Citra Rasa Kedai Kopi Perbatasan, Hingga Kopi Termahal Di dunia
Bagi saya gambaran kedai kopi adalah yang ada di desa saya di Aekgarugur, Padangsidempuan, Sumatera Utara. Anda pasti tidak tahu dimana desa itu, sebab memang tidak tercantum di peta buatan manapun (baik Topografi-AD atau peta Bakosurtanal). Bukan masalah rasa Kopinya, tetapi justeru fungsi kedai yang jadi sentra budaya di tengah kampung. Hal seperti ini juga saya temukan di wilayah perbatasan, di Arso (RI-PNG) dan Sebatik (RI-Malaysia) dan juga di Bonegila, Victoria,Australia. Bedanya kalau di Australia para warga datang dengan mobil kerjanya, termasuk traktornya tetapi yang di desa Indonesia ya hanya datang seadanya saja. Tetapi suasananya sama, hangat dan penuh dengan info-info baru dari wilayah sekitarnya.
Kalau ini Sih Ngopi di Kapal Klotok
Di Sebatik (perbatasan RI-Malaysia) lain lagi ceritanya, di pulau itu buah Kopi memang sudah lama dikenal sebagai yang enak rasanya.Tapi ya hanya sebatas katanya. Hanya saja, kopi yang ke sohor justeru “Kopi Tongkat Ali” nya produk kopi sachet Malaysia. Kopi ini sudah melegenda sebagai penambah “stamina”, dan mereka mengandonnya dengan cara atau istilah “kopi tarik”. Cara seduhnya dilakukan dengan dua cangkir yang seolah saling ditumpahkan dari cangkir yang satu ke cangkir lainnya; jadi terlihat seperti di tarik. Di sini mereka belum tahu seperti apa “militansi kedai Kopi di Jakarta”.
Tetapi Kopi dan kedai Kopinya ternyata sudah jauh berubah dewasa ini. Apalagi setelah kita tahu bahwa ternyata kopi termahal di Dunia itu ya Kopi Asli Indonesia. Di Nowyork mereka harga satu juta rupiah per cangkir (US$100). Saya cuplikkan beberapa reportase Kompas(18/9) tentang ini: Kopi luwak, kopi gayo, kopi toraja… alangkah nikmatnya. Namun, di balik secangkir kopi yang sedap tersimpan pergulatan panjang. Kedai kopi lokal itu butuh militansi tersendiri untuk menyajikan biji kopi paling enak dari negeri sendiri. Ternyata Kopi terbaik kita itu memang hanya untuk produk eskpor. Nah tentu banyak pula pengusaha muda kita yang bisa melihat peluang ini.
Kedai kopi Anomali misalnya adalah salah satu fenomena menarik soal kebangkitan kedai kopi lokal di tengah keriuhan kedai kopi internasional yang mendominasi setiap sudut kota. Pada tahun keempat sejak berdiri, dengan ketekunan dua anak muda pendirinya, Anomali kini memiliki empat kedai di Jakarta. Di papan nama Anomali di setiap kedai diusung tagline: ”Kopi Asli Indonesia”. Di situlah soalnya kemudian. ”Di Anomali, kopinya lebih fresh karena mereka mengerjakan roasting biji kopi sendiri di kafenya, kita bisa lihat. Aku selalu beli beans di sana. Apalagi, kopinya langsung dari petani lokal, it’s nice,” tutur Santi Rivai (37), desainer grafis yang menggemari kopi sejak duduk di bangku SMA. ”Indonesia merupakan negara dengan jumlah single origin kopi terbanyak di dunia. Untuk specialty coffee setidaknya ada delapan single origin di Indonesia,” ucap Agam.
Menginspirasi Lahirnya Kopi Lokal
Kata Kompas: Tekad mengusung kopi lokal Indonesia bagi Agam dan Irvan bukanlah berangkat dari sauvinisme, melainkan, di kalangan pencinta kopi dunia, kopi asal Indonesia memang merupakan salah satu kopi terbaik di dunia selain Kolombia dan Brasil. Sebab itu, mereka memutuskan mengeksplorasi total kopi Indonesia sendiri. Ada soal nasionalisme yang pekat juga di situ.
Kedai lokal pemain di ranah specialty coffee lainnya yang mengesankan adalah kedai Kopi Kamu yang berlokasi di Senayan Residence, Jakarta. Kedai yang baru didirikan pengusaha Rudy J Pesik pada Juni 2010 ini juga dengan kesadaran penuh mengusung kopi terbaik asal Indonesia. Rudy yang membeli waralaba Camus di Perancis ini memasarkan produk Kopi Kamu di 1.000 outlet di beberapa negara, seperti Amerika Serikat, Arab Saudi, Malaysia, dan Singapura.
Rudy Pesik yang antara lain mempunyai bisnis di bidang kargo DHL Express itu masuk bisnis kopi karena merasa tertantang setelah kopi Indonesia dikatakan tidak enak. Kopi luwak, misalnya, merupakan potensi Indonesia dan telah terbukti dikenal di kalangan penikmat kopi internasional. ”Kita ini di Nusantara mempunyai kopi dengan kualitas bagus. Saya tertantang untuk membuktikan bahwa kopi kita yang terbaik,” kata Rudy.
Kopi Kinta Mani dan Kopi Empat Lawang
I Wayan Jamin (50) punya cara menaikkan posisi tawar kopi Kintamani. Di pelosok Desa Landih, Bangli, hanya beberapa kilometer dari perbukitan Kintamani, Bali, sejak setahun lalu ia membuka perkebunan kopi luwak. Jamin tidak menangkar luwak di dalam kandang sebagai ”mesin produksi” kopi, tetapi ia ”meliarkan” 31 ekor luwak di area 80 are perkebunan kopinya. Putu Fajar Arcana
Jamin mencoba membuat tiruan perkebunan alami, di mana luwak ”seolah-olah” berada di alam liar. Ia memagari 80 are dari sekitar 2 hektar kebun kopi miliknya. Lalu di kebun berpagar itu, ia melepas 31 ekor luwak, besar dan usia yang setara. Pada musim petik buah kopi antara Mei sampai Juli, luwak-luwak akan berloncatan dari satu pohon ke pohon lain untuk memilih sendiri buah kopi ”terlezat”. Dan pagi hari, di sela kebun kopi, Jamin bisa mendapatkan antara 3-5 kilogram kopi luwak basah setiap hari. ”Kami baru memungut kopi-kopi itu pada sore hari agar lebih kering untuk kemudian dicuci bersih dan dijemur,” katanya.
Selain memelihara luwak sebagai ”mesin produksi” kopi yang alami, Jamin bersama warga desa di Subak Sukamaju, Kintamani, kelompok petani kopi, bekerja sama untuk mengumpulkan kopi luwak liar dari hutan wisata Kintamani seluas 150 hektar. Untuk satu kilogram kopi luwak liar basah, Jamin membayar Rp 100.000. ”Tetapi saya hanya memberi pemungutnya Rp 50.000, dan Rp 50.000 lagi disimpan di kelompok subak,” kata Jamin. Dengan cara itu, anggota subak dan kelompok akan tumbuh bersama-sama menikmati rezeki yang mengalir dari luwak.
Ceritanya beda dengan Kopi Empat Lawang. Soal itulah yang kini dihadapi oleh para petani kopi di Kabupaten Empat Lawang, Sumatera Selatan. Padahal tanaman kopi di kabupaten ini sudah ada sejak zaman Belanda dulu. Luasan sebaran kebun kopi, menurut Bupati Empat Lawang Budi Antoni Aljufri, di kabupaten ini mencapai 61.978 hektar atau seperempat dari total luas wilayah.
Masalahnya, sebagian besar petani masih mengolah kopi jenis robusta ini secara tradisional, hanya menjemur kopi basah di pinggiran jalan. Peluang itu justru dimanfaatkan oleh daerah seperti Lampung, yang kemudian memasarkan kopi Empat Lawang, sebagai kopi Lampung. Di sini seolah berlaku pepatah, Empat Lawang punya kopi, Lampung punya nama. Itulah sebabnya, Budi Antoni bertekad akan membuka kafe kopi khusus Empat Lawang di Jakarta.
Kopi Lokal Kopi Kebanggaan.
Di Sebatik ( perbatasan RI-Malaysia) lain lagi ceritanya, di pulau itu buah Kopi memang sudah lama dikenal sebagai yang enak rasanya. Hanya saja, kopi yang ke sohor justeru “Kopi Tongkat Ali” nya produk kopi sachet Malaysia. Kopi ini sudah melegenda sebagai penambah “stamina”, dan mereka mengandonnya dengan cara atau istilah “kopi tarik”. Cara seduhnya dilakukan dengan dua cangkir yang seolah saling ditumpahkan dari cangkir yang satu ke cangkir lainnya; jadi terlihat seperti di tarik. Di sini mereka belum tahu seperti apa “militansi kedai Kopi di Jakarta”.
Kompas juga menguraikan; Semangat kelokalan juga menapasi Waddaddah, kedai kopi di Bandung, Jawa Barat, yang fokus mengusung kopi asal Bulukumba, Sulawesi Selatan. Yaya, yang asal Bulukumba, mendirikan Waddaddah karena kepincut berat dengan cita rasa kopi di kampungnya. Menurut Yaya, terjadi demam pertumbuhan warung kopi di Bulukumba sejak Facebook digandrungi. Pasalnya, warung kopi penyedia wifi gratis menjadi salah satu faktor penarik pengunjung. Demam ngopi di kedai jadi trend baru di Desanya. Menurutnya ini agak aneh, sebab, perkebunan kopi telah eksis sejak zaman Belanda di Sulawesi. Namun kultur minum kopi di Bulukumba, terlebih di kedai kopi, menurut Yaya, baru muncul belakangan ini.
Sikap total serupa juga dilakukan oleh kedai kopi lokal bernama Macehat di Medan, Sumatera Utara. Kedai kopi yang mengusung kopi lokal arabika khusus asal Sumatera ini bahkan mengolah sendiri buah kopi yang baru dipanen. Buah kopi itu kemudian dipilih yang benar-benar berwarna merah. Kopi lalu ditangani melalui tahap pengolahan yang panjang, mulai dari pengupasan, fermentasi, pencucian, pengeringan, pendinginan (tampering), pengupasan kulit tanduk, pengeringan akhir, hingga penyang raian. Pendirinya, Verayani Jioe, meyakini cara demikian mampu meraih dan menjaga kualitas biji kopi yang premium.
Indonesia punya tradisi kedai kopi yang luar biasa dan itu ada dimana-mana dan sekarang para pengusaha muda kita telah muncul untuk mengurainya dan itu bisa dipercaya akan menemukan pola dan alur bisnis keberhasilannya. Mana tahu, kedai-kedai Kopi seperti ini perlu juga di hadirkan di wilayah-wilayah perbatasan. Minimal memperlihatkan wajah asli Indonesia dengan aroma kopinya sebagai kopi terbaik dan termahal di Dunia.





