Jadikan Wilayah Perbatasan, Etalase Bisnis Kawasan

Selama ini Kalimantan telah menjadi primadona penghasil devisa bagi Indonesia. Tetapi harus kita akui, bahwa kita baru sekedar menjualnya secara bahan baku. Artinya, Negara kita secara sadar. Hanya sekedar, cari gampangnya saja. Lihat misalnya, kayu serta minyak dan gas sempat menjadi komoditas ekspor utama yang luar biasa. Setelah potensi komoditas itu mulai berkurang, mulailah dibuka tambang batu bara terutama di kawasan timur dan tengah sampai selatan. Sayangnya lagi, pemerintah kita tidak mampu menjaga lingkungannya. Jadi kalau tidak hati-hati, maka setelah semua bahan baku komoditas itu habis, maka Negara kita tinggal kerangkanya saja atau tinggal, dan kita tinggal meratapinya.

Kalimantan juga menjadi basis utama penghasil pupuk urea di Indonesia. Dengan ketersediaan gas dalam jumlah dan kualitas, tidaklah mengherankan hampir 70 persen pupuk urea dihasilkan dari kawasan ini. Hanya saja, seperti halnya komoditas hutan dan tambang, sebagian besar pupuk tersebut dikirim ke daerah lain. Sehingga nilai tambah terbesarnya bukan didapat Kalimantan. Kemudian telah pula dimulai pembukaan lahan untuk perkebunan sawit dan penanaman singkong untuk produksi tepung berasal dari ubi kayu itu.

Kalimantan juga merupakan kawasan yang mempunyai potensi air dari berbagai sungai besarnya seharusnya dapat berperan lebih. Bahkan bisa menjadi jawaban atas krisis dunia akan kelangkaan FEW (food, energy, dan water). Kalau kita melihat negeri tetangga, potensi seperti itu, justeru mampu mereka jadikan jadi pusat pembangkit tenaga listrik di kawasan. Di Sarawak sekarang terdapat 14 buah dam besar, yang akan dijadikan sentra pembangkit tenaga listrik, yang hasilnya nanti akan di pasarkan ke kawasan, termasuk ke semenanjung Malaysia, bahkan pemda Kalbar sendiri sudah memanfaatkannya dengan menjadi pelanggan listrik tersebut.

Tidak heran jika pertumbuhan ekonomi Kalimantan memang tetap memperlihatkan tren berkembang, meski tidak setinggi yang ada di Jawa ataupun di Sulawesi. Namun demikian Kalimantan mempunyai angka yang lebih mengesankan dalam penyaluran kredit maupun angka pengeluaran per kapitanya. Demikian juga laju pertumbuhan penduduk, yang disebabkan migrasi dari Jawa, seharusnya dapat memberikan dorongan bagi laju perdagangan yang luar biasa.

Pola konsumsi ritel modern di kota–kota utama Kalimantan dan Jawa mempunyai tren yang sama. Hanya kebiasaan belanja mingguan di Kalimantan lebih rendah. Tetapi masalahnya kebutuhan berbagai barang–barang pabrikan serta bahan–bahan segar lainnya untuk keperluan warga selama ini di datangkan dari Negara tetangga, sebab kalau di datangkan dari Surabaya atau Jawa, jelas harganya lebih mahal. Untuk wilayah perbatasan, jelas mereka sepenuhnya sangat tergantung kepada Negara tetangga. Tetapi hal itu tentu tidak mudah, meskipun berbagai kebijakan yang mereka ambil berdasarkan hasil kesepakatan bersama, tetapi terbatasanya infrastruktur penunjang di wilayah perbatasan tersebut, dengan sendirinya ikut pula mempersulit kehidupan mereka di sana. Pemda dan pemerintah pusat, tidak mempunyai kemampuan yang dibutuhkan, sehingga wilayah perbatasan kita itu, terpaksa jadi daerah yang tertinggal.

Perpaduan gaya hidup dan pola belanja kelompok atas khususnya di kota – kota besar, juga telah mendorong semakin banyak hotel yang masuk ke wilayah Kalimantan. Demikian pula kebiasaan menonton televisi masih menjadi konsumsi media terbesar, terutama di Balikpapan dan Pontianak. Sementara pembaca koran tertinggi ada di Pontianak dan Banjarmasin. Bahkan untuk persentase pemanfaatan internet di Balikpapan dan Pontianak sudah mulai menyamai kota–kota utama di Jawa. Kondisi ini, dapat menjadi suatu peluang untuk meningkatkan intensitas komunikasi bisnis.

Yang belum terpikirkan itu adalah bagaimana mengelola wilayah perbatasan, dan terkait langsung dengan pengembangan perekonomian regional. Hal semecam ini sesungguhnya, sangat tergantung dengan kemampuan kerjasama, para aparat di wilayah perbatasan tersebut, yang juga atas dukungan dari pemerintah lokal dan pusat. Hal inilah yang selama ini tetap masih gelap. Pembangunan di wilayah perbatasan, belum dikaitkan langsung dengan pengembangan wilayah regional. Hal seperti itu, sangat penting maknanya, bagi pembangunan wilayah perbatasan tersebut.

No comments yet... Be the first to leave a reply!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge