Blog

Bangga Jadi Penulis Dari Perbatasan, Berkarya Untuk Anak Negeri

Oleh harmen batubara

Saya ingat kembali takkala Kodim Malinau melaksanakan pelatihan menulis pada November 2014. “Aku Bangga Jadi Anak Perbatasan” demikian tema yang diusung oleh salah seorang siswa SMP di Kayan Selatan Kabupaten Malinau, waktu itu. Lalu saya menemukan tulisan Dodi Mawardi di Kopasiana, 17 juni 2015. Tulis Dodi,  ketika menulis artikel dalam pelatihan menulis yang diselenggarakan oleh Kodim Malinau, 21-22 November 2014. Pelatihan berlangsung di balai pertemuan desa, dan di sebuah danau indah yang dikelilingi oleh hutan belantara. Awalnya mereka malu-malu. Tampak sekali rasa kurang percaya diri dari sekitar 60 siswa SMP dan SMA di kecamatan paling luar Indonesia di Kalimatan yang berbatasan langsung dengan Serawak Malaysia.

Mereka diberi materi dasar penulisan artikel, plus motivasi dari mentor, semangat mereka menggelegak tak tertahankan. “Anak perbatasan juga bisa!” begitu bunyi judul artikel lainnya, yang ditulis seorang siswa SMA. Selama pelatihan, dia berulang kali bertanya tentang banyak hal. Bersama rekan-rekannya, dia juga selalu bersemangat mengikuti apapun petunjuk dari mentor. Saya, sangat bahagia bisa berbagi dengan anak-anak SMP dan SMA di desa Long Ampung Kecamatan Kayan Selatan dan desa Long Nawang kecamatan Kayan Ulu, kabupaten Malinau. Ketika komandan Kodim Malinau Letkol Inf Agus Bhakti meminta bantuan untuk melatih anak-anak itu selama dua hari di perbatasan, saya tidak pikir panjang. Setuju. Dan apa yang saya bayangkan tentang anak-anak perbatasan yang terbelakang. Atau meminjam lagunya si Doel “Anak Betawi Ketinggalan Zaman” menjadi “Anak Perbatasan Ketinggalan Zaman” sama sekali tidak terbukti. Anak-anak perbatasan tidak kalah gaulnya dibanding anak kota.

Dalam banyak hal, mereka sama saja dengan anak-anak lain di wilayah lainnya. Mereka menentang HP dan Smartphone kemana-mana. Bahkan, dalam sejumlah hal, mereka adalah anak-anak remaja yang luar biasa. Kondisi mereka serba terbatas. Bayangkan, di desa mereka belum ada listrik. Yang ada hanyalah genset yang menyala hanya 4 jam sehari, dari jam 18.00 sampai jam 22.00. Di desa mereka tidak ada sarana lengkap, tidak ada pusat belanja, tidak ada perpustakaan besar, tidak ada transportasi publik… tidak ada. Semua serba terbatas. Tapi… semangat mereka amat membara. Saya hanya menyentuh mereka dengan perumpamaan Nick Vujigic, pria tanpa lengan dan tanpa kaki, yang menjelma menjadi manusia luar biasa.

Padahal, apa yang dilakukan Nick sebenarnya biasa-biasa saja buat manusia normal. Nick bisa berenang, bermain bola, main golf, dan kegiatan lain yang biasa dilakukan manusia normal. Menjadi luar biasa, karena Nick punya keterbatasan amat yaitu tanpa tangan dan tanpa kaki. Bagaimana seorang tanpa tangan dan tanpa kaki, mampu bermain bola, berenang, ski air, main golf bahkan terjun payung! Anak-anak di perbatasan pun demikian. Mereka punya banyak keterbatasan hidup. Maka ketika mereka mampu melakukan apa yang dilakukan oleh mereka yang hidup berkelimpahan, bakal menjadi sesuatu yang luar biasa. Dan mereka yakin, mereka bisa! Jangan kaget jika dalam beberapa bulan ke depan, atau beberapa tahun lagi, akan lahir penulis-penulis keren dari desa perbatasan. Sekarang, mereka sedang merajut mimpi itu. Semoga.

Paket Menulis Untuk Kehidupan

Saya juga ingat pesan guru besar Imam Ghazali tentu untuk anak-anak muda di negeri zazirah sana. Kalau kau Bukan Anak Raja atau bukan anak Ulama Besar, maka jadilah seorang Penulis- Ya jadi penulis adalah sesuatu yang sangat spesial. Malah Pramoedya Ananta Toer menuliskan- “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”  Saya pribadi sudah lama merasakan manfaat dari menulis. Sebagai anak dari desa di daerah terpencil dan tertinggal di Sumatera Utara-saya tidak punya akses kemana-mana untuk bisa keluar dari belenggu desa-karena memang tidak punya apa-apa untuk bisa keluar dari jeratan keterbelakangan desa, terpencil dan belum punya tokoh panutan. Tapi mungkin sudah Tuhan yang atur- dan dengan semangat tembak langsung- ahirnya saya bisa keluar dan malah kuliah di UGM Yogyakarta. Sebuah perguruan tinggi ternama sejak dari sananya.

Sudah dapat kuliah tetapi lalu tidak punya uang untuk membiayainya. Pilihan yang waras waktu itu, hanya kalau saya bisa jadi penulis. Karena menuliskan bisa dilakukan sambil kuliha. Kemudian menjadikan penulis sebagai sumber penghasilan untuk bisa kuliah. Pemikiran seperti itu sebenarnya adalah sesuatu yang tidak terbayangkan. Coba, jaman itu belum ada computer-adanya Cuma mesin tik-dan itupun milik kantor RW. Tetapi semangat untuk bisa bertahan-saya berusaha dan belajar untuk jadi penulis-menulis dengan mesin kantor kelurahan pula. Siang malam saya berlatih menulis-baca teori-wawancara langsung dengan siapa saja-menulis dan terus menulis-Enam bulan kemudian-tulisan pun mulai muncul satu persatu-di berbagai harian lokal dan malah nasional. Itu real dan itu nyata-sebab saya sendiri yang melakoninya. Terus terang uang honor tulisan saya perbulannya lebih besar dari uang bulanan teman saya yang anak bupati. Kebayang nggak?

Best Seller Dari Bukalapak Com

Nah itulah yang saya tuliskan dan kemudian jadi Buku Best Seller di Bukalapak.com. Tiga Serangkai Best Seller.Tiga buku ini sejak awal sudah di desain untuk menjadi bekal awal bagi melahirkan seorang penulis sederhana tapi profesional. Penulis yang mampu menjadikan penghidupan dari kepenulisan. Buku Pertama, Ketika Jalan Terutup Menulis Malah Memberiku Segalanya. Adalah kisah tentang seorang mahasiswa yang terjebak  dan nyaris berhenti, ketika ia tidak punya uang untuk kuliah. Tanpa bakat, tanpa kemampuan menulis-tetapi malah bertekat menjadikan menulis sebagai ladang untuk membiayai kuliahnya. Latihan-latihan-dan latihan sampai ahirnya ia bisa jadi penulis di Koran harian dimana-mana. Diujung perjuangannya-mahasiswa itu malah dapat menjadikan dirinya penulis kampus serta jadi penulis lepas sebagai sumber kehidupannya dan malah penghasilannya mampu melebihi wesel bulanan dari para temannya yang kebetulan jadi anak Bupati. Itu kisah riel, karena saya sendirilah pelakunya. Buku ini mengalir dari pengalaman pribadi dibekalkan dengan berbagai ilmu lain untuk memperkuatnya.

Buku Pertama, Ketika Jalan Terutup Menulis Malah Memberiku Segalanya. Adalah kisah tentang seorang mahasiswa yang terjebak  dan nyaris berhenti, ketika ia tidak punya uang untuk kuliah. Tanpa bakat, tanpa kemampuan menulis-tetapi malah bertekat menjadikan menulis sebagai ladang untuk membiayai kuliahnya. Latihan-latihan-dan latihan sampai ahirnya ia bisa jadi penulis di Koran harian dimana-mana. Diujung perjuangannya-mahasiswa itu malah dapat menjadikan dirinya penulis kampus serta jadi penulis lepas sebagai sumber kehidupannya dan malah penghasilannya mampu melebihi wesel bulanan dari para temannya yang kebetulan jadi anak Bupati. Itu kisah riel, karena saya sendirilah pelakunya. Buku ini mengalir dari pengalaman pribadi dibekalkan dengan berbagai ilmu lain untuk memperkuatnya.

Buku kedua adalah upaya transformasi kemampuan menulis tradisional, bagi penulis yang masih asing dengan berbagai gadget dunia Online; untuk menjadi penulis di zaman Dot Com. Penulis Life Style Dot Com, penulis yang dapat memanfaatkan media Online jadi ladang kepenulisan baru-seorang penulis yang diberi bekal untuk bisa membuat website-mulai dari nol hingga websitenya bisa muncul di halaman pertama mesin pencari  Google- juga dia diberi bekal untuk memanfaatkan media social seperti Facebook-twitter-Trumbl-Linkedin-Pin It-Stmble Upon-Google + dll. Penulis yang diberi bekal untuk mencoba sedari awal membangun brand nya sendiri. Sampai ia bisa menjadi professional dalam kepenulisannya. Sungguh sebuah buku yang penuh dengan berbagai ilmu dan ketrampilan yang diperlukan oleh seorang penulis Lifestyle Dot Com.

MAU LIHAT PAKETNYA DISINI

Buku ketiga adalah buku yang memperlihatkan bagaimana  cara-cara yang cerdas dan efektif untuk bisa menjadikan anda sebagai seorang penulis professional di Koran-koran harian-mingguan atau majalah bulanan. Cara-cara yang sudah teruji dan dilakukan oleh para ahli dalam menulis. Dengan berbekal buku ini; saya yakin anda akan jadi penulis handal, yang tulisannya pasti di senangi oleh para pemimpin redaksi Koran –koran yang tulisan anda akan kirimi. Para sahabat atau siapapun anda-dengan berbekal ketiga buku ini sejatinya telah lebih dari cukup untuk menghantarkan anda menjadi penulis “bersahaja” yang disenangi oleh para pembacanya. Dan dibalik semua itu, anda juga akan bisa menjadi seorang penulis yang sepenuhnya bisa menghandalkan hidup dari menulis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *