Blog

Ekonomi Perbatasan, Ditengah Persaingan Ekonomi ASEAN

Oleh harmen batubara

Dalam usia 50 tahun, Seperti apa sih maknanya di wilayah perbatasan?  Terus terang di wilayah ini keberadaan ASEAN sepertinya masih merupakan  sebuah konsep yang diharapkan akan bisa lebih baik Masyarakat Eropa ( Uni Eropa,UE). Meskipun memiliki keunikan dan keberagaman, yang tidak dimiliki oleh Eropa Barat, seperti sistem politik, ekonomi, sosial, dan budaya (poleksosbud) yang berbeda. Di tengah semangat menguatnya Brexit, tetapi buat masyarakat di negara-negara Eropa Barat, UE jelas dirasakan eksistensi dan manfaatnya. Di negara-negara UE, ketika memasuki suatu distrik, termasuk yang di pelosok, akan  ditemui  berbagai symbol tanda hadirnya kebebasan pergerakan bagi warga UE, termasuk untuk bekerja, juga dimudahkan dengan adanya mekanisme satu visa. Semua itu tentu masih jauh dari yang bisa dicapai oleh ASEAN.

Dengan sekitar 1.000 sidang per tahun, ASEAN—yang dibentuk melalui Deklarasi Bangkok 1967— merupakan salah satu organisasi internasional yang paling sibuk. Sebagai organisasi regional yang memiliki multitujuan (poleksosbudkam) memang wajar kalau semua anggotanya—bahkan negara besar dan organisasi internasional lain—berharap banyak dari asosiasi ini. Apalagi dengan Visi 2020–nya: One Vision, One Identity, One Community. Asean memang sudah jadi acara primadona bagi para kalangan Kemlu dari negara-negara anggota ASEAN, dan telah memberikan hampir semua ajang yang didambakan oleh seorang petugas Kemlu, bepergian, rapat, seminar, dari hotel yang satu ke hotel lainnya sepanjang tahun lengkap dengan honornya. Tetapi ASEAN masih jauh dari warga akar rumput.

Dalam bahasa Kemlu, ASEAN memang berhasil memperhalus berbagai konotasi zone of conflict menjadi zona stabilitas meskipun masih jauh dari capaian zona damai seperti dicanangkan dalam Deklarasi Kuala Lumpur 1971. Dalam bahasa mereka, ASEAN juga makin matang dengan kemampuannya menyelesaikan berbagai konflik utama secara damai, seperti kasus Kuil Preah Vihear, Pulau Sipadan-Ligitan, dan Pulau Pedra Branca, melalui mekanisme bilateral, regional, hingga internasional. Tapi apakah masalahnya jadi selesai?  Kalau terkait perbatasan kita bisa katakana Ya.

Dari semangat Zona Damai Deklarasi Kuala Lumpur 1971 dan kemudian jadi semangat Kawasan Damai & Sejahtera juga di Kuala Lumpur pada tahun 1997 berharap agar ASEAN menjadi kawasan damai, stabil, dan sejahtera sepertinya masih jauh dari yang diangankan. Konflik bersenjata domestik yang masih jadi bara sekam dan bahkan bergolak di sebagian anggota ASEAN, seperti Myanmar (Rohingya), Malaysia (Sabah), Thailand (Patani), Filipina (Marawi,Mindanau), dan Indonesia (Papua), tentu merupakan sesuatu yang jelas mempersulit upaya pencapaian kesejahteraan di kawasan ini.

Capaian Ekonomi di ASEAN

Bagi para penggiatnya, capaian ASEAN cukup menggembirakan. Bagi mereka perdamaian dan stabilitas kawasan merupakan capaian utama ASEAN. Hal itu merupakan hasil upaya yang gigih dan berkesinambungan. Kondisi ini merupakan prasyarat bagi pembangunan ekonomi dan kemajuan sosial yang memberikan manfaat kepada masyarakat. Pada 2016[1], total produk domestik bruto (PDB) ASEAN telah mencapai 2,55 triliun dollar AS dengan rata-rata PDB per kapita 4.021 dollar AS per tahun dan pertumbuhan PDB mencapai 4,8 persen, lebih tinggi daripada PDB global yang berada pada kisaran 3,1 persen. Total perdagangan ASEAN naik sebesar 700 miliar dollar AS pada periode 2007-2015 dengan total nilai perdagangan pada 2016 mencapai 2,22 triliun dollar AS, menjadikan ASEAN ekonomi keenam terbesar dunia dan  ketiga terbesar di Asia.

Baca Juga : Ekonomi Perbatasan Dalam Kerangka Ekonomi ASEAN

Dari total  perdagangan, porsi perdagangan intra-ASEAN 520,96 miliar dollar AS atau 23,48 persen. Rata-rata pertumbuhan ekonomi 5,2 persen pada 2007-2015, menjadikan ASEAN salah satu kawasan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia.Total investasi di ASEAN pada 2016 mencapai 119,9 miliar dollar AS. Dari jumlah itu, 18,5 persen (sekitar 22,18 miliar dollar AS) merupakan investasi intra-ASEAN, dengan 42,7 persen masuk ke Indonesia. Di bidang pariwisata, pada 2016 tercatat 108,8 juta wisatawan berkunjung ke ASEAN, di antaranya 48,9 juta wisatawan intra-ASEAN. Geliat pilar-pilar kegiatan ekonomi itu menjadikan ASEAN salah satu pusat perkembangan ekonomi dunia.

Tapi apakah angka-angka itu punya arti bagi Ekonomi Indonesia? Ternyata dari segi ekspor. Meskipun Indonesia adalah ekonomi terbesar di ASEAN, ternyata hanya berada dalam peringkat ke-4 sebagai eksportir ke pasar ASEAN, berada di belakang Singapura, Thailand, dan Malaysia. Begitu juga soal pemahaman MEA di Indonesia? Menurut Dino Patti Djalal[2]  hanya sekitar 1 persen masyarakat yang mengetahui apa itu isi paket MEA.

Dia percaya masih banyak anggota Kamar Dagang dan Industri (Kadin), Kadin Daerah ataupun Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) yang belum begitu paham mengenai pasar ASEAN. Statistik dari Kementerian Perdagangan juga menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil provinsi di Indonesia yang berdagang secara substansial dengan ASEAN, seperti DKI, Kalimantan Timur, Jawa Timur, Riau, dan Sumatera Utara. Tapi malah beberapa provinsi yang terkenal unggul sebagai produsen produk kerajinan tangan dan kreatif, seperti Yogyakarta dan Bali, ternyata masih sedikit ekspornya ke ASEAN. Itu pun umumnya hanya ke Singapura.Di sini terlihat sekali relevansi ASEAN terhadap ekonomi rakyat Indonesia masih relatif kecil.

Di tingkat regional, ASEAN memang terlihat seksi. Misalnya seperti dalam bidang sosial-budaya misalnya, apakah sudah bisa dikemukakan kegiatan ASEAN Coordination Center for Humanitarian Assistance on Disaster Management Jakarta,  sebagai badan koordinasi bantuan kemanusiaan di kawasan. Apakah sudah terasa perannya dalam meningkatkan respons kawasan dalam menghadapi dan menanggulangi dampak bencana. Juga sisi lain, seperti kerja sama dalam isu kesehatan, pendidikan, dan lingkungan hidup? Apakah sudah menjanjikan koordinasi yang lebih baik untuk mengumpulkan sumber daya dan meningkatkan kapasitas bersama guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat ASEAN. Apakah dinamika kerja sama di kawasan berakibat pada pengurangan jumlah kemiskinan absolut yang pada 1990 mencapai 45 persen dari total penduduk ASEAN 436 juta jiwa? Apakah penurunan nya menjadi 15 persen pada 2010 dari total penduduk ASEAN 609 saat itu, bisa disebut berhasil? Bagaimanapun, kemajuan kawasan Asia Tenggara memang sangat kontras jika kita bandingkan dengan kawasan berkembang lain di dunia lainnya seperti Amerika Latin dan Karibia, belum lagi dengan kondisi di Timur Tengah. Jelas ASEAN punya daya pikat tersendiri. Di saat bersamaan, apresiasi dunia internasional terhadap ASEAN terus meningkat. Kini, ASEAN memiliki 11 mitra wicara (Amerika Serikat, Australia, India, Jepang, Kanada, Korea Selatan, China, Rusia, Selandia Baru, UE, PBB); tiga mitra sektoral (Pakistan, Norwegia, Swiss); dan satu mitra pembangunan (Jerman) dengan berbagai modalitas kerja sama dan bantuan. Sementara itu, puluhan negara dan kelompok regional lain berkehendak menjadi mitra ASEAN.

Tapi Bagaimana MEA di Kawasan Perbatasan?

Kita paham MEA akan bermakna bila Konektiviti jalur udara, laut dan darat antar Asean sudah menjadi kenyataan. Artinya sarana perhubungan itu sudah jadi bagian dari kehidupan warga. Kalau hal itu kita hubungkan dengan kondisi wilayah perbatasan kita. Maka jelas kita punya banyak peluang. Kini pemerintah Indonesia tengah menyelesaikan jalan paralel perbatasan, begitu juga dengan sarana jalan Tol darat, Tol Laut dan Tol Udara, yang kesemuanya itu memastikan bahwa wilayah perbatasan akan mudah terjangkau dari antar moda transportasi. Pemerintah juga sudah merenovasi dan bahkan mempercantik semua PLBN di seluruh perbatasan. Artinya siap untuk dimanfaatkan bagi kegiatan perdagangan, ekspor dan import serta kegiatan pariwisata. Tetapi memang, semua itu masih memerlukan kerja bersama khususnya antar Pemda dua negara, dan juga antar Pemda di dalam negeri sendiri.

Secara kasat mata terdapat empat hal yang akan menjadi fokus MEA ke depan yang dapat dijadikan suatu momentum yang baik untuk Indonesia :

  • Pertama, negara-negara di kawasan Asia Tenggara ini akan dijadikan sebuah wilayah kesatuan pasar dan basis produksi. Dengan terciptanya kesatuan pasar dan basis produksi maka akan membuat arus barang, jasa, investasi, modal dalam jumlah yang besar, dan skilled labour menjadi tidak ada hambatan dari satu negara ke negara lainnya di kawasan Asia Tenggara.
  • Kedua, MEA akan dibentuk sebagai kawasan ekonomi dengan tingkat kompetisi yang tinggi, yang memerlukan suatu kebijakan yang meliputi competition policy, consumer protection, Intellectual Property Rights (IPR), taxation, dan E-Commerce. Dengan demikian, dapat tercipta iklim persaingan yang adil; terdapat perlindungan berupa sistem jaringan dari agen-agen perlindungan konsumen; mencegah terjadinya pelanggaran hak cipta; menciptakan jaringan transportasi yang efisien, aman, dan terintegrasi; menghilangkan sistem Double Taxation, dan; meningkatkan perdagangan dengan media elektronik berbasis online.
  • Ketiga, MEA pun akan dijadikan sebagai kawasan yang memiliki perkembangan ekonomi yang merata, dengan memprioritaskan pada Usaha Kecil Menengah (UKM). Kemampuan daya saing dan dinamisme UKM akan ditingkatkan dengan memfasilitasi akses mereka terhadap informasi terkini, kondisi pasar, pengembangan sumber daya manusia dalam hal peningkatan kemampuan, keuangan, serta teknologi.
  • Keempat, MEA akan diintegrasikan secara penuh terhadap perekonomian global. Dengan dengan membangun sebuah sistem untuk meningkatkan koordinasi terhadap negara-negara anggota. Selain itu, akan ditingkatkan partisipasi negara-negara di kawasan Asia Tenggara pada jaringan pasokan global melalui pengembangkan paket bantuan teknis kepada negara-negara Anggota ASEAN yang kurang berkembang. Hal tersebut dilakukan untuk meningkatkan kemampuan industri dan produktivitas sehingga tidak hanya terjadi peningkatkan partisipasi mereka pada skala regional namun juga memunculkan inisiatif untuk terintegrasi secara global.

Masalahnya bagi Indonesia adalah semua itu baru dalam sebatas bahan koordinasi, sementara siapa yang menjadi penjuru untuk memperkuat kerja sama antar Kementerian/Lembaga (K/L) masih tanda Tanya besar. Kita percaya ASEAN memang sebuah peluang, tetapi kalau kita tidak siap ya semua akan diambil oleh negara tetangga. Seperti kondisi realitas saat ini, ternyata kemampuan Ekspor kita ke ASEAN masih berada di urutan ke empat, dibelakang Singapura, Thailand dan Malaysia Sebuah peluang dan sekaligus tantangan yang sebenarnya amat menggairahkan. Masalahnya apakah kita melihat peluangnya?

Bisnis Online Bisa dari Perbatasan

[1] Arti Strategis 50 Tahun ASEAN, Oleh  Jose Tavares, Kompas.id,  7 Agustus 2017 [2] Saatnya “Merakyatkan” Asean, Dino Patti Djalal  Kompas.id,7 Februari 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *