BG and The Bear, Konvoi Truk Wilayah Perbatasan Kupang-Dili

Masih ingat serial film BG and The Bear, serial kehidupan para sopir truk itu? Nah dengan aroma yang berbeda, ternyata hal yang sama kita temukan juga di wilayah perbatasan antara Indonesia-Timor Leste, antara Kupang-Dili. Kalau hubungan kedua Negara tetap terjaga dengan baik, maka bisnis juga bisa ikut sejalan dan masyarakatnya kian sejahtera. Cobalah baca tulisannya mas Iwan Santosa berikut ini;
perbatasan Jurang sedalam lebih dari 100 meter menganga di sebelah kiri, laut dalam biru gelap terlihat, truk tronton bermuatan ratusan kasur dan barang kelontong yang dikemudikan Ansar Abdullah (53) merayap dan menikung di jalan sempit berlubang di Bobonaro, Timor Leste, Minggu (29/11), selepas meninggalkan Mota Ain, Nusa Tenggara Timur.
Saat berbelok tajam ke kanan, tiba-tiba Ansar menginjak rem, menghindari sebuah jip Baby Pajero berpelat nomor putih dengan huruf T-LS (Timor Leste) yang datang dari arah berlawanan. Truk berhenti di dekat jurang menganga dan pengemudi jip membanting setir ke dekat tebing.
Ansar pun mengatur strategi untuk mengambil celah jalan yang tersisa. Sesekali batu berguguran dari samping truk bernomor polisi Surabaya itu, masuk ke jurang yang nyaris tidak kelihatan dasarnya. Pengemudi Baby Pajero itu juga memundurkan kendaraan mengambil jarak dengan merapat ke tebing batu.
Rombongan truk di belakang Ansar ikut berhenti dan mengambil jarak aman. Satu per satu truk pun melintas wilayah perbatasan itu sambil melambaikan tangan kepada pengemudi jip Baby Pajero yang dibalas dengan bunyi klakson.
Rombongan truk pun melintas di punggungan bukit dengan jalan sempit dan jurang menganga mengapit lintasan. Sepintas lalu suasana tersebut mirip adegan pembuka film Fast and Furious ketika Vin Diesel membajak truk pengangkut bensin di dataran tinggi Dominika.
”Harus sabar mengemudi di sini. Salah perhitungan, bisa celaka masuk jurang terus ke dalam laut,” kata Ansar yang sudah lama mengemudikan truk tronton di Nusa Tenggara Timur (NTT). Sejak setahun terakhir, Ansar secara tetap mengantar barang kelontong dan bahan-bahan pokok dari Kupang ke Dili dengan melintasi pegunungan terjal di NTT dari Soe, Kefamenanu, Atambua, Pelabuhan Atapupu, lalu menyeberang ke perbatasan RI-Timor Leste di Mota Ain-Batu Gade.
Nyaris semua lintasan itu merupakan perbukitan terjal dengan kemiringan mencapai 30 derajat. Merayap naik ataupun meluncur turun sama berbahayanya di jalur Kupang-Dili.
Selepas Maubara, masih ada tanjakan dan tikungan maut di lintasan menjelang Liquica yang masih berjarak sekitar 60 kilometer dari Dili. Beberapa kali terlihat pembatas jalan hancur di tepi jurang, yang menandakan pernah diterjang kendaraan yang mungkin saja meluncur jatuh. Ciri khas infrastruktur di wilayah perbatasan.
Pada lintasan datar pun tidak berarti truk bisa melaju. Banyak ternak milik warga berkeliaran di tepi jalan. Kambing, kerbau, dan babi terlihat di tepian jalan. Belum lagi kondisi jalan yang sempit dan berlubang turut menghambat perjalanan.
Untuk menempuh jarak Mota Ain-Dili yang hanya sekitar 120 kilometer, diperlukan waktu sekitar enam jam. Sepanjang perjalanan di wilayah Timor Leste terlihat perubahan sarana publik peninggalan Indonesia yang diganti dengan bahasa Portugis.
Beberapa kali terlihat sekolah dasar yang diganti menjadi escuola primaira publica. Demikian pula bekas kantor polisi yang digunakan Polisi PBB (UN Police) dengan mobil patroli dengan huruf UN diparkir rapi. Terlihat pula bangunan baru, yakni mercado (pasar), di desa yang dibangun rapi di pinggir jalan dan kios penjual kerajinan tangan setempat.
Beberapa hacienda pejabat (pendapa) zaman Portugis terlihat diperbaiki rapi dan dilestarikan. Bangunan khas arsitektur Semenanjung Iberia itu terlihat di pusat-pusat kota yang dilewati rombongan Ansar dan kawan-kawan.
Tidak ketinggalan beberapa batu peringatan pembangunan infrastruktur, seperti jembatan, dan peringatan Bhakti ABRI masih ada di bangunan-bangunan yang dibangun Pemerintah Republik Indonesia.
Iring-iringan berangkat pada Sabtu (28/11) pukul 22.00 Wita. Pemilik barang, Firdaus Sukur (50) asal Soppeng, Sulawesi Selatan, ikut dalam rombongan dan sesekali mengemudi menggantikan Obeth Balasso (42) yang berasal dari Luwu, Sulawesi Selatan, yang mengemudikan tronton berpelat nomor DH, nomor polisi Kupang, NTT.
Menjelang Minggu sekitar pukul 20.00 WIT, rombongan tiba di bundaran di depan Bandara Komoro, Dili. Langit semburat jingga di pantai Dili mengiringi kedatangan rombongan truk yang berjalan tanpa berhenti untuk menginap sejak berangkat dari Kupang.
Truk pengangkut devisa
Rombongan truk itu adalah salah satu tulang punggung pasokan bahan-bahan pokok dan barang kelontong bagi Timor Leste. Sebagian besar kebutuhan sehari-hari warga Timor Leste didatangkan dari Indonesia, dengan memanfaatkan jalan lintas perbatasan antar ke dua Negara.
”Setiap bulan saya bisa empat kali berangkat dari Kupang ke Dili. Sekali jalan, kami dapat bayaran bersih Rp 250.000. Tidak ada pungutan liar di jalan wilayah kita ataupun Timor Leste,” kata Obeth yang lama mengemudikan truk trailer di jalur Surabaya-Jakarta-Medan.
Ia mengaku sudah empat kali mengganti buku paspornya karena sering mengemudikan truk di jalur Kupang-Dili yang mengharuskannya mengecap paspor. Dia membayar visa on arrival sebesar 30 dollar AS untuk masuk ke wilayah Timor Leste. Barang dagangannya juga dikenai pajak sebesar 5 persen oleh Bea dan Cukai Timor Leste.
Untuk menghemat pengeluaran, para sopir hanya mengisi solar sebanyak 30 liter di Dili seharga 27 dollar AS atau sekitar Rp 270.000. Mereka mengisi ulang bahan bakar setiba di Atambua, NTT.
Sekretaris Satu Kedutaan Besar Republik Indonesia di Dili, Victor Josef Sambuaga, mengatakan, perdagangan kedua negara sejak 10 tahun terakhir mendatangkan keuntungan bagi Indonesia. ”Sekitar 70 persen impor Timor Leste berasal dari RI. Neraca perdagangan tahun lalu sebesar 75,71 juta dollar AS juga mencatat ekspor RI ke Timor Leste sebesar 72,66 juta dollar AS dan impor kita dari Timor Leste sekitar 3 juta dollar AS,” kata Victor Sambuaga.
Kelasi Satu (P) Debi Suprianto yang bertugas di Pos TNI AL di Pelabuhan Atapupu, perbatasan RI-Timor Leste, mengatakan, perdagangan bahan-bahan pokok membuat kaya pengusaha Indonesia. ”Tetapi, di pihak lain, banyak juga warga kita yang ditengarai menyelundupkan BBM, seperti bensin, ke Timor Leste lewat jalur laut. Harga bensin di Timor Leste paling murah Rp 9.000 per liter, jauh lebih mahal dari harga di Indonesia,” kata Debi yang asal Semarang, Jawa Tengah.
Victor Sambuaga membenarkan keterangan Debi itu. Menurut dia, yang perlu dicermati dalam perdagangan RI-Timor Leste adalah penyelundupan BBM yang sangat merugikan Indonesia.
Keuntungan penyelundup BBM jauh berlipat ganda dibandingkan dengan penghasilan sopir truk pahlawan devisa yang menyabung nyawa setiap melintasi jalur maut Kupang-Atambua-Dili
(Sumber; Kompas, Iwan Santosa, 5/12/ 2009)




One Response to “BG and The Bear, Konvoi Truk Wilayah Perbatasan Kupang-Dili”
batubara on December 5, 2009
Wilayah perbatasan tidak lama lagi akan mempunyai suatu Badan Nasional Pengelolaan Perbatasan, sesuai amanat UU N0.43 tahun 2008 tentang Wilayah Negara. Badan ini nantinya akan mensinergikan semua kegiatan stake holder, terkait batas mulai dari jajaran menko prekonomian, menkopolhukam dan menko kesejehateraan; harapan menjadikan wilayah perbatasan jadi halaman depan bangsa, kian jadi kenyataan. Semoga, pendapat sobat gimana?