, serta mempermudah transaksi ekonomi lintas batas. BRI menjadi peluang untuk memenuhi kebutuhan dana investasi di kawasan Asia Tenggara. Bank Pembangunan Asia  memperkirakan Asia Tenggara membutuhkan dana investasi sebesar 2,8 triliun dollar AS hingga 2030.

Sebelum menjalin kerja sama, China dan ASEAN perlu menyelaraskan proyek Prakarsa Sabuk dan Jalan atau Belt and Road Initiative (BRI) dengan Rencana Induk Konektivitas ASEAN (MPAC) 2025. Hal ini bertujuan untuk memastikan proyek-proyek tersebut akan membawa manfaat bagi seluruh kawasan.

Wang Peng, Associate Research Fellow Chongyang Institute of Financial Studies, Renmin University of China, Selasa (25/6/2019), di Jakarta, mengatakan, ada lima bidang utama yang memiliki prospek kolaborasi untuk proyek BRI dan MPAC 2025. MPAC 2025 fokus pada lima bidang, yaitu infrastruktur yang berkelanjutan, inovasi digital, kelancaran logistik, regulasi yang unggul, dan mobilitas orang. ”Konsep itu sejalan dengan fokus proyek BRI, yaitu konektivitas fasilitas, integrasi layanan keuangan, perdagangan dan investasi, koordinasi kebijakan, dan pertukaran budaya.

Wang mengatakan, China mendukung visi besar ASEAN untuk menjadi pusat ekonomi dari Samudra Hindia ke Samudra Pasifik. Oleh karena itu, ASEAN dapat memetik manfaat jika berkolaborasi dengan China.”BRI akan membantu pembangunan bangsa, menurunkan tarif perdagangan, dan meningkatkan investasi asing bagi negara-negara anggota ASEAN. Proyek BRI juga memberikan efek samping positif, seperti transfer teknologi yang saling menguntungkan,” ucap Wang.

Baca Pula : Membaca Strategi Pembangunan Perbatasan Jokowi

Saat ini, kerja sama antara China dan ASEAN memasuki level yang belum pernah ada sebelumnya. Namun, lanjut Wang, penyelarasan BRI dan MPAC masih menemukan sejumlah kendala, misalnya, kurangnya rasa saling percaya di bidang politik dan kerja sama strategis serta minimnya proyek unggulan kolaborasi China-ASEAN untuk memacu mesin perekonomian.

Wakil Presiden Eksekutif China Institute of International Studies Ruan Zongze menyampaikan, China berupaya melakukan pendekatan secara multilateral ketimbang bilateral agar proyek sejalan dengan visi MPAC 2025. Sebelum mulai bekerja sama, China dan ASEAN akan mengidentifikasi area apa saja yang memiliki peluang kolaborasi. ”Kedua belah pihak lalu akan membentuk kelompok kajian, terdiri dari perusahaan, pemerintah, dan organisasi nonpemerintah. Kelompok ini mengkaji proyek yang berpotensial tersebut,” kata Ruan.

Potensi Indonesia

Peneliti Center for Strategic and International Studies (CSIS), Fajar B Hirawan,  berpendapat, China dan Indonesia memiliki potensi besar untuk bekerja sama di bidang ekonomi, teknologi, pendidikan, serta sosial dan budaya. China merupakan salah satu mitra dagang terbesar Indonesia. Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), negara dengan realisasi investasi terbesar di Indonesia selama 2015-2018 adalah Singapura (32,7 miliar dollar AS), Jepang (18,2 miliar dollar AS), dan China (9 miliar dollar AS). Investasi China terbanyak di sektor sekunder (56,9 persen), diikuti sektor tersier (39,2 persen) dan primer (3,9 persen).

”Investasi dari China telah memberi manfaat bagi ASEAN, termasuk Indonesia, dalam mempromosikan industrialisasi dan penciptaan lapangan kerja,” kata Fajar. Oleh karena itu, lanjutnya, pemerintah lokal perlu menjadi fasilitator, regulator, dan penyedia keamanan dalam menangani kerja sama dengan China. Pemerintah juga perlu lebih tanggap dalam menghadapi isu negatif mengenai kolaborasi kedua belah pihak dan menyediakan data yang akurat bagi publik.

Sumber :

China Terus Perluas dan Perkuat Kerja Sama Ekonominya Oleh Adhitya Ramadhan, Kompas.id . 25 Juni 2019 ; China Butuh Strategi Diseminasi Informasi Proyek BRI Oleh Elsa Emiria Leba, Kompas.id., 25 Juni 2019 ; Tingkatkan Hubungan Antarwarga, Kompas.id., 26 Juni 2019 ; Selaraskan BRI dengan Rencana Konektivitas ASEAN 2025, oleh Elsa Emiria Leba, Kompas.id., 25 Juni 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *