Wilayah Perbatasan, Ekpedisi Nusantara Jaya 2015 Menjemput Hadirnya Tol Laut Nusantara

Oleh harmen batubara

Kementerian Koordinator (Kemenko) Maritim akan menggelar “Ekspedisi Nusantara Jaya 2015” (ENJ). Kegiatan tersebut rencananya akan dilangsungkan pada 1–30 Juni 2015, menyinggahi 540 pelabuhan di seluruh Indonesia, dengan menggunakan 86 kapal perintis, 1 Kapal KRI Banda Aceh, dan 2 kapal Rumah Sakit Doctor Share. Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia bidang Kelautan dan Perikanan mendukung penuh program ini dan akan melibatkan seluruh pengurus Kadin untuk mengalokasikan Corporate Social Responsibility (CSR)-nya,” ujar Wakil Ketua Umum KADIN Bidang Kelautan dan Perikanan Yugi Prayanto di Kantor KADIN Indonesia, di Jakarta, Selasa (26/5).
Yugi menuturkan, Menko Maritim Indroyono Susilo mengajak seluruh pengurus Kadin untuk memberikan dukungan non tunai pada program tersebut. Sehingga, secara maksimal program tersebut bisa dimanfaatkan oleh setiap pengurus Kadin untuk saling berbagi kepada masyarakat di daerah Indonesia. Bagi pengurus Kadin yang tidak memiliki produk-produk unggulan, bisa membeli bahan-bahan yang diperlukan dalam program tersebut untuk kemudian dibawa dalam program ENJ 2015. “Karena Menko Maritim tidak mau menerima uang tunai untuk kegiatan tersebut, maka kita akan upayakan semaksimal mungkin untuk membantu sesuai kapasitas KADIN,” ujar Yugi. Yugi menambahkan, dari Kadin Kelautan sendiri akan membantu memberikan bahan pokok seperti mie instan dan obat-obatan. Selain itu, dari pengurus Kadin lainnya juga akan memberikan buku-buku.

Ekspedisi Nusantara Jaya Menjemput Wujutnya Gagasan Tol Laut.

Rencananya Tim akan memberikan bantuan sembako kepada masyarakat di wilayah yang disinggahi selama ekspedisi tersebut. Bantuan itu, misalnya, produk perikanan, obat-obatan, dan buku. Di samping itu, pasar murah di Indonesia timur. Sebaliknya, kapal juga akan mengangkut produk unggulan dari Indonesia timur untuk dipasarkan ke Pulau Jawa.
Deputi Koordinator Sumber Daya Manusia, Ilmu Pengetahuan Teknologi, dan Budaya Maritim Safri Burhanuddin mengatakan, program ENJ 2015 berawal dari gagasan Presiden Jokowi tentang tol laut karena mencermati lonjakan harga yang kerap terjadi di daerah terpencil akibat tingginya biaya distribusi. Harapan ekspedisi ini bertujuan menghubungkan satu daerah dengan daerah lainnya guna memangkas jalur distribusi barang dari satu daerah ke daerah lain.
Tujuan dari kegiatan ini adalah “Meningkatkan konektivitas di pulau-pulau terluar, terpencil dan wilayah perbatasan, melalui peningkatan akses terhadap kebutuhan bahan pokok sehari-hari, fasilitas kesehatan, fasilitas pendidikan, sarana dan prasarana, serta percepatan pembangunan di wilayah pulau-pulau dan perbatasan”. Seperti diutarakan sebelumnya, kegiatan ENJ 2015 akan dilakukan pada bulan Juni – Juli 2015, melibatkan 86 kapal perintis dan 1 KRI, menyinggahi 540 pelabuhan di 22 propinsi, total pelayaran sebanyak 234.000 km dengan lebih dari 6000 peserta.
Berbagai kegiatan dalam Ekspedisi Nusantara Jaya diantara adalah sebagai berikut : Optimalisasi akses kapal-kapal perintis dengan pulau-pulau terluar dan terpencil; Mobilisasi berbagai bahan kontak pemerintah maupun BUMN, ORMAS, SWASTA, bagi pemerintah daerah atau masyarakat di pulau-pulau terluar, terpencil maupun di wilayah perbatasan; Pelatihan keterampilan, penguatan wawasan kebangsaan dan jiwa bela negara bagi generasi muda selama pelayaran dan di lokasi penyelenggaraan; Menyelenggarankan kegiatan pengobatan, penyuluhan dan hiburan oleh K/L dan Orsos; dan Pasar Murah yang menjual kebutuhan sehari-hari dengan harga murah yg dilakukan para Pedagang Keliling / BUMN termasuk Penukaran uang yang sudah tidak layak edar oleh Bank Indonesia.

Program Tol Laut Yang Menjanjikan

Pada zaman baheula jalur sutra nusantara itu sejatinya sudah berkembang sejak zaman Sriwijaya dan Majapahit, kala itu saudagar dari Gujarat dan semenanjung Arab masuk ke nusantara lewat kepulauan Andaman – pulau wee atau Sabang-terus ke Lamuri (Aceh Besar). Dari Lamuri mereka bisa lewat jalur selatan lewat pulau Simeuleu-Barus-Padang terus ke selat Sunda. Dari sini mereka bisa langsung ke Sunda Kelapa (Batavia) dan bisa juga ke pesisir utara pulau jawa lewat Kediri (Kahuripan)-Bali-Bima-Banggai-terus ke kepulauan Maluku, pada waktu itu Maluku sebagai pusat perdagangan rempah-rempah. Mereka bisa juga dari Sabang-Lamuri-Perlak-Kedah-Indragiri-Jambi-Sriwijaya (Palembang) mereka juga bisa terus ke Sunda Kelapa ( Batavia).
Jalur perdagangan atau jalur sutra nusantara masa kejayaan Sriwijaya dan Majapahit itu, kini seolah tidak berbekas. Pembangunan Nusantara seolah membelakangi laut dan lautan. Hal ini terlihat dari terus berkembangnya jalur pelayaran Cargo internasional yang masih memanfaatkan jalur sutra masa lalu-misalnya bisa kita lihat dengan jelas. Jalur cargo internasional (transhipment) dari India dan semenanjung Arab melewati Sabang-terus ke jalur selatan-lewat Simeuleu-Sibolga-Pdang dan terus selat Sunda-Jakarta-terus ke A jalur ALKI I di laut Sulawesi-terus ke Tawau (Sebatik) dan terus ke Hongkong-Jepang –USA. Jalur lainnya lewat Sabang mereka masuk ke selat Malaka dan terus ke Johor atau Singapura dan kemudian masuk ke jalur ALKI II terus ke kepulauan Riau-Kepulauan Natuna-Taiwan-Hongkong-Jepang dan USA. Apa yang terjadi? Mereka memang melewati laut Nusantara tetapi tidak pernah berhenti atau “isi ulang keperluan logistik”nya di pelabuhan-pelabuhan Indonesia. Karena memang pelabuhan kita tidak memenuhi standar internasional yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Ibarat di jalan Tol kita sama sekali tidak punya “rest area”.
Dari dahulu kesadaran akan vitalnya selat Malaka dan besarnya potensi ekonomi yang lewat di jalur targo tersebut sudah ada, tetapi dalam aksinya tidak ada yang sungguh-sungguh ingin mengembangkan fasilitas atau sarana kepelabuhanan yang bertaraf internasional di sekitar jalur tersebut. Padahal kita mempunyai gugusan atau rangkaian pulau-pulau terluat di jalur tersebut. Misalnya, untuk gugusan di rangkaian Pulau Wee, Sabang terdapat tujuh pulau di sana yakni, Pulau Rondo, Berhala, Salaut Besar, Salaut Kecil, Rusa, Raya, dan Simeulucut. Kemudian gugusan di rangkaian Kepulauan Riau, pulau Batam ada sebanyak 19 pulau yakni, Pulau Sentut, Tokong Malang Biru, Damar, Mangkai, Tokong Nanas, Tokong Belayar, Tokong Boro, Semiun, Sebetul, Sekatung, Senua, Subi Kecil, Kepala, Iyu Kecil, Karimun Kecil, Nipah, Pelampong, Batu Berhanti, dan pulau Nongsa. Sungguh kalau melihat fakta ini, pemerintah kita itu sepertinya “idiot” banget. Keamanan Selat Malaka dibela mati-matian tetapi yang panen malah tetangga. Semoga yang sekarang mau sadar dan berbenah diri.

x

Download Panduan Buat Blog WordPress

Caranya Mudah Masukkan Nama dan Email Anda dan akan di tuntun Down Load...