Konflik Wilayah Perbatasan, Dunia Salah Melihat Korut?
Media seolah tidak pernah memahami dan tetap tidak mampu menjelaskan secara persis apa yang menyebabkan Korut bertindak gegabah; tindakan yang bisa menyeret Asia Timur, sentra pertumbuhan ekonomi global, terseret ke perang terbuka secara total. Pandangan dunia dan medianya selalu melihat Korut, sebagai sebuah Negara yang tindakannya benar-benar tidak menunjukkan sikap yang layak untuk dibela. Yang kemudian muncul adalah semua media di dunia memberi pandangan, mulai dari yang paling halus sampai paling tegas. Korut yang komunis, tidak demokratis, dan bertindak keji bagi warganya tak layak mendapatkan simpati. Tetapi bagaimana sebenarnya Korut melihat Negara tetangga dan saudaranya itu?
Media selama ini selalu melihat Korsel yang arif dan selalu memandang Korut sebagai saudara, satu suku, satu bahasa, dan memang pernah menjadi satu negara dengan nama Chosun. Di tengah berbagai langkah dan tingkah polah Korut yang aneh, Korsel selalu bersedia memberikan bantuan pangan ke Korut. Korsel selalu menahan diri dan tidak mengorbankan warga Korut dengan menghentikan bantuan walau Korut provokatif. Demi kelangsungan reuni keluarga Korut-Korsel yang terpisah, Korsel rela mengirimkan bantuan pangan. Korsel menyatakan, bantuan itu bukan merupakan sebuah sogokan,tetapi merupakan sikap simpati pada sesama di Korut. Dan, bantuan itu tetap diberikan setelah serangan terhadap Cheonan.
Ingatlah Akan Soekarno
Ketika Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) tahun 1945, membicarakan tapal batas negara, mereka sebetulnya memutuskan Indonesia Raya, yakni Hindia Belanda ditambah Malaya, Niauw Guinea, Borneo Utara, dan Timor Portugal. Namun, dalam UUD 1945 yang disahkan 18 Agustus 1945, wilayah Indonesia tidak dinyatakan eksplisit. Tetapi ketika Malaysia memutuskan merdeka dan berada dalam Commonwealth Inggris Bung Karno marah dan jadilah perahara “Ganyang Malaysia”. Nah Korea dalam wujud yang sama juga, bisa dilihat dari kacamata seperti itu. Korut sangat tidak respek atas kehadiran Amerika di sana; pandangan seperti inilah yang tidak pernah di lihat media. Di mata Korut, korsel meski “jaya dan berhasil” tetapi mereka tidak lebih dari “boneka Amerika”. Bung Karno saja yang beda sejarah dengan Malaysia, tetap tidak rela kalau mereka masuk ke tangan Commonwealth Inggeris Raya, dan pada waktu itu melihatnya sebagai propokasi nekolim.
Semua itu ada baiknya melihat perang Korea di tahun (1950-1953). Bayangkan perang dua Negara bersaudara itu menewaskan paling tidak dua juta penduduk sipil Korea; sekurang-kurangnya 1,5 juta tentara komunis, lebih kurang 30.000 tentara AS, dan 400.000 tentara Korsel serta 1.000 tentara Inggris. Bisakah anda bayangkan dahsyatnya perang seperti itu? Secara teori perang Korea boleh dibilang ”belum” berakhir. Mereka baru pada tahap “jeda perang”, menghentikan baku tembak. Kedua Negara itu belum berhasil membuat perjanjian perdamaian. Jadi yang ada baru sebatas gencatan senjata. Perang sesungguhnya belum selesai. Itulah sebabnya setiap kali pecah ketegangan antara keduanya, sesungguhnya adalah sesuatu fakta nyata. Termasuk yang terakhir insiden penenggelaman kapal perang Cheonan milik Korsel yang menewaskan 46 awaknya. Dalam kenyataannya,
Korut dan para pihak pendukungnya, tetap akan melihat bagaimana nyawa 1.5 juta penduduk nya “dihabisi” oleh Amerika dan sekutunya. Sama dengan Soekarno, di mata mereka semua bencana itu adalah ulah para “new” kolonialisme baru. Dan Korsel tidak akan pernah mampu dan mau melepaskan diri dari Amerika. Di sanalah dilemanya, dunia tidak pernah lagi peka akan emosi Korut, yang tidak bisa menerima Korsel tetap berada dalam pelukan Amerika. Di sinalah dilemanya; dan sebaiknya media juga harus tetap memperhatikan “emosi” Korut, dan sadar bahwa selama selama kedua Negara itu tidak bisa melepaskan “kehendak” para sekutunya; ya keduanya akan tetap dan selamanya terprokasi dan kehilangan “esensi” semangat bersaudaranya; yang untung secara materi dan pengaruh ya Negara sekutunya; ya China dan juga Amerika.
Peran China dan Amerika
Selama ini yang coba di tonjolkan oleh media adalah wajar atas tuntutan Korsel, untuk adanya perubahan sikap dari Korut. Mengutif media Kompas(25/11) misalnya ”Kami meminta perilaku seperti itu diubah,” kata Hyun In-taek, soal sikap Korut yang ”gila”. Mungkin hal inilah yang dianggap Korut sebagai sikap garis keras dari Korsel. Adalah sebuah tindakan logis, jika Korsel meminta sesuatu dari Korut, dan itu bukan permintaan berat, tetapi sebuah permintaan akan perubahan sikap. Ini tidak saja berguna bagi penciptaan hubungan lebih lebih baik atau jalan menuju reunifikasi. Perubahan sikap Korut itu berguna juga bagi warganya, yang berkali-kali dilanda wabah kelaparan, dan lagi-lagi selalu dibantu oleh Korsel.
Negara ginseng ini juga tetap merindukan reunifikasi. Sebagaimana diutarakan Hyun In-taek, berapa pun besarnya biaya reunifikasi, Korsel sudah siap menanggungnya. Menteri Unifikasi ini menegaskan, ”Adalah sebuah kesedihan menyaksikan saudara sendiri terpisah.” Lalu, apa yang menjadi alasan Korut menyerang Korsel? Dan, siapa yang membuat Korut berani gegabah? Jepang dan Australia sudah meminta China memberi peran. Ini adalah ucapan implisit tentang pengaruh kuat China terhadap Korut. Kim Jong Il beberapa kali berkunjung ke China, termasuk saat meminta restu China terhadap suksesi kepemimpinan kepada putra bungsunya, Kim Jong Un.
China sering meminta agar AS dan Korsel tidak melakukan latihan militer bersama. Korsel sedang melakukan latihan sebelum Korut menyerang Selasa lalu. Apakah ini simbol kemarahan China? Jika iya, China juga harus dimintai tanggung jawab. Ekonomi China maju karena produk-produknya dibeli dunia. China harus menunjukkan tanggung jawab internasional dan tidak mudah merajuk, dan kemudian memanfaatkan Korut untuk membuat situasi di Semenanjung Korea menjadi panas. Tetapi malah di sisi lain Amerika secara tegas mendukung dan akan membela Korsel, kalau perang yang sesungguhnya terjadi.(afp/str)





One Response to “Konflik Wilayah Perbatasan, Dunia Salah Melihat Korut?”
harmen batubara on December 1, 2010
Sebetulnya Korsel juga sering melakukan provokasi dan itu di luar tatanan negara bertetangga yang seharusnya; coba lihat di http://www.kawasanperbatasan.com atau di http://www.wilayahpertahanan.com; jadi memang wajar saja kalau Korut itu jadi nekat…atau menurut anda bagaimana?