Blog

Memaknai Jalur Illegal atau Jalan Tikus Di Sepanjang Perbatasan

Oleh harmen batubara

Masih ingat kisah Neneng Sri Wahyuni, istri terdakwa suap Wisma Atlet SEA Games Muhammad Nazaruddin? Pada bulan juni 2012, diduga kuat masuk kembali ke Indonesia waktu itu melalui jalur yang biasa digunakan para TKI ilegal. Jalur itu sering juga disebut dengan jalur atau jembatan TIKUS atau resminya Jalur-C sebagai perlintasan tradisional. Kala itu Neneng dari Malaysia masuk Batam pada malam hari. Diduga kuat Neneng menggunakan perahu kecil melalaui jalur illegal itu. Benarkah ada jalur ilegal yang memuluskan orang keluar masuk tanpa dokumen antar ke dua negara serumpun ini? Zalim (tidak nama sebenarnya), seorang mantan nakhoda speedboat pelaku illegal, mengakui ada jalur-jalur tradisional yang biasa digunakan oleh warga untuk keluar dan masuk Indonesia-Malaysia. Jalur-jalur itu sesungguhnya telah memberikan manfaat yang besar bagi kehidupan warga di sepanjang perbatasan Laut mulai dari Provinsi Riau dan Kepulauan Riau.
Itulah kini yang menjadi salah satu tugas Tim Perbatasan, permintaan untuk mendata Jalur-C di sepanjang perbatasan di kedua provinsi itu dengan Malaysia. Postingan kita kali ini berisi berbagai informasi yang bisa di share terkait kegiatan tersebut. Seperti jalur C yang ada di daratan, misalnya di sepanjang perbatasan antara Indonesia-Malaysia di Kalimantan, peranan jalur C bagi kehidupan masyarakat perbatasan sangatlah besar. Bisa dimaklumi warga perbatasan tidak mungkin memanfaatkan produk-produk dari negaranya sendiri untuk kepentingan kehidupan mereka. Hal itu terjadi karena perbatasan sangat terisolir dan jauh serta tanpa jaringan infrastruktur. Singkat kata wilayah perbatasan itu terisolasi dari kehidupan negaranya sendiri. Sebaliknya, mereka sangat dekat denga pusat-pusat ekonomi negara tetangga di Malaysia atau Singapura. Dari segi harga dan kualitas semuanya lebih murah dan lebih baik jika dibandingkan dengan produk dan harga di negara sendiri. Secara alami maka warga setempat dengan sepengatahuan oknum pejabat dan “seizin” mereka maka dibuatkanlah jalur-jalur tradisional yang menghubungkan kedua negara untuk melakukan perdagangan tradisional untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri di perbatasan. Tetapi dalam perkembangannya, maka ia sepenuhnya dikendalikan oleh adanya permintaan, maka lahirlah perdagangan illegal beserta semua bawaannya.

Jalur Penyelundupan?

Banyakkah jalur tradisional atau jalur C atau jalur penyelundupan ini? Sepenuhnya tergantung dengan perkembangan di wilayah tersebut. Tetapi pada umumnya jalur-jalur ini secara tradisional bisa dipertanggung jawabkan oleh banyak pihak. Hanya saja dalam perkembangannya, maka itu sepenuhnya dengan dinamika di lapangan. Artinya selama permintaan ada maka aktivitas di jalur tersebut juga pasti ramai. Terlebih lagi adanya dua kekuatan yang ikut mewarnai kehidupan di jalur-jalur tersebut. Bahwa di sana akan muncul juragan dan pengamanan atau premannya pastilah ia adanya. Dalam perkembangannya bisa juga para preman ini berada dalam kendali Oknum pejabat di berbagai Kedinasan. Bisa berada di bawah oknum perhubungan, Imigrasi, Lanal atau Polisi Air atau TNI lainnya. Umumnya dengan mudah mereka berbagi wilayah dan kewenangannya masing-masing. Sampai di situ tentu tidak akan ada masalah. Persoalan baru akan muncul kalau berbagai jalur tradisional tersebut di alih fungsikan bagi berbagai kepentingan illegal, seperti perdagangan manusia, narkoba dll. Terlebih lagi kalau kegiatan itu bisa mencederai kedaulatan bangsa. Karena itulah maka jalur-jalur tradisional itu perlu di Petakan, agar bisa terpantau dengan lebih baik.
Salah satu contohnya, adalah tertangkapnya kurir SABU dari Malaysia sebut saja MR, Sabtu (4/7/2015), ditangkap di Batam, Kepulauan Riau. Laki-laki berinisial MR itu ditangkap saat membawa 807 gram sabu. Menurut Komandan Pangkalan Utama TNI AL IV/Tanjung Pinang Laksamana Pertama Sulistyanto, di Batam, mengemukakan, MR ditangkap di Nongsa. Ia ditangkap Tim Reaksi Cepat Komando Armada RI Kawasan Barat. Tim itu dalam tugas rutin pengamanan pantai. Sementara “MR datang dengan rombongan pelintas ilegal,” ujarnya.
Tim sedang patroli rutin, sekaligus menindaklanjuti laporan ada perahu pembawa pelintas ilegal akan mendarat di Nongsa. Tim memang menemukan rombongan itu. Di antara mereka terdapat seseorang yang tidak berdialek Indonesia. Saat ia diperiksa, petugas menemukan paket mencurigakan dalam tas MR. Setelah pemeriksaan lebih lanjut, dipastikan paket itu berisi sabu dengan berat keseluruhan kemasan dan isi 807 gram. Kepada petugas, MR mengaku diupah Rp 50 juta untuk membawa sabu itu. Ia menyatakan ada orang di Malaysia yang memintanya membawa sabu. Laki-laki berinisial A itu dinyatakan akan masuk Batam setelah MR tiba. Namun, A tidak pernah muncul di Batam. Modus seperti ini sering terjadi. Hanya saja bagaimana sebenarnya realitas yang sebenarnya? Tentu sangat tergantung dari wilayahnya, ibarat kegiatan illegal lainnya. Umumnya secara priodik para petugas akan melakukan penangkapan-penangkapan. Bagaimanapun cara menuliskannya tetapi umumnya kegiatan illegal itu memang diatur agar terlihat secara wajar dan alami.
Seperti Zalim di Batam, kerja sebagai nakhoda speedboat di jalur illegal tersebut sudah dilakoninya selama puluhan tahun. Namun karena beberapa tahun belakangan penjagaan sudah mulai ketat di perairan yang menghubungkan Indonesia dan Malaysia, akhirnya ia memilih berhenti dan kini menjadi warga Malaysia serta menetap di Malaysia dengan keluarganya. Namun Zalim mengatakan informasi tentang route jalur illegal itu tidak akan dia beberkan meskipun itu sudah jadi rahasia umum dan dia percaya petugas dari aparat mengetahuinya dengan baik. Menurut Zalim beberapa titik yang menjadi tempat lalu lintas bagi pendatang ilegal tersebut kalau dari Batam biasanya berangkat melalui Tanjung Singkuang menggunakan speedboat. Kalau tidak di Tanjung Singkuang berarti dari Batu Besar dan di Malaysianya sendiri biasanya akan diantar ke daratan di empat titik yang selalu jadi pilihan, yakni Kota Tinggi, Sungai Rengit, Pengerang, dan Tiram.

Jalur TKI Ilegal

Sejak zaman TKI khususnya tahun 2011an, Batam masih menjadi jalur utama calon TKI ilegal ke negara-negara tetangga, selain Karimun dan Tanjungpinang. Meski belum ada yang mendata secara resmi, diperkirakan tahun 2011 saja ada lebih dari 20 ribu TKI ilegal masuk ke negara tetangga melalui Batam.Bahkan BNP2TKI waktu itu memperkirakan, tren tersebut akan terus meningkat menyusul belum dicabutnya moratorium atau penghentian pengiriman TKI ke lima negara yakni Malaysia, Yordania, Kuwait, Syria dan Yaman. Kuat dugaan, para TKI ilegal nekat berangkat ke negara-negara timur tengah melalui negara-negara Asean.
“Mereka berangkat melalui Batam ke negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Selanjutnya para calon TKI itu terbang ke Yordan, Yaman dan lainnya. Pihak BNP2TKI mengaku makin kerepotan karena banyaknya jalur tikus di Batam. Begitu juga kalau Hari Raya tiba, setiap kali hendak pulang ke Tanah Air, TKI tak berdokumen menempuh jalur tak resmi, yakni menggunakan jasa agen atau tekong. Meskipun ongkosnya jauh lebih mahal dibandingkan dengan ongkos jalur resmi, hal itu dipilih karena dinilai sebagai satu-satunya cara pulang yang aman ke Tanah Air mengingat mereka tak memiliki dokumen. Jalur ilegal yang pada dasarnya memang mempunyai peran yang sangat khas bagi kepentingan warga di sekitarnya bisa berubah jadi sarana yang sangat merugikan bagi kepentingan penegakan kedaulatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *