12 Pulau Kecil Terluar, Potensi Wisata Yang Menjanjikan
Selama ini, setiap kali kita membicarakan wilayah perbatasan atau pulau-pulau kecil terluar, pastilah yang muncul di benak kita pastilah berbagai hal yang akan menyulitkan. Ya lokasinyalah yang terisolir, minimnya infrastruktur dll. Misalnya seperti yang di utarakan oleh Panglima Tentara Nasional Indonesia Jenderal TNI Djoko Santoso saat mengungkapkan hal itu dalam paparannya di depan peserta Seminar Nasional ”Mengawal NKRI di Perbatasan” di Universitas Indonesia, Depok, Selasa (12/1) yang lalu.
Dari 92 pulau terluar, yang akhir-akhir ini sering disebut pulau terdepan, yang digunakan sebagai titik dasar dalam menetapkan garis batas wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, 12 pulau di antaranya memiliki potensi konflik dengan negara lain. Dua belas pulau itu adalah Pulau Rondo, Sekatung, Berhala, Nipa, Marore, Miangas, Marampit, Fani, Fanildo, Brass, Batek, dan Pulau Dana malah kalau mau bisa menambahkan pulau Sebatik di Nunukan, Kalimantan Timur atau dekat blok Ambalat.
Menurut Djoko, potensi konflik itu menjadi lebih terbuka bila mengingat adanya sejumlah masalah di wilayah perbatasan. Masalah yang dimaksud, antara lain, belum tuntasnya perundingan untuk menetapkan batas wilayah tiap negara di antara 10 negara yang berbatasan dengan Indonesia.
Selain itu, wilayah perbatasan, khususnya wilayah darat, tergolong daerah tertinggal dengan sumber daya manusia yang kapasitas dan kualitasnya rendah sebagai dampak dari terbatasnya infrastruktur sosial dan komunikasi. Panglima TNI juga menyebut unsur kesenjangan sosial dan ekonomi antara penduduk di perbatasan negara tetangga dan negara Indonesia.
Dalam forum yang sama, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro memaparkan, jenis ancaman nonmiliter, yang mewujud dalam ideologi, ekonomi, dan budaya, hingga jangka menengah lebih kuat dibandingkan dengan ancaman militer. Menyinggung sumbernya, ancaman bisa berasal dari internal, berupa terorisme dan separatisme, maupun eksternal, berupa pencurian ikan. Dari sisi aktornya, bisa negara atau bukan negara (nonstate).
Peserta seminar, termasuk mahasiswa UI yang Juli dan Agustus 2009 melakukan kuliah kerja nyata di wilayah perbatasan, mendapat tambahan wawasan dari Staf Ahli Kementerian Kelautan dan Perikanan Suseno Sukoyono dan Staf Ahli Kementerian Dalam Negeri Agung Mulyana. Suseno antara lain menyoroti berbagai praktik pencurian ikan dan keterbatasan sarana di Kementeriannya. Misalnya, dari 45 kapal patroli yang seharusnya dimiliki, kini baru ada 23 kapal.
Agung mengakui tanda perbatasan yang jauh dari mencukupi. Bahkan, tanda (patok) yang dipasang tak sedikit yang hilang. Sejarawan Leirissa dari UI mengusulkan adanya satuan pengawal laut yang kuat bila kita benar-benar ingin mengembangkan wawasan bahari.
Kurang Peka
Kalau kita ingan insiden pulau Bintan, dimana polisi Malaysia menangkap petugas Perikanan Indonesia di wilayah kita sendiri; sebenarnya sih yang keterlaluan itu ya pihak Indonesia; ya jajaran TNI-AL kita; oke lah misalnya sarana patrolinya terbatas seperti yang dikatakan oleh Agung Mulyana, tetapi sebenarnya akan TNI-AL tahu persis di wilayah mana saja wilayah perbatasan kita “rawan” terhadap penangkapan ikan atau kegiatan illegal lainnya; hemat kita di wilayah itulah TNI-AL menggelar sarana patrolinya; kita percaya kalau hal seperti itu dilakukan, pastilah insiden bintan tidak akan terjadi.
Bahkan kalau Kementerian Pariwisata mau menjalin kerjasama dengan jajaran pengusaha pariwisata nasional, kawasan atau bekerja sama dengan Negara tetangga, tentu masalahnya akan lebih baik lagi; di satu sisi potensi pariwisatanya bisa terjual dan kerjasama dengan Negara tetangga menjadi lebih baik. Secara konsep hal itu patut untuk diperjuangkan; hanya saja masalahnya, bisakah atau adakah yang bisa melihat potensi yang perlu dikembangkan di ppkt itu. Jadi jangan hanya melihat sisi lemahnya saja tetapi ya sudut potensinya juga. Sekali lagi hal itu mudah untuk di wacanakan, tetapi untuk mengaksinya tentu beda lagi.
Guru besar hukum internasional Hikmahanto Juwana juga mengingatkan perlunya bangsa Indonesia, termasuk mahasiswa, memberi perhatian lebih serius terhadap masalah perbatasan. Sebaliknya, Rektor UI Gumilar Rusliwa Somantri menyebutkan, kuliah kerja nyata yang sebelum ini vakum akan digiatkan kembali. Tahun ini, UI akan kuliah kerja nyata di Miangas. Ya tanpa adanya perhatian, bisa dibayangkan pastilah persoalannya juga bakal tidak akan diketahui. Nampaknya taraf perhatian kita terhadap wilayah perbatasan barulah pada tahap pengenalan; kalau itu nyatanya, maka wajar saja “insiden bintan” bisa terjadi.




One Response to “12 Pulau Kecil Terluar, Potensi Wisata Yang Menjanjikan”
harmen batubara on September 28, 2010
Selama ini yang kita ketahui tentang wilayah perbatasan negara kita atau pulau-pulau kecil terluarnya adalah kondisi infrastrukrutnya yang payah, minim dll. Memang sih faktanya demikian, tetapi kalau hal itu di siasati dan dikembangkan ke arah pariwisata laut dan pulau dan apalagi dikerjasamakan dengan negara tetangga, pastilah banyak manfaatnya; semoga yang berwenang di bidangnya dapat melihat potensi tersebut….salam