Melihat TNI dari Wilayah Perbatasan

Bertugas jauh di timur wilayah NKRI, menjaga wilayah perbatasan sungguh merupakan suatu kehormatan, lebih lagi kalau kita lagi sedang istirahat di puncak ketinggian, menatap jauh ke wilayah Negara tetangga; ada semacam keinginan agar pemerintah kita mampu membangun wilayah ini dengan lebih baik, menjadikannya sebagai wilayah yang tentram dan mampu memberikan kita keleluasaan untuk berkarya dan memperoleh imbalan yang setara. Tetapi di tengah ke galauan seperti itu, kemudian lalu membaca surat kabar ibu kota yang menuliskan permasalahan “pengusiran” para purnawirawan dari rumah-rumah dinas kumuh yang telah mereka tempati selama ini. Memang ga ada yang salah di sana, semestinya yang sudah purnatugas itu ya, seharusnya dengan tulus menyerahkan rumah dinasnya, kepada penggantinya atau temannya yang masih aktif, dan selanjutnya melanjutkan pengabdiannya sesuai dengan kemampuannya. Begitu juga takkala membaca rumah” brigjen purn” Herman Sarens Sudiro yang di kepung anggota Pomdam, terusik sekali rasanya hati ini saat membacanya…

Terus terang saya tertegun melihat para purnawirawan/keluarganya itu beradu mulud dan tongkat dengan petugas berseragam dari Kodam setempat, gegeran untuk “mengusir” para keluarga purnawirawan dari rumah-rumah dinas yang sebenarnya juga tergolong kumuh itu. Kemudian muncul pula drama Brigjen (purn) Herman Sarens Sudiro, yang dikepung aparat Kodam. Apa sesungguhnya yang terjadi? Apakah ini cerminan pimpinan TNI generasi baru? Yang seirama dengan semangat Presiden yang juga telah “membersihkan” TNI dari jajaran kabinetnya? Apakah ini buahnya “reformasi”, atau munculnya para penerus TNI yang sudah “murni” dari kelahiran akademi, yang boleh dikatakan sudah tidak lagi mengenal pola sikap-pola laku para tentara pejuang, generasi yang lahir dari zaman perjuangan rakyat di tahun 45? Yang selama ini sangat bertenggang rasa dan mengayomi keluarga besarnya, keluarga TNI?

Di sisi lain terlihat pula sulitnya kalangan pemuda keluarga purnawirawan itu untuk mengatasi perubahan, mereka gamang mendekati atau membaur dengan kekuasaan parpol, dan juga tidak lagi bisa mengakses ke lingkungan TNI nya; ada semacam kesan lingkungan ke satriaan itu sudah tidak lagi mampu menerima mereka. Keberadaan wadah mereka, belum dapat menemukan tempat yang pas. Ada kesan, mereka terantara antara semangat reformasi dan perubahan zaman dalam lingkungannya yang sudah menjadi sangat asing. Dunia dan lingkungan TNI itu sepertinya tiba-tiba jadi jadi kering, dingin dan tidak ramah lagi dengan rakyat; simbol kemanunggalan TNI-Rakyat itu sungguh, sangat bertolak belakang dengan cara pimpinan TNI dalam memberlakukan para purnawirawan mereka sendiri. Seperti kata S Roch Basoeki, di-mana-mana, para purnawirawan itu digusur kendati urusan berada di tangan pengadilan. Penggusuran itu jelas menunjukkan tidak disiplinnya ”manajemen perumahan” di kalangan TNI. Seolah tanpa perencanaan dan nilai-nilai kemanusiaan. Bila terhadap purnawirawan saja sulit menghargainya (apalagi menghormati), rasionalkah rakyat mengharapkan untuk dicintai oleh TNI? “
Patut di duga disana ada yang salah atau kurang tepat, tetapi hal semacam itu sudah lumrah terjadi dimana-mana, yang kita jaga adalah suasananya. Persoalannya bisa di selesaikan, tetapi rasa korsa tetap jalan. Sebab? Bagaimana rakyat bisa yakin, akan slogan TNI manunggal Rakyat; ya wong sama para purnawirawannya saja caranya begitu? Sungguh perubahan ini, memerlukan kebesaran hati. Khususnya pada mereka yang tengah memegang kendali kepemimpinan di TNI. Semoga ketauladanan Panglima besar Soedirman tetap bisa lestari, janganlah mentang-mentang dengan sesama rakyat sendiri; apalagi itu sahabat satu korp pula.

No comments yet... Be the first to leave a reply!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge